JagoSatu.com - Pentingnya backup data itu udah kayak kaset rusak, diulang-ulang terus. Ini adalah aturan paling fundamental dalam dunia komputasi, tapi anehnya paling sering disepelekan oleh banyak orang.
Pemerintah Korea Selatan baru saja kena batunya. Gimana enggak, data sebesar 858 terabyte lenyap total akibat kebakaran data center. Paling parahnya? Nol backup! Sama sekali tidak ada cadangan.
Dilansir oleh Tom's Hardware, insiden ini disebabkan kebakaran baterai yang melumpuhkan 96 sistem pemerintah. Untungnya, 95 sistem di antaranya masih punya cadangan data yang aman.
Satu sistem yang apes itu bernama G-Drive, platform berbagi dokumen internal. Akibatnya, data selama delapan tahun hilang begitu saja. Nggak kebayang, kan, betapa kacaunya situasi ini?
Dampaknya pun nggak main-main. Sekitar 17% pejabat pemerintah pusat kehilangan data krusial mereka. Bahkan layanan darurat nasional 119 sempat tidak berfungsi akibat insiden ini.
Bukan cuma soal kerjaan, ini sudah menyangkut masalah keamanan publik yang serius. Bayangkan jika layanan darurat lumpuh total dalam waktu yang lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.
Alasan resminya? Dilansir dari Tom's Hardware, karena kapasitas G-Drive yang mencapai 858 TB dianggap "terlalu besar untuk di-backup". Ini alasan paling konyol yang pernah ada.
Padahal 858 terabyte itu angka kecil untuk skala data center modern. Apalagi ini Korea Selatan, markasnya Samsung, masa sih mereka nggak paham soal kapasitas penyimpanan data?
Alasan sebenarnya jauh lebih simpel: ada yang nggak mau bayar biaya backup-nya. Masalah duit yang dibungkus alasan teknis, ini sih nggak bisa dimaafkan oleh siapapun.
Keteledoran ini juga cerminan bahaya pola pikir "kan ada cloud". Padahal, cloud bukan backup otomatis. Kalau data tidak di tanganmu, itu bukan backup namanya.
Ironisnya, G-Drive adalah platform berbagi dokumen tempat pegawai menyimpan data mereka. Justru sistem-sistem yang lebih jadul malah selamat karena datanya terpisah secara fisik.
Dikutip dari Tom's Hardware, seorang profesional TI bilang 858 TB itu "jumlah yang sangat bisa diatur". Backup seharusnya ada di lokasi lain sebagai bagian dari biaya operasional.
Kejadian ini membuktikan sentralisasi data cuma berhasil jika tim TI-nya kompeten. Tanpa rencana matang, satu titik kegagalan bisa berakibat fatal dan menguras kantong.
Tragisnya, insiden ini memakan korban jiwa. Seorang pegawai yang mengawasi pemulihan data dilaporkan bunuh diri, menjadi pengingat pahit bahwa keteledoran ini punya konsekuensi nyata.
Intinya: Backup, backup, dan backup! Jika tim TI bilang data 'terlalu besar untuk di-backup', mungkin saatnya cari tim TI baru. Nah, menurut kalian, siapa yang paling salah dalam kasus ini? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung