Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Pengguna Marah, Developer Pergi: Mampukah Microsoft Selamatkan Windows 11?

Toar Rotulung • 2025-11-20 01:00:00
Ilustrasi Fitur AI di Windows
Ilustrasi Fitur AI di Windows

JagoSatu.com - Petinggi Microsoft, Pavan Davuluri, akhirnya buka suara soal kritikan pedas terhadap konsep "agentic OS". Langkah ini terpaksa diambil setelah reaksi negatif publik yang makin besar dan membuat Microsoft terkesan cuek.

Lewat akun X miliknya, Davuluri mengklaim telah membaca semua masukan terkait keandalan, performa, dan kemudahan penggunaan Windows 11. Meskipun bagus melihat petinggi mengakui masalah, aksi nyata tentu lebih ditunggu.

Ia secara khusus menyasar para developer. "Kami sangat peduli dengan developer... kami ingin developer memilih Windows," ujarnya, seperti dilansir oleh TechRadar. Microsoft jelas perlu kerja keras untuk merebut kembali kepercayaan mereka.

Masalahnya bukan cuma soal keandalan, tapi juga fitur-fitur baru yang seringkali bermasalah, seperti pada update 24H2. Filosofi "inovasi berkelanjutan" Microsoft tampaknya perlu diubah menjadi "inovasi yang matang teruji."

Parahnya lagi, demo Microsoft untuk fitur Copilot justru jadi bumerang. Dalam sebuah demo sederhana, fitur AI ini ditampilkan gagal total saat diminta melakukan tugas simpel: mengubah ukuran teks.

Dilaporkan oleh TechRadar, rekaman demo menunjukkan Copilot gagal memandu pengguna cara memperbesar teks. AI ini malah salah kaprah, menyamakan skala teks dengan skala keseluruhan antarmuka sistem operasi.

Lebih parahnya, AI tersebut menyarankan pengguna untuk memilih opsi skala yang sudah aktif. Bukannya membantu "seperti seorang profesional," Copilot malah membuat bingung dan sama sekali tidak membantu.

Davuluri untungnya mengakui bahwa Microsoft punya "pekerjaan rumah" soal kegunaan sehari-hari, dari dialog yang tidak konsisten hingga pengalaman pengguna. Sebuah pengakuan penting, meski butuh waktu bertahun-tahun untuk diucapkan.

Poin terbesar yang disinggung Davuluri adalah masalah utama Windows: dorongan agresif untuk layanan Microsoft. Pengalaman pengguna kini dipenuhi promosi terselubung untuk Edge, OneDrive, dan akun Microsoft.

Dilaporkan oleh TechRadar, pengguna mengeluhkan "aktivitas mirip iklan" ini sebagai bentuk tidak hormat. Pengguna merasa mereka sudah membayar untuk sebuah OS, bukan untuk menjadi target pemasaran terus-menerus.

Dikutip oleh TechRadar, seorang pengguna menyimpulkannya dengan sempurna: Windows 11 "seharusnya menjadi sistem operasi, bukan ekosistem." Filosofi inti inilah yang tampaknya diabaikan oleh Microsoft.

Analisis dalam artikel tersebut, yang dikutip TechRadar, menyebut kondisi Windows 11 saat ini "lebih fokus pada pengalaman Microsoft," bukan pengguna. Tingkat promosi seperti ini tidak bisa diterima pada OS berbayar.

Tujuan Microsoft jelas: mengubah Windows menjadi pintu masuk untuk langganan dan layanan mereka. AI dijadikan kunci utama untuk mengikat pengguna, meski berisiko menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangun puluhan tahun.

Jika Microsoft serius ingin developer memilih Windows, mereka harus memprioritaskan OS yang andal dan bersih dari gangguan. Pengalaman inti harus kokoh sebelum menambahkan fitur "agentic" yang canggih.

Pernyataan Davuluri adalah langkah awal yang baik. Tapi jika Microsoft tidak benar-benar berubah, kritik pedas akan terus berdatangan. Menurut kamu, apa langkah pertama yang harus diperbaiki Microsoft? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung
#buka suara #Konsep #Kritikan #pedas #publik #Microsoft #reaksi negatif #Petinggi #cuek