JagoSatu.com - Dunia AI lagi geger! Yann LeCun, kepala ilmuwan AI Meta, dilaporkan hengkang untuk mendirikan startup sendiri. Langkah ini menjadi sinyal perpecahan besar soal arah masa depan AI.
Kabarnya, keputusan ini dipicu oleh perombakan internal Meta yang memprioritaskan riset superintelijen. Arah baru ini disebut membuat riset jangka panjang LeCun jadi terpinggirkan.
Visinya adalah "model dunia", dilansir oleh Observer. Startup barunya akan fokus melatih AI untuk memahami dunia fisik secara nyata, bukan sekadar memproses teks buatan semata.
LeCun memang terkenal sangat kritis terhadap Model Bahasa Besar (LLM). Ia bahkan menyebut pendekatan yang dipakai OpenAI dan Meta saat ini sebagai sebuah "jalan buntu" menuju AI level manusia.
Menurutnya, mesin harus belajar seperti bayi: memahami konsep fisika seperti gravitasi terlebih dahulu, sebelum bisa mempelajari hal-hal rumit seperti filsafat. Logika yang sangat masuk akal.
Dilaporkan oleh Observer, ia yakin "model dunia" adalah kunci AI yang bisa bernalar dan memprediksi. Logikanya, AI yang tak paham gelas jatuh itu pecah, bukanlah kecerdasan sejati.
Langkah ini tidak mengejutkan. Ia pernah berkata, "Kita tak akan pernah mencapai AI level manusia hanya dengan melatihnya pakai teks." Sebuah sentilan keras untuk tren investasi AI saat ini.
Kepergiannya jadi pukulan telak lain bagi lab riset AI Meta (FAIR). Sebelumnya, mantan pemimpin FAIR, Joelle Pineau, juga pindah ke startup Cohere pada bulan April lalu.
Restrukturisasi Meta memang sangat agresif. Dilansir oleh Observer, mereka kini fokus pada satu tujuan ambisius: menciptakan superintelijen atau AI yang melampaui kemampuan manusia.
LeCun pun tidak sendirian dalam mengejar paradigma baru ini. Fei-Fei Li dari Stanford berhasil mengumpulkan $230 juta untuk startup serupa. Ini bukti visinya bukan main-main.
Para raksasa lain juga ikut meramaikan. Dikutip dari Observer, Google DeepMind punya proyek Genie dan Nvidia mendorong model Cosmos. Area ini dengan cepat menjadi medan perang baru.
Di bawah struktur baru, LeCun harus melapor pada Alexandr Wang, kepala divisi superintelijen Meta. Pergantian ini sepertinya menjadi akhir dari era pengaruh LeCun di Meta.
LeCun dilaporkan sedang mencari pendanaan awal. Dengan reputasinya yang mentereng, ia diprediksi tidak akan sulit mendapatkan suntikan dana besar, meski pandangannya berbeda dari tren pasar.
Ia bahkan sempat menyindir CEO lain dengan mengatakan, "Terlepas dari apa yang mungkin Anda dengar dari beberapa CEO yang terdengar lebih optimis... itu tidak akan terjadi."
Taruhan LeCun sangat besar: masa depan AI itu bersifat fisik, bukan hanya bahasa. Nah, menurut kalian, apakah visinya ini yang akan membentuk masa depan AI selanjutnya? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung