JagoSatu.com - Sebuah startup bernama Preventive sedang mengerjakan proyek bioteknologi paling kontroversial: mengedit embrio manusia untuk menghilangkan penyakit genetik. Langkah ini dianggap penuh dengan ranjau etika yang sangat kompleks.
Tujuan mereka adalah membuktikan teknologi edit gen bisa dipakai secara aman dan bertanggung jawab untuk memperbaiki kondisi genetik. Namun, kata "aman" di sini punya standar yang luar biasa tinggi.
Proyek kontroversial ini ternyata didukung nama besar seperti Sam Altman dari OpenAI. Dana yang digelontorkan kabarnya mencapai hampir $30 juta, menunjukkan tren investasi teknologi ke proyek bioteknologi berisiko tinggi.
Namun, kalangan industri bioteknologi sendiri justru skeptis. Mereka menyebut edit embrio bukan target pengobatan yang dicari karena dianggap tidak akan menguntungkan secara bisnis maupun praktis.
Tantangan terbesarnya adalah "mosaikisme", di mana alat edit CRISPR tetap aktif dan menciptakan campuran sel acak. Akibatnya, proses yang seharusnya presisi ini malah jadi seperti lotere genetik.
Menurut Hank Greely dari Stanford, riset ini hanya bisa dilakukan pada embrio di cawan petri selama 14 hari karena batasan etika internasional, seperti dikutip dari wawancara KTVU.
Regulasi global juga sangat menentang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyatakan bahwa melanjutkan penggunaan klinis teknologi ini pada manusia adalah tindakan yang "tidak bertanggung jawab".
Debat etisnya pun sangat panas. Kritikus khawatir ini adalah bentuk eugenika modern yang berisiko merendahkan nilai para penyandang disabilitas dengan mencoba menghapus kondisi mereka dari generasi mendatang.
Pendiri startup, Harrington, berjanji tidak akan melanjutkan jika keamanannya tidak terjamin. Namun, Profesor Greely menegaskan bahwa keamanan harus diverifikasi oleh regulator eksternal, bukan oleh mereka sendiri.
Padahal, teknologi CRISPR sendiri sudah sukses dipakai untuk terapi somatik seperti Casgevy. Metode ini mengedit sel pasien tanpa mengubah gen yang akan diwariskan ke generasi berikutnya.
Lagi pula, apakah metode ini benar-benar dibutuhkan? Untuk banyak penyakit, teknologi bayi tabung (IVF) yang ada saat ini sudah bisa menyaring dan memilih embrio yang sehat tanpa perlu diedit.
Di Amerika Serikat sendiri, jalan mereka terhalang tembok hukum. FDA dilarang oleh Kongres untuk meninjau uji klinis apa pun yang melibatkan modifikasi genetik yang dapat diwariskan.
Namun, Inggris memberikan contoh berbeda. Mereka berhasil membuat kerangka hukum yang ketat untuk prosedur "bayi tiga orang", membuktikan bahwa regulasi yang bertanggung jawab untuk hal ini bisa saja dibuat.
Soal ketakutan akan munculnya "bayi super" hasil rekayasa, Greely menyebut kita masih sangat jauh dari sana. Menurutnya, itu hanyalah distraksi dari isu etika nyata yang kita hadapi sekarang.
Harrington yakin, "jika terbukti aman," teknologinya bisa jadi salah satu yang terpenting abad ini. Tapi, kata "jika" itu adalah pertaruhan terbesar. Nah, menurut kalian, apakah 'jika' ini bisa terwujud? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung