Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Bisa Bedakan Suara Asli dan Buatan AI? Ilmuwan Temukan Teknologi Canggih untuk Deteksi Deepfake!

ALengkong • 2025-11-11 13:08:29

Photo
Photo

Jagosatu.com - Dunia digital makin canggih, tapi juga makin berbahaya karena kemunculan teknologi suara palsu alias audio deepfake.

Deepfake adalah istilah untuk konten palsu yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) sehingga terlihat atau terdengar seperti asli.

Kalau video deepfake membuat wajah orang bisa “dipinjam”, maka audio deepfake membuat suara seseorang bisa ditiru dengan sangat nyata.

Kini, peneliti dari CSIRO, Federation University Australia, dan RMIT University berhasil menemukan cara baru untuk mendeteksi suara palsu buatan AI.

Teknologi itu dinamakan RAIS atau Rehearsal with Auxiliary-Informed Sampling.

Menurut laman resmi CSIRO, RAIS bisa mengenali apakah klip suara adalah hasil rekayasa digital atau benar-benar suara manusia asli.

Yang keren, sistem ini tetap bisa bekerja meskipun jenis serangan deepfake terus berkembang dan berubah dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Grok Imagine Mengubah Gambar Jadi Video, Musk Coba Dulu – Ini Reaksi Brutalnya

Dilansir dari CSIRO.au, RAIS menggunakan teknik pembelajaran mesin (machine learning) yang meniru cara otak manusia belajar membedakan pola suara.

Metode ini melatih AI untuk memahami karakteristik unik suara asli, seperti getaran, tempo, dan pola frekuensi kecil yang sulit ditiru komputer.

Menurut tim peneliti, hasil uji menunjukkan RAIS mampu mendeteksi deepfake audio dengan tingkat akurasi yang jauh lebih tinggi dibanding teknologi lama.

Selama ini, ancaman audio deepfake menjadi masalah besar karena sering digunakan untuk penipuan suara, pencurian identitas, bahkan propaganda digital.

Misalnya, ada kasus di mana pelaku kejahatan meniru suara atasan perusahaan untuk memerintahkan transfer uang.

Teknologi ini juga bisa membahayakan sistem keamanan yang menggunakan verifikasi suara, seperti voice biometric authentication.

Karena itu, penemuan RAIS dianggap langkah penting untuk menjaga keamanan digital dan keaslian identitas di dunia online.

Menurut CSIRO, tantangan utama dalam deteksi deepfake adalah kecepatan perkembangan teknologi generatif AI itu sendiri.

Model baru bisa menghasilkan suara yang makin realistis, sampai-sampai telinga manusia sulit membedakannya.

RAIS hadir untuk menutup celah tersebut dengan cara melatih model agar belajar dari variasi data suara yang lebih luas.

Sistem ini juga bisa “beradaptasi” dengan jenis manipulasi baru tanpa harus dilatih ulang dari awal.

Para peneliti berharap RAIS bisa segera diimplementasikan pada platform komunikasi besar seperti WhatsApp, Zoom, atau Google Meet.

Jika diterapkan, masyarakat bisa lebih aman saat menerima panggilan suara dari orang tak dikenal.

Selain itu, lembaga keuangan dan pemerintahan juga bisa memanfaatkan sistem ini untuk mencegah penyalahgunaan suara pejabat publik.

Penemuan ini menunjukkan bahwa teknologi AI bukan hanya bisa menciptakan deepfake, tapi juga bisa menjadi solusi untuk melawannya.

Dengan cara ini, masa depan dunia digital bisa menjadi tempat yang lebih aman dan terpercaya bagi semua orang.

(J)

Editor : ALengkong
#Inovasi #KeamananDigital #CSIRO #Deepfake #Teknologi