Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

USD Tembus Rp 17.400, Kepercayaan Investor terhadap Fiskal Menurun

Pratama Karamoy • Kamis, 7 Mei 2026 | 13:20 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan dan menyentuh level terlemah sepanjang sejarah Rp 17.425 per USD pada penutupan perdagangan Selasa (5/5). Pemerintah menyebut, tekanan terhadap rupiah ini disebut dipengaruhi oleh faktor musiman hingga dinamika global. Tapi, ekonom menilai, pelemahan tersebut cerminan turunnya kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Pada Selasa malam, Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan jajaran otoritas ekonomi dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta. Seusai rapat, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa posisi rupiah saat ini sebenarnya lebih rendah dari nilai fundamentalnya. "Nilai tukar sekarang itu undervalued. Ke depan kita yakini akan stabil dan menguat," tuturnya. Perry menambahkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini tergolong kuat. Pertumbuhan tinggi, inflasi rendah, kredit meningkat, serta cadangan devisa yang solid menjadi penopang utama. "Ini menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat," katanya. Meski demikian, Perry mengakui adanya tekanan jangka pendek terhadap rupiah. Ia menyebut, dua faktor utama: global dan musiman.

Dalam keterangan terpisah kemarin (6/5), Airlangga mengatakan, pelemahan mata uang tidak hanya dialami Indonesia. Tapi juga terjadi di berbagai negara terhadap dolar AS yang tengah menguat. "Biasanya juga pada saat ibadah haji, demand (permintaan) terhadap dolar itu meningkat," katanya. Pemicunya adalah transaksi penukaran mata uang oleh masyarakat. Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga dipicu faktor musiman lainnya, yaitu pembayaran dividen oleh korporasi pada kuartal kedua.

Currency Swap

Meski demikian, pemerintah bersama otoritas moneter telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Salah satunya melalui penguatan kerja sama swap mata uang dengan sejumlah negara. Pemerintah dan BI telah menjalin kerja sama currency swap (perjanjian antara dua pihak untuk menukar pokok pinjaman dan pembayaran bunga dalam satu mata uang dengan mata uang lainnya pada jangka waktu tertentu, red) dengan Tiongkok serta beberapa negara lain seperti Jepang dan Korea Selatan. Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan strategi pembiayaan dengan diversifikasi instrumen utang, termasuk penerbitan surat berharga dalam mata uang selain dolar AS, seperti yuan dan yen. Sebelumnya, Perry mengatakan,

BI menyiapkan tujuh langkah strategis yang telah dilaporkan dan mendapat arahan presiden. Di antaranya memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dia menjamin bahwa cadangan devisa lebih dari cukup untuk stabilisasi. Langkah lainnya, BI mendorong peningkatan arus masuk modal melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Tujuannya menutup arus keluar dari Surat Berharga Negara (SBN) dan saham. Selain itu, BI memperketat pembelian dolar di pasar domestik. "Yang dulunya 100 ribu dolar per orang per bulan, kita turunkan 50 ribu, dan akan kami arahkan menjadi 25 ribu dolar harus dengan underlying," ucapnya.

Baca Juga: Konsumsi Masih Topang Pertumbuhan Ekonomi

Tak Semata Faktor Eksternal

Di sisi lain, Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya Rahma Gafmi mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah tidak semata dipengaruhi faktor eksternal. Tapi juga mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal dalam negeri. Dia menilai bahwa dari sisi moneter, langkah yang diambil otoritas seperti BI sudah berada pada jalurnya. Namun, kebijakan moneter memiliki keterbatasan jika tidak didukung oleh kondisi fiskal yang kuat. "Bank sentral itu ibarat mobil, fungsinya menginjak rem atau gas. Tapi mesinnya adalah pemerintah. Kalau mesinnya bermasalah, bank sentral tidak bisa banyak membantu," jelasnya.

Rahma menegaskan bahwa intervensi pasar oleh bank sentral tidak bisa dilakukan terus-menerus untuk menopang rupiah. Langkah tersebut berisiko menggerus cadangan devisa. Dia juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang dinilai menyerap anggaran besar di tengah kondisi defisit yang masih signifikan. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan di kalangan investor terkait sumber pendanaan.

Menurutnya, dibandingkan negara-negara ASEAN lain, ruang penyangga (buffer) fiskal Indonesia dinilai relatif lebih tipis. Kondisi ini membuat Indonesia lebih rentan terhadap tekanan eksternal jika tidak diimbangi kebijakan fiskal yang disiplin. "Buffer-nya tidak setebal Malaysia, Thailand, apalagi Vietnam. Ini yang membuat risiko fiskal kita dinilai lebih tinggi," katanya.

Terpisah, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan, pada perdagangan kemarin (6/5), rupiah berhasil ditutup menguat ke level Rp 17.405 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.425. "Untuk perdagangan besok (hari ini, 7/5), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp 17.380 hingga Rp 17.420 per dolar AS," imbuhnya. (lyn/mim/ttg)

Editor : Pratama Karamoy
#Koran Jawa Pos #nilai tukar rupiah #Ekonomi #Nasional #Rupiah