Matius 23:37
MENGAPA KERAS HATI?
" ... tetapl kamu tidak mau." (ay.37)
Israel begitu dikasihi Tuhan. Perjanjian Lama banyak menceritakan tentang penyertaan Tuhan bagi bangsa yang dipilih-Nya itu, mulai dari Mesir hingga merekatiba di negeriyang dijanjikan-Nya. Tidak sekalipun Tuhan membiarkan umat-Nya. Dalam penyertaan-Nya, Tuhan tidak bertindak seperti seseorang yang terjerumus dalam "cinta buta." Dalam banyak peristiwa, la juga menunjukkan ekspresi kemarahan kepada umat-Nya. Berulang kali Israel jatuh, dan berulang kali pula Tuhan pulihkan. Tuhan pakai orang-orang yang diutus-Nya untuk memperingatkan Israel. Yerusalem, yang menjadi pusat dari iman, kehidupan politik, kebanggaan Israel, seharusnya menjadi kota ideal sebagai kota damai. Namun kota itu penuh intrik, sengketa dan peperangan,sejak dahulu bahkan hingga kini.
Ada keluhan untuk Yerusalem. la tidak mau mendengar dan mengabaikan utusan Tuhan kepadanya. lnjil Matius menyebutnya, "yang membunuh nabi-nabidan melemparidengan batu orang-orang yang diutus kepada-Nya!" Bahkan Tuhan mengumpulkan mereka seperti "induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya." Tuhan ingin melindungi dan menyelamatkan mereka. Tetapi mereka tidak mau. Ketidakmauan muncul dari kenyamanan. Ada kenyamanan berbuat salah yang lama-lama menjadi normal, sehingga kesalahan itu menjadi biasa. Ketidakmauan juga mengakibatkan keengganan untuk mendengar orang lain. Apalagi jika orang itu mempunyai status dan keadaan yang tidak lebih baik ataupun setara dengan dirinya.
Sebelum memulai hari ini dengan banyak aktivitas, siapkah kita menerima peringatan, nasihat, bahkan teguran? Akankah kita mengeraskan hati dan merasa seolah hidup kita baik-baik saja padahal ada sikap dan pikiran yang perlu segera diperbaiki? Maukah kita mendengar suara Tuhan, baik melalui firman-Nya agar kehidupan kita menjadi lebih baik maupun melalui orang-orangyang ada di sekitar kita, bahkan melalui orang yang tidak kita duga?
Doa : (Tuhan, aku begitu mengasihi-Mu. Tegur aku dengan kasih-Mu, agar aku memiliki hidup yang lebih baik). Amin
Editor : Alfianne Lumantow