Jagosatu.com - Sekarang ini, semua orang sibuk ngobrolin soal AI atau Kecerdasan Buatan yang lagi heboh banget.
AI itu gampangnya adalah program komputer yang bisa mikir dan belajar seperti manusia, bahkan bisa bikin karya seni atau musik sendiri.
Bos besar Google, namanya Sundar Pichai, baru-baru ini kasih peringatan keras soal yang dia sebut "AI Bubble" atau Gelembung AI.
Gelembung AI ini maksudnya adalah keadaan di mana nilai perusahaan-perusahaan AI sudah terlalu tinggi dan tidak masuk akal, mirip seperti gelembung yang siap pecah kapan saja.
Menurut Sundar Pichai, dilansir dari Kompas Tekno dan beberapa media lain, tidak ada satu pun perusahaan yang akan aman kalau gelembung ini benar-benar pecah.
Peringatan ini penting karena banyak banget dana raksasa yang masuk ke perusahaan teknologi AI akhir-akhir ini.
Di sisi lain, kemampuan AI sudah makin gila-gilaan, terutama yang namanya AI Generatif.
AI Generatif adalah jenis AI yang bisa menciptakan konten baru yang belum pernah ada sebelumnya, seperti gambar, tulisan, atau kode program, dilansir dari CODEPOLITAN.
Ada prediksi kuat bahwa AI Generatif ini sebentar lagi bisa melampaui kreativitas yang dimiliki oleh manusia.
Maksudnya melampaui itu, hasil karya AI bisa jadi lebih unik, lebih bagus, atau bahkan lebih cepat dihasilkan daripada yang dibuat seniman manusia.
Contohnya, AI bisa menggubah musik orisinal dalam hitungan detik tanpa perlu belajar teori musik bertahun-tahun.
Lalu, ada lagi alat yang namanya AI Copilot yang fungsinya seperti asisten super di tempat kerja.
Copilot ini bisa bantu kita nulis email, bikin presentasi, bahkan coding (membuat kode program) untuk aplikasi.
Menurut penelitian tentang alat seperti Copilot, dilansir dari BINAR, alat ini bisa meningkatkan efisiensi kerja sampai angka 40%.
Efisiensi 40% ini artinya, kalau biasanya kita butuh 10 jam buat ngerjain sesuatu, pakai Copilot kita cuma perlu 6 jam saja, sisa 4 jam bisa buat main game atau belajar hal lain.
Bayangkan saja kalau tugas bikin laporan yang biasanya makan waktu seharian, sekarang cuma butuh setengah hari beres.
Bahkan ada studi tentang GitHub Copilot—sebuah Copilot untuk developer—yang menyebutkan pekerja bisa menyelesaikan tugas 55% lebih cepat (dilansir dari BINUS Digital).
Tentu saja, peningkatan drastis ini bikin banyak orang khawatir, jangan-jangan nanti semua pekerjaan diambil alih oleh robot.
Melihat perkembangan yang secepat kilat ini, pemerintah Indonesia juga tidak tinggal diam.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sedang menyiapkan yang namanya Peta Jalan AI Indonesia.
Peta Jalan ini adalah rencana besar dan panduan lengkap tentang bagaimana negara kita akan mengembangkan, menggunakan, dan mengatur teknologi AI.
Tujuannya, seperti yang diungkapkan oleh Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria, adalah agar Indonesia tidak hanya jadi penonton tapi juga ikut menguasai teknologi ini (dilansir dari CNN Indonesia).
Peta Jalan AI ini akan menjadi dasar bagi kementerian dan lembaga lain untuk memastikan pengembangan AI di Indonesia tetap aman, inklusif, dan berdaulat.
Istilah berdaulat di sini artinya kita punya kontrol penuh atas teknologi AI yang kita pakai dan kembangkan di negara sendiri.
Intinya, di satu sisi kita punya peringatan bahaya dari Bos Google soal gelembung ekonomi AI.
Di sisi lain, kita melihat bukti nyata bahwa AI, terutama Copilot, bisa bikin kita kerja jauh lebih cepat.
Baca Juga: Ekonomi Dunia Melambat, Asia-Pasifik Jadi Penyelamat — Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?
Ditambah lagi, kreativitas yang dulu jadi "benteng terakhir" manusia, kini mulai digerogoti oleh AI Generatif.
Semua ini menegaskan bahwa kita harus cepat belajar dan beradaptasi agar tidak tertinggal dan digantikan oleh mesin.
Bagi anak-anak SMP yang sedang tumbuh, menguasai AI bukan lagi pilihan, tapi kewajiban mutlak untuk masa depan.
Belajarlah prompt engineering, yaitu cara memberikan perintah yang cerdas kepada AI agar menghasilkan output terbaik.
Tugas Anda bukan bersaing dengan AI dalam hal kecepatan, tapi dalam hal memberikan arahan dan nilai kemanusiaan.
Perubahan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang cara kita hidup dan mencari rezeki.
Pemerintah serius, perusahaan besar takut, dan kita sebagai pengguna harus paling siap menghadapi era ini.
(DB)
Editor : Toar Rotulung