Jagosatu.com - Menstruasi merupakan hal alami yang dialami setiap remaja putri.
Namun, bagi sebagian besar, masa ini sering disertai rasa nyeri yang disebut dismenore.
Dismenore dikenal sebagai kram atau sakit di bagian perut bawah saat menstruasi.
Nyeri ini bisa membuat penderitanya sulit beraktivitas normal.
Sebuah penelitian di Universitas Klabat (UNKLAB) menemukan bahwa stres ternyata berhubungan langsung dengan dismenore.
Penelitian dilakukan oleh Fakultas Keperawatan UNKLAB dengan melibatkan 72 responden mahasiswi asrama Jasmine.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 26,4% responden mengalami stres ringan, 26,4% stres sedang, dan 16,7% stres berat.
Baca Juga: Trend Rambut 2025! Textured Bob Jadi Andalan Wanita Muda di Seluruh Dunia
Sementara itu, 48,6% mahasiswi mengalami dismenore dengan nyeri sedang, 29,2% nyeri ringan, dan 18,1% nyeri berat.
Ada juga 4,2% responden yang merasakan nyeri sangat parah hingga sulit ditahan.
Analisis data menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dengan nyeri haid.
Semakin tinggi tingkat stres yang dialami, semakin tinggi pula nyeri yang dirasakan saat menstruasi.
Hal ini terjadi karena stres dapat meningkatkan hormon prostaglandin.
Prostaglandin merangsang kontraksi otot rahim sehingga menyebabkan rasa sakit.
Faktor penyebab stres pada mahasiswi sendiri beragam, mulai dari tugas kuliah, tekanan akademik, hingga masalah pribadi.
Beberapa responden mengaku stres karena tugas kuliah yang menumpuk dan perubahan sistem belajar selama pandemi.
Meski demikian, sebagian mahasiswi bisa mengatasi stres dengan mencari dukungan dari keluarga dan melakukan hobi.
Hal itu yang membuat sebagian besar hanya mengalami stres ringan dan sedang.
Dismenore yang dialami tidak hanya menimbulkan sakit fisik, tapi juga bisa mengganggu konsentrasi belajar.
Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya izin kuliah atau kehilangan fokus saat di kelas.
Penelitian menyarankan mahasiswa untuk bisa mengatur waktu istirahat dan aktivitas agar stres dapat dikendalikan.
Selain itu, penelitian juga merekomendasikan penelitian lanjutan dengan variabel lain seperti usia menarche atau riwayat keluarga.
Harapannya, semakin banyak faktor yang diteliti, semakin mudah mencari solusi untuk mengurangi dismenore.
(ed)
Editor : Priska Watung