SINGAPURA – Krisis bahan bakar pesawat (avtur) mengguncang industri penerbangan global. Lonjakan harga yang mencapai dua kali lipat memaksa sejumlah maskapai di berbagai negara membatalkan penerbangan dan memangkas kapasitas operasional.
Kenaikan harga dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah, terutama setelah Selat Hormuz efektif tertutup. Jalur vital ini selama ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Situasi diperburuk oleh langkah Amerika Serikat yang mulai mengendalikan pengiriman minyak di kawasan tersebut setelah perundingan damai gagal.
Baca Juga: 16 Mahasiswa FHUI "Disidang" setelah Ketahuan Lakukan Pelecehan Seksual
Naik Dua Kali Lipat
Data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan harga avtur menyentuh hampir USD 198 per barel pada pekan yang berakhir 10 April. Angka ini naik dua kali lipat dibandingkan sebelum konflik. Tekanan biaya membuat maskapai mulai memangkas frekuensi penerbangan. Philippine Airlines, misalnya, tengah meninjau lima rute yang dihentikan sementara guna meminimalkan gangguan operasional.
Dampaknya meluas hingga Eropa. Airports Council International Europe (ACI Europe) memperingatkan pasokan avtur di kawasan itu bisa habis dalam tiga minggu jika distribusi minyak melalui Selat Hormuz tidak segera pulih.
Ekonom transportasi dari ING Group, Rico Luman, menyebut pembatalan penerbangan berpotensi meningkat, terutama di bandara kecil yang memiliki cadangan bahan bakar terbatas, rata-rata hanya cukup untuk empat hingga lima minggu.
Sejumlah maskapai global telah mengurangi kapasitas, termasuk Air New Zealand, AirAsia X, Vietnam Airlines, hingga Scandinavian Airlines (SAS). Di Inggris, maskapai regional seperti Skybus dan Aurigny Air Services juga memangkas rute penerbangan.
Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, memperkirakan pemulihan pasokan tidak akan berlangsung cepat meski jalur distribusi kembali dibuka. Ia menyebut dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali ke tingkat pasokan normal.
Singapura Perketat Moneter
Sementara itu, Monetary Authority of Singapore (MAS) memperketat kebijakan moneternya untuk pertama kali sejak 2022 guna meredam tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi. MAS menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 1,5–2,5 persen dari sebelumnya 1–2 persen, didorong meningkatnya biaya energi impor serta harga barang dan jasa. (lyn/gas)
Editor : Pratama Karamoy