Jagosatu.com - Israel telah menjadi salah satu pelopor dalam penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam bidang pertahanan dan pertempuran.
Penggunaan AI oleh Israel dalam konteks perang telah mengubah lanskap konflik bersenjata, menghadirkan tantangan baru sekaligus peluang untuk meningkatkan efektivitas operasi militer.
Berikut adalah beberapa fakta terkait penggunaan AI oleh Israel dalam perang:
1. Drone Swarm yang Dikendalikan oleh AI
Israel telah menggunakan "drone swarm" yang sepenuhnya dikendalikan oleh AI dalam pertempuran.
Drone swarm ini merupakan entitas jaringan yang tidak dikendalikan oleh operator manusia.
Mereka dioperasikan oleh kecerdasan buatan (AI) dan dapat melanjutkan misi mereka bahkan jika beberapa drone mengalami kerusakan selama misi.
Sistem pembelajaran mesin diberi data dari satelit, drone pengintai lainnya, kendaraan udara, serta intel yang dikumpulkan oleh unit darat.
2. AI dalam Identifikasi Lokasi dan Perencanaan Serangan
Israel telah menggunakan AI dan superkomputer untuk mengidentifikasi lokasi aktivitas Hamas dan merencanakan serangan untuk menghilangkan keuntungan strategis lawan.
Unit 8200, bagian dari Israel’s Intelligence Corps, mengembangkan algoritma menggunakan data intelijen geografis, sinyal, dan manusia untuk mengidentifikasi titik serangan strategis.
3. Lavender System dalam Seleksi Target
IDF telah mengembangkan program yang didukung oleh AI yang disebut Lavender untuk memilih target serangan militer.
Sistem ini menganalisis data yang dikumpulkan melalui surveilans massal terhadap penduduk Gaza dan menilai kemungkinan keterlibatan mereka dalam sayap militer Hamas atau Jihad Islam Palestina (PIJ).
Lavender belajar mengidentifikasi ciri-ciri dari operator Hamas dan PIJ yang sudah dikenal dan kemudian mencari ciri-ciri serupa di antara populasi umum.
Individu dengan beberapa ciri mencurigakan diberi peringkat lebih tinggi sebagai target potensial untuk serangan.
4. Kritik terhadap Penggunaan AI
Meskipun AI memberikan keuntungan dalam pengambilan keputusan dan perencanaan serangan, penggunaannya oleh Israel dalam perang juga menuai kritik.
Terutama terkait dengan potensi korban sipil, kurangnya verifikasi manusia dalam proses pemilihan target, tingkat kesalahan yang signifikan dalam identifikasi target, serta pertanyaan etis dan hukum seputar penggunaan AI dalam perang.
Penggunaan kecerdasan buatan oleh Israel dalam perang menimbulkan diskusi yang mendalam tentang etika, keamanan, dan dampaknya terhadap warga sipil.
Sementara teknologi ini memberikan potensi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasi militer, penting untuk mengawasi penggunaannya dengan hati-hati untuk memastikan bahwa risiko terhadap manusia yang tidak bersalah diminimalkan sebanyak mungkin.
Editor : ALengkong