JagoSatu.com - Satu lagi layanan Microsoft harus berakhir. Perusahaan raksasa ini secara resmi mengumumkan penutupan toko Film & TV di Microsoft Store. Efektif mulai 18 Juli, pengguna tidak akan bisa lagi membeli film atau serial TV baru melalui PC Windows maupun konsol Xbox mereka. Bagi banyak pengamat, langkah ini sebenarnya sudah bisa diprediksi, terutama setelah Microsoft mematikan layanan Groove Music pada tahun 2017. Ini seolah menegaskan pola yang konsisten, di mana layanan hiburan Microsoft untuk konsumen seringkali berakhir dengan kegagalan atau diabaikan begitu saja.
Meskipun halaman dukungan resmi Microsoft memastikan bahwa semua konten yang sudah dibeli tetap bisa diakses melalui aplikasi Film & TV, penutupan mendadak ini memicu kekecewaan besar. Seperti yang dilaporkan oleh Windows Central, banyak pelanggan setia merasa dikejutkan. Seorang pengguna dengan nama RubyTuez mengeluh karena mengetahui kabar ini lewat pesan di aplikasi Xbox "TANPA PEMBERITAHUAN APAPUN." Rasa frustrasi ini adalah tamparan bagi para pelanggan yang telah bertahun-tahun membangun koleksi digital mereka, dan langkah semacam ini jelas mengikis kepercayaan konsumen secara signifikan.
Keputusan ini sekaligus menandai akhir dari perjalanan Microsoft selama hampir dua dekade dalam menjual konten hiburan. Dimulai dari era Xbox Video dan Zune, perusahaan ini kini tampaknya secara perlahan meninggalkan semua lini bisnis hiburan, kecuali satu: video game. Hal ini sejalan dengan persepsi banyak pengguna, seperti yang diungkapkan oleh naddy69, bahwa Microsoft "BUKANLAH perusahaan produk konsumen." Fokus mereka terlihat jelas bergeser ke layanan yang digunakan oleh kalangan bisnis, yang mungkin menjelaskan mengapa layanan untuk konsumen umum seringkali tidak berumur panjang.
Bagi pengguna di Amerika Serikat, ada sedikit secercah harapan melalui layanan Movies Anywhere yang memungkinkan sinkronisasi konten ke platform lain. Namun, solusi ini tidak tersedia secara global, sehingga meninggalkan banyak pengguna internasional tanpa alternatif. Bahkan di AS, tidak semua konten kompatibel, seperti yang dikeluhkan oleh RubyTuez yang koleksi serial TV-nya tidak didukung. Situasi ini, seperti dikutip oleh Windows Central, menjadi contoh nyata mengapa banyak orang seperti Barcham enggan berinvestasi dalam "ekosistem tertutup" dan lebih memilih memiliki salinan yang bisa mereka kontrol sendiri.
Pada akhirnya, kasus ini kembali menegaskan betapa rapuhnya konsep 'kepemilikan' di era digital. Seperti yang diungkapkan oleh pengguna mcraffe2, "Tidak satu pun dari perusahaan-perusahaan ini yang benar-benar dapat dipercaya dalam jangka panjang." Penutupan ini menjadi pengingat pahit bahwa ketika kita tidak memiliki salinan fisik, kita sepenuhnya bergantung pada kebijakan perusahaan. Mungkin ini saatnya untuk kembali melirik koleksi DVD lama kita.
Nah, bagaimana menurut kalian? Apakah kalian masih percaya dengan konsep kepemilikan digital setelah kejadian seperti ini, atau tim media fisik tetap jadi juaranya? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung