Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Konversi LPG ke DME Berpotensi Tekan Ketergantungan Impor

Pratama Karamoy • Rabu, 13 Mei 2026 | 15:44 WIB
SUMBER DAYA MELIMPAH: Hilirisasi batu bara membuka potensi lain seperti produksi DME sebagai alternatif LPG yang masih bergantung pasokan luar negeri. (MIND ID)
SUMBER DAYA MELIMPAH: Hilirisasi batu bara membuka potensi lain seperti produksi DME sebagai alternatif LPG yang masih bergantung pasokan luar negeri. (MIND ID)

 

SURABAYA – Hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) dinilai berpotensi menekan impor LPG yang selama ini membebani anggaran negara. Namun, proyek substitusi energi tersebut masih menghadapi tantangan besar, mulai dari tingginya biaya investasi hingga sensitif terhadap fluktuasi harga batu bara.

Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Iwa Garniwa menyebut, gasifikasi batu bara kalori rendah menjadi DME bisa menjadi alternatif LPG berbasis sumber daya domestik. Menurut dia, langkah tersebut dapat memperkuat keandalan pasokan energi rumah tangga di Indonesia.

Meski demikian, pengembangan DME dinilai belum akan kompetitif tanpa dukungan kebijakan pemerintah. "DME sangat sensitif terhadap harga batu bara dan capex gasifikasi itu tinggi. Jika harga batu bara di atas USD 60 per ton, DME tidak kompetitif tanpa subsidi," ujar Iwa kemarin (11/5).

Baca Juga: Pendapatan Telkom Turun, tapi Laba Tetap Terjaga

Saat ini sejumlah BUMN seperti MIND ID, Pertamina, Bukit Asam, dan Pertamina Patra Niaga mulai mendorong hilirisasi DME. Iwa menilai, proyek tersebut membutuhkan kepastian harga batu bara, stimulus fiskal, hingga reformasi subsidi energi agar harga jual DME dapat diterima masyarakat.

"Keberhasilannya bergantung pada konsistensi kebijakan lintas periode pemerintahan dan kemampuan mengelola transisi," ujarnya.

Pemerintah juga diminta menyiapkan peta jalan diversifikasi energi rumah tangga berbasis wilayah. Dengan skema itu, potensi substitusi LPG diperkirakan mencapai 4,5 juta ton hingga 6,5 juta ton per tahun atau setara 55–75 persen impor LPG nasional. (bil/gal)

Editor : Pratama Karamoy
#Ekonomi & Bisnis #DME #batu bara