Jagosatu.com - Di era digital, mencari guru les tak lagi harus lewat rekomendasi teman.
Kini, mahasiswa Universitas Klabat menghadirkan solusi cerdas bernama PriLearn, aplikasi yang menghubungkan tutor dan siswa hanya lewat ponsel.
Aplikasi ini dirancang dengan pendekatan Design Thinking, sebuah metode yang berfokus pada kebutuhan pengguna.
Menurut penelitian dari COGITO Smart Journal (Desember 2024), inovasi ini dikembangkan oleh Joe Yuan Mambu, Junior Lakat, dan George Morris William Tangka dari Universitas Klabat, Airmadidi.
Mereka menyoroti persoalan klasik di Manado: sulitnya siswa mencari guru privat yang terjangkau dan sesuai kebutuhan.
Sebaliknya, banyak tutor yang kesulitan memasarkan diri dan membangun kepercayaan dengan calon siswa.
“Masalah ini sering bikin kedua pihak saling tidak bertemu,” tulis tim peneliti dalam jurnal yang diterbitkan COGITO Smart Journal – Vol.10, No.2, 2024.
Untuk menjembatani itu, mereka merancang aplikasi yang memungkinkan siswa mencari tutor berdasarkan lokasi terdekat, jadwal fleksibel, dan sistem rating terbuka.
Tahapan pengembangannya melewati lima fase Design Thinking: Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test.
Fase awal berfokus memahami kebutuhan pengguna lewat wawancara langsung dengan siswa dan tutor di Manado.
Ditemukan tiga masalah utama: sulitnya penjadwalan, isu kepercayaan, dan keterbatasan geografis.
Baca Juga: UNKLAB MENELITI! Musik dan Kecerdasan Emosional: Apa Hubungannya?
Dari situ, tim membuat konsep aplikasi dengan fitur unggulan seperti pencarian tutor via peta (map-based search) dan sistem pengingat jadwal otomatis.
Mereka juga menambahkan fitur promosi bagi tutor serta kolom ulasan bagi siswa untuk membangun kepercayaan.
Prototipe aplikasi dibuat menggunakan Figma dan diuji pada empat skenario penggunaan nyata.
Hasilnya menarik: fitur notifikasi guru piano mencatat skor kegunaan sempurna (100), dengan waktu penyelesaian tugas hanya 2 detik dan tanpa kesalahan klik.
Namun, fitur pengecekan jadwal masih perlu diperbaiki karena memiliki tingkat kesalahan 25 persen dan skor kegunaan 80.
Tim peneliti menilai bahwa meskipun aplikasi sudah efisien, masih ada ruang perbaikan terutama dalam navigasi dan tampilan notifikasi.
Temuan ini memperlihatkan bagaimana pendekatan Design Thinking efektif dalam merancang aplikasi berbasis kebutuhan lokal.
“PriLearn bukan hanya aplikasi, tapi jembatan untuk pemerataan akses belajar di daerah,” ujar Mambu dalam laporan riset tersebut.
Dengan tampilan sederhana dan fitur praktis, aplikasi ini diharapkan membantu siswa menemukan tutor berkualitas tanpa ribet.
Lebih dari itu, penelitian ini membuka peluang besar bagi inovasi pendidikan digital di Sulawesi Utara.
Jika dikembangkan lebih lanjut, PriLearn bisa jadi pionir platform edukasi berbasis komunitas dari timur Indonesia.
(Chg)
Editor : ALengkong