Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Amerika Perintahkan Angkatan Laut Kawal Tanker di Selat Hormuz Setelah Proposal Damai Ditolak Iran

Pratama Karamoy • Rabu, 13 Mei 2026 | 15:59 WIB
TERTAHAN: Kapal-kapal melewati Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran bagian selatan, kemarin (12/5). (Foto: AFP)
TERTAHAN: Kapal-kapal melewati Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran bagian selatan, kemarin (12/5). (Foto: AFP)

 

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS bersiap mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz setelah proposal perdamaian Washington ditolak mentah-mentah oleh Iran. Langkah itu diambil di tengah memanasnya kembali ketegangan terkait blokade jalur pelayaran minyak paling vital di dunia tersebut.

Trump mengatakan gencatan senjata antara AS dan Iran kini berada dalam kondisi "kritis" setelah dirinya membaca dokumen proposal balasan dari Teheran. "Saya akan mengatakan bahwa gencatan senjata itu berada dalam kondisi kritis," ujar Trump.

Teheran Tolak Buka Blokade

Pernyataan keras itu muncul setelah Iran menolak melanjutkan pembicaraan penghentian blokade Selat Hormuz kecuali AS memenuhi sejumlah syarat yang diajukan Teheran. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur utama distribusi minyak dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Sebelumnya, pemerintah AS telah mengirim proposal perdamaian kepada Iran pekan lalu. Proposal tersebut berisi sejumlah syarat untuk membatasi pengembangan program nuklir Iran dan meredakan konflik di kawasan. Namun pada akhir pekan lalu, Iran mengirimkan proposal balasan yang langsung ditolak Trump.

Ditentang Arab Saudi

Namun, rencana pengawalan militer kapal tanker minyak oleh Angkatan Laut AS di Selat Hormuz tersebut mendapat penolakan dari Arab Saudi. Riyadh dikabarkan tidak ingin wilayah udara maupun pangkalan militernya digunakan untuk operasi yang dianggap dapat memperbesar eskalasi konflik di Timur Tengah.

Ketegangan semakin meningkat setelah harga minyak dunia kembali melonjak hingga menembus 105 dolar AS per barel. Lonjakan terjadi setelah Iran menegaskan tidak akan membuka negosiasi baru terkait Selat Hormuz sebelum tuntutannya dipenuhi.

Baca Juga: Konversi LPG ke DME Berpotensi Tekan Ketergantungan Impor

Syarat Masuk Akal

Mantan Komandan Korps Garda Revolusi Iran, Mohammad Ali Jafari, mengatakan tidak akan ada perundingan selama sanksi terhadap Iran belum dicabut dan kerugian perang belum diganti.

"Selama perang di semua lini belum berakhir, sanksi belum dicabut, dana yang diblokir belum dilepaskan, kerusakan perang belum diganti rugi, dan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz belum diakui, tidak akan ada negosiasi lain," tegas Jafari.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menyebut proposal yang diajukan negaranya sebagai langkah yang "masuk akal, bertanggung jawab, dan murah hati". Ia menilai peluang tercapainya kesepakatan sebenarnya masih terbuka. (raf/gas)

Editor : Pratama Karamoy
#global #Iran #selat hormuz #AS