Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Menkeu Inggris Tuding AS Berperang tanpa Strategi

Pratama Karamoy • Kamis, 16 April 2026 - 16:34 WIB
KAWASAN KONFLIK: Perahu berlayar di Selat Hormuz. Militer Iran dan AS berebut menguasai jalur laut tersebut.
KAWASAN KONFLIK: Perahu berlayar di Selat Hormuz. Militer Iran dan AS berebut menguasai jalur laut tersebut.

 

LONDON – Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berperang melawan Iran tanpa strategi yang jelas. Ia menilai langkah Washington sebagai kebodohan karena tidak memiliki rencana keluar yang terukur.

"Saya sangat frustrasi dan marah karena Amerika masuk ke perang tanpa rencana keluar yang jelas."

Rachel Reeves Menteri Keuangan Inggris

Konflik tersebut kini berdampak langsung pada lonjakan harga minyak dan ancaman inflasi baru di negara-negara Barat. "Ini perang yang tidak kami mulai dan tidak kami inginkan. Saya sangat frustrasi dan marah karena Amerika masuk ke perang tanpa rencana keluar yang jelas," ujar Reeves seperti dilansir dari The Guardian, kemarin (15/4).

Situasi memanas setelah perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. AS kemudian resmi memulai blokade terhadap pelabuhan Iran di Selat Hormuz. Akibatnya, jalur energi global terganggu dan memicu kekhawatiran ekonomi.

Reeves menilai konflik ini berdampak luas, tidak hanya bagi Inggris tetapi juga keluarga di Amerika dan dunia. "Saya tidak mendukung rezim Iran, tetapi memulai konflik tanpa tujuan yang jelas adalah kesalahan besar," ucapnya.

Baca Juga: IMF: Ancaman Resesi Global Menguat

Enggan Terlibat

Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan negaranya tidak akan terlibat dalam perang tersebut. "Apa pun tekanannya, kami tidak akan terseret ke dalam perang," kata Starmer di parlemen.

Dana Moneter Internasional memproyeksikan Inggris akan menjadi negara G7 yang paling terdampak secara ekonomi. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya mencapai 0,8 persen tahun ini, turun dari proyeksi sebelumnya 1,3 persen.

Pemerintah Inggris kini bersiap mengantisipasi dampak lanjutan. Reeves berjanji membantu rumah tangga berpenghasilan rendah jika harga energi melonjak, sekaligus menghadapi tekanan untuk membatalkan kenaikan pajak bahan bakar pada September.

Sementara itu, Starmer telah membentuk komite khusus untuk membahas dampak perang, termasuk situasi di Selat Hormuz. Pemerintah juga akan menghadiri pertemuan internasional di Paris bersama lebih dari 40 negara guna membahas pengamanan jalur pelayaran, termasuk pembersihan ranjau laut dan evakuasi kapal yang terjebak. (lyn/gas)

Editor : Pratama Karamoy
#global