Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Ketegangan Politik AS dan Kuba Meningkat Pasca Ancaman Blokade Minyak oleh Donald Trump

ALengkong • Senin, 23 Maret 2026 - 12:17 WIB

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Kuba memuncak setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melakukan intervensi militer ke negara tersebut.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Kuba memuncak setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melakukan intervensi militer ke negara tersebut.

Jagosatu.com - Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Kuba kembali memanas setelah muncul ancaman intervensi militer langsung dari pihak pemerintahan Presiden Donald Trump.

Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio, menyatakan kesiapan negaranya menghadapi kemungkinan terburuk terkait blokade minyak yang kini sedang berlangsung ketat.

Trump baru saja melontarkan retorika tajam mengenai rencananya mengambil alih kendali atas negara kepulauan tersebut guna menekan stabilitas politik yang ada di sana.

Menanggapi ancaman tersebut, pihak Havana menegaskan bahwa mobilisasi pertahanan nasional tetap menjadi prioritas utama demi menjaga kedaulatan wilayah dari segala bentuk agresi militer.

De Cossio menekankan bahwa meskipun skenario invasi dianggap kecil kemungkinannya, pemerintah Kuba akan bersikap naif jika mereka tidak melakukan persiapan pertahanan yang sangat matang.

Pernyataan ini muncul setelah kedua negara sempat memulai dialog awal bulan ini guna membahas dampak ekonomi akibat blokade energi yang diterapkan Amerika.

Kuba saat ini sedang menghadapi krisis ekonomi yang sangat berat akibat kebijakan blokade minyak yang secara perlahan melumpuhkan roda aktivitas industri negara tersebut.

Laporan media internasional sebelumnya mengindikasikan adanya upaya terselubung dari pemerintahan Trump untuk menggulingkan Presiden Miguel Diaz-Canel dari kursi kekuasaan tertinggi di Kuba.

Namun, pihak diplomatik Kuba menolak dengan tegas segala spekulasi mengenai negosiasi perubahan rezim di dalam struktur pemerintahan mereka yang sah dan tetap berdaulat.

Negara tersebut menegaskan bahwa setiap poin diskusi dengan pihak Washington sama sekali tidak menyentuh masalah internal mengenai struktur atau kepemimpinan nasional Kuba saat ini.

Ancaman terhadap kedaulatan negara melalui jalur blokade dan intervensi militer ini dianggap oleh Havana sebagai tindakan yang tidak memiliki dasar pembenaran hukum.

Kesiagaan militer Kuba dipandang sebagai mekanisme perlindungan nasional untuk memastikan stabilitas tetap terjaga di tengah tekanan besar dari pihak negara adidaya dunia tersebut.

Situasi geopolitik ini menuntut perhatian global karena dapat berdampak luas terhadap keamanan energi serta stabilitas politik di kawasan Amerika Latin dan sekitarnya.

Upaya diplomatik kini menjadi jalur krusial guna menghindari eskalasi konflik fisik yang dapat memicu dampak kemanusiaan serta kerusakan ekonomi lebih parah bagi penduduk.

Stabilitas di Kuba secara tidak langsung mencerminkan pentingnya menjaga kedaulatan ekonomi setiap negara agar tidak mudah terganggu oleh kebijakan sepihak kekuatan besar dunia.

Sumber: SCMP Tech

Editor : ALengkong