JagoSatu.com - HP dan Dell bikin kebijakan aneh: fitur decoding hardware HEVC/H.265 dimatikan di laptop baru, padahal CPU-nya mampu. Ini jelas langkah penghematan yang mengorbankan kenyamanan pengguna.
Padahal, laptop dengan Intel Core generasi ke-6 ke atas dan chip AMD terbaru sudah punya dukungan HEVC. Anehnya, pemilik HP ProBook dan laptop Dell baru justru kesulitan memutar video.
Dilansir oleh Ars Technica, HP bahkan secara terbuka mengakuinya di lembar data produk. Mereka bilang fitur ini sengaja "dinonaktifkan". Jujur sih, tapi tetap saja menyebalkan bagi konsumen.
Akibatnya? Browser jadi tidak bisa memutar video HEVC dan akhirnya hanya buffering. Laptop modern yang gagal memutar video, sementara perangkat lawas lancar jaya, tentu jadi pemandangan yang aneh.
Satu-satunya solusi bagi pengguna adalah menonaktifkan akselerasi hardware di browser. Sayangnya, ini menurunkan kualitas fitur lain, seperti efek background blur di aplikasi video conference.
Dilaporkan oleh Ars Technica, pengguna laptop Dell juga mengalami masalah serupa. Parahnya, Dell tidak transparan dan seringkali menyembunyikan informasi ini, sebuah praktik yang jelas merugikan konsumen.
Halaman dukungan Dell malah memberikan syarat aneh, seperti harus punya kartu grafis diskrit atau layar 4K. Mereka seolah membuat fitur standar ini menjadi tambahan yang mahal.
Saat dimintai komentar, perwakilan HP dan Dell bungkam soal alasan di balik kebijakan ini. Sikap diam mereka semakin menguatkan dugaan bahwa motif utamanya adalah masalah finansial.
Dilaporkan oleh Ars Technica, kemungkinan besar alasannya adalah biaya lisensi HEVC. OEM harus membayar royalti untuk setiap unit laptop yang terjual, dan biayanya terus meningkat.
Sebagai gambaran, HP dan Dell menjual gabungan lebih dari 25 juta laptop dan PC pada Q3 2025. Kenaikan beberapa sen per unit bisa berarti kerugian jutaan dolar bagi mereka.
Access Advance mengumumkan kenaikan tarif royalti HEVC mulai Januari 2026. Biayanya naik dari $0,20 menjadi $0,24 per unit. Kenaikan 20% ini sepertinya membuat HP dan Dell ketar-ketir.
Dikutip oleh Ars Technica, ironisnya produsen NAS Synology justru menghentikan dukungan HEVC karena menganggapnya sudah umum di perangkat pengguna. Ini menyoroti betapa konyolnya langkah HP dan Dell.
Menghilangkan fitur yang sudah ada bertahun-tahun jelas membingungkan dan membuat frustrasi. Hal ini justru menciptakan masalah baru dan menurunkan kualitas pengalaman "Pro" yang mereka janjikan.
Seperti yang dikeluhkan pengguna Reddit, laptop ini masuk lini "Pro" dengan harga di atas $800. Menjual mahal sambil sengaja menyunat fitur penting jelas tidak bisa diterima.
Ini adalah contoh nyata bagaimana penghematan kecil perusahaan bisa merusak pengalaman pengguna. HP dan Dell seolah tak peduli dengan konsumen yang sudah membayar penuh. Bagaimana menurut kalian? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung