Jagosatu.com – Netflix baru saja mengumumkan langkah besar mereka untuk menggunakan teknologi kecerdasan buatan generatif, atau generative AI, dalam proses pembuatan film dan serial.
Langkah ini langsung bikin heboh dunia hiburan karena banyak yang bertanya-tanya: apakah teknologi ini akan membantu atau justru menggantikan para pekerja kreatif?
Generative AI adalah jenis kecerdasan buatan yang bisa menciptakan sesuatu baru, seperti gambar, musik, atau bahkan naskah cerita, dengan belajar dari data yang sudah ada.
Menurut TechCrunch, Netflix menyebut bahwa mereka “very well positioned to effectively leverage ongoing AI advances”, artinya mereka siap banget untuk memanfaatkan perkembangan AI dalam bisnis hiburan.
Netflix sudah mulai menggunakan AI di beberapa proyek mereka, seperti di serial Argentina The Eternaut, untuk menciptakan adegan runtuhnya bangunan yang sulit dilakukan secara manual.
Selain itu, di film Happy Gilmore 2, teknologi AI dipakai untuk membuat efek de-aging, yaitu memudarkan usia karakter supaya terlihat lebih muda.
Bahkan di serial Billionaires’ Bunker, AI digunakan untuk membantu desain set dan kostum sebelum syuting dimulai.
Menurut Business Insider, CEO Netflix Ted Sarandos menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti manusia.
Baca Juga: Waduh! Fitur AI Facebook Bisa Intip SEMUA Foto di Galerimu!
Ia bilang, “AI bisa bantu mempercepat kerja kreatif, tapi tidak akan menggantikan cerita hebat yang lahir dari manusia sejati.”
Namun, langkah Netflix ini tetap memicu perdebatan besar di industri hiburan, terutama dari para seniman dan pekerja kreatif.
Banyak yang khawatir bahwa jika AI bisa membuat gambar, dialog, dan musik dengan cepat, maka pekerjaan manusia di bidang seni bisa berkurang.
Sebagian animator dan penulis naskah bahkan mulai menuntut aturan baru agar karya mereka tidak digunakan untuk melatih model AI tanpa izin.
Dilansir dari Rude Baguette, industri hiburan saat ini “terbelah” antara yang mendukung dan yang menentang penggunaan AI dalam produksi film.
Pihak yang mendukung percaya AI bisa membuat produksi lebih cepat, hemat, dan membuka ide baru yang belum pernah terpikirkan.
Sementara pihak yang menentang takut kalau cerita dan karakter di masa depan jadi terasa “dingin” karena dibuat oleh mesin, bukan oleh perasaan manusia.
Netflix mencoba menenangkan semua pihak dengan mengatakan bahwa mereka tetap akan mengutamakan “kreativitas manusia” di setiap proyek.
Sarandos menambahkan bahwa Netflix sudah menggunakan AI selama lebih dari 15 tahun, misalnya untuk rekomendasi tontonan, dan sekarang mereka memperluasnya ke pembuatan konten.
Ia percaya, kombinasi antara manusia dan AI bisa menciptakan hasil terbaik selama dipakai secara etis dan transparan.
Meski begitu, masih banyak yang menilai bahwa langkah ini bisa menjadi “awal dari pergeseran besar” di dunia perfilman global.
Kalau Netflix sukses menggabungkan AI dan manusia tanpa menurunkan kualitas cerita, mungkin studio lain akan ikut melakukan hal yang sama.
Tapi jika hasilnya malah terasa aneh dan kehilangan “jiwa”, bisa jadi penonton akan kehilangan kepercayaan pada konten buatan AI.
Kini, semua mata tertuju pada Netflix untuk melihat apakah langkah berani mereka benar-benar membawa masa depan hiburan ke level baru — atau malah membuat para kreator kehilangan tempatnya di dunia seni.
(KT)
Editor : ALengkong