TEHERAN – Iran tak sedang menggertak setelah menyatakan menutup kembali Selat Hormuz. Terbukti, dua kapal India harus memutar balik setelah diserang Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
ada hal sebelumnya, sembilan kapal India, sudah diberikan izin melintas. Mengutip Hindustan Times, kedua kapal yang harus memutar arah kembali ke perairan Teluk Persia itu adalah Samrat Iherdi, tanker pembawa minyak mentah; dan Jag Arnav, kapal pengangkut muatan kering dalam jumlah besar tanpa kemasan.
"Perairan Selat Hormuz tertutup sepenuhnya sampai Amerika Serikat menghentikan blokade pelabuhan dan kapal Iran. Kami inginkan, semua kapal yang melanggar penutupan ini akan menjadi target serangan dan blokade AS kami anggap pelanggaran kesepakatan gencatan senjata," kata IRGC dalam pernyataan resminya seperti dikutip dari Press TV Sabtu (18/4).
Penutupan itu dilakukan Selasa atau sehari setelah menyatakan menyegel Selat Hormuz terbukti bagi pelayaran komersial, tetapi kapal yang melayarinya tetap harus berkoordinasi dengan Teheran. Setidaknya delapan kapal telah sempat melewati selat tersebut dengan aman.
Langkah Iran itu langsung menyulut emosi Presiden AS Donald Trump. "Kalau tidak ada kesepakatan sampai dengan Rabu (22/4), kami akan mulai melakukan pengepungan laut," kata Trump seperti dikutip dari News Nation.
Rabu (22/4) lusa memang akhir gencatan senjata dua pekan yang dimulai 8 April. Pertemuan kedua negara di Islamabad, Pakistan, pada 11 April lalu yang dimediasi tuan rumah tak membuahkan hasil.
Tetap Berunding
Meski demikian, kedua negara tetap bernegosiasi secara langsung di balik layar. Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf menyatakan, kedua negara mencapai sejumlah kemajuan untuk mengakhiri perang. Namun, masih ada jurang perbedaan yang membuat kesepakatan akhir belum tercapai.
"Pada persoalan nuklir dan Selat Hormuz, mereka punya pandangan yang berseberangan dengan kami," kata Ghalibaf seperti dikutip yang belum terselesaikan seperti dikutip dari Middle East Eye.
Dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi itu, Ghalibaf yang mengemudikan negosiasi dalam perundingan Islamabad juga menyebut bahwa Iran telah memenangi secara strategis perang melawan AS dan Israel. Kemenangan itu dicapai lewat strategi atribusi maupun lawan kelelahan.
"Mereka memang masih punya uang dan senjata, tetapi secara strategi, kami telah mengalahkan mereka," kata Ghalibaf.
Pernyataan Ghalibaf itu secara tidak langsung menyatakan, bahwa Iran sama sekali tak gentar dengan ancaman pengepungan Trump. Apalagi, ini juga bukan sesumbar pertama Trump yang selama ini kebanyakannya terbukti bohong. (itg)
Editor : Pratama Karamoy