Jagosatu.com – Setiap tanggal 10 November dunia memperingati World Science Day for Peace and Development untuk menegaskan peran penting sains dalam masyarakat dan pembangunan.
Tahun 2025, tema resmi peringatan ini adalah Trust, Transformation, and Tomorrow: The Science We Need for 2050.
Tema ini mengajak publik untuk berpikir tentang jenis sains seperti apa yang dibutuhkan masyarakat hingga tahun 2050.
Kata “trust” atau kepercayaan dalam tema ini menekankan perlunya kepercayaan antara ilmuwan, masyarakat, dan pembuat kebijakan.
Sementara “transformation” mengacu pada perubahan besar yang dibutuhkan dalam sains, teknologi dan masyarakat agar berkelanjutan.
Dan “tomorrow” atau masa depan mengajak kita menyiapkan generasi dan sistem ilmu pengetahuan yang siap menghadapi tantangan global.
Peringatan ini bukan hanya sekadar seremoni, tetapi mendorong aksi nyata agar sains bisa diakses semua kalangan.
Sains diposisikan sebagai “common good” atau kebaikan bersama yang harus dibagikan antarnegara dan komunitas.
Dalam dunia yang penuh ketegangan geopolitik, pandemi, dan perubahan iklim, sains dapat menjadi jembatan perdamaian antar-negara.
Peringatan ini menggarisbawahi bahwa tanpa mendorong sains, pembangunan yang damai dan berkelanjutan sulit tercapai.
Tujuan utama dari hari ini meliputi meningkatkan kesadaran publik, mempromosikan solidaritas ilmiah antarnegara, dan memperbaharui komitmen dukungan terhadap penelitian.
Salah satu tantangan besar yang disebut adalah bagaimana menjamin akses ke sains untuk semua, termasuk di negara kurang berkembang.
Akreditasi jurnal, akses data terbuka, dan kolaborasi internasional menjadi fokus utama dalam diskusi hari ini.
Generasi muda juga diberi perhatian khusus karena mereka akan menjadi ilmuwan dan pembuat kebijakan masa depan.
Dalam rangka tema 2050, banyak kegiatan menyoroti isu-isu seperti kecerdasan buatan (AI), perubahan iklim, literasi ilmiah dan teknologi digital.
Misalnya, bagaimana AI bisa membantu mitigasi bencana atau bagaimana teknologi hijau bisa membantu masyarakat rentan.
Konsep “open science” atau sains terbuka juga muncul sebagai bagian dari transformasi sains agar lebih inklusif dan transparan.
UNESCO mengajak sekolah, universitas, komunitas dan media untuk mengadakan acara diskusi, eksperimen, dan debat sains.
Di beberapa negara, peringatan ini menjadi momentum peluncuran kebijakan riset baru ataupun program beasiswa sains.
Sebagai contoh, beberapa kampus dan lembaga penelitian mengadakan lomba inovasi dan pameran teknologi untuk anak muda pada tanggal 10 November.
Meskipun demikian, masih ada tantangan besar seperti disparitas antara negara maju dan berkembang dalam akses fasilitas penelitian.
Perlu upaya bersama agar sains tidak hanya menjadi milik segelintir negara, tetapi benar-benar untuk kebaikan seluruh umat manusia.
Hari Sains Dunia 2025 mengingatkan kita bahwa sains bukan hanya soal eksperimen laboratorium, tetapi soal bagaimana sains membentuk masa depan yang adil dan berkelanjutan.
(J)
Editor : ALengkong