Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sabda Bina umat, Renungan Pagi, Selasa, 21 April 2026, Kejadian 38:1-10 Ada Kartini Dibalik Tamar

Alfianne Lumantow • Jumat, 17 April 2026 - 11:35 WIB
logo gpib
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab : Kejadian 38: 1-10

TEMA : ADA KARTINI DIBALIK TAMAR

"... kawinilah dia menggantikan saudaramu dan bangkitkanlah keturunan bagi saudaramu itu "(ay.8b)

 

Kartini adalah pahlawan nasional Indonesia, lahir pada 21 April 1879, dalam perjuangannya, la menunjukkan keteguhan hatinya, bahkan la mendirikan sekolah perempuan di Jawa tengah dan menekankan bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa.

Meskipun ia menghadapi penolakan dari masyarakat patriarkal dan kolonial (tatanan tradisi yang ada pada saat itu).

Kartini tidak menyerah pada ketidakadilan gender, hal ini mirip dengan Tamar yang menolak diperlakukan tidak adil sebagai "perempuan tanpa hak".

 

Tamar adalah menantu Yehuda, salah satu dari 12 anak laki-laki Yakub. la menikah dengan Er anak sulung Yehuda (ayat 6 dan 7), tetapi Er anak sulung Yehuda itu jahat di mata Tuhan, sehingga TUHAN mengakhiri hidupnya tanpa keturunan.

Menurut hukum pada saat itu, Tamar harus dinikahi oleh Yehuda dengan Onan, agar memperoleh keturunan sebagai pewaris keluarga.

Namun Onan menolak (ayat 9) untuk memperoleh keturunan dari Tamar, Onan melakukan tindakan jahat di mata TUHAN, Onan pun hidupnya berakhir (ayat 10).

Pernikahan Tamar pada saat itu, dilakukan di bawah hukum levirate. Yang mana hukum levirate adalah kebiasaan seorang janda menikahi saudara laki-laki mendiang suaminya yang telah meninggal tanpa keturunan.

Dalam hukum ini seharusnya Yehuda pun menikahkan anak ketiganya (Syela) untuk Tamar, tetapi Yehuda mengingkarinya.

 

Judul Kartini dibalik Tamar, saling terkait dalam semangat perjuangan perempuan untuk keadilan dan hak. Tamar sebagai perempuan di masyarakat patriarkal kuno saat itu mengalami hal ini, yang pada akhirnya ia berani berinisiatif untuk melindungi warisannya meski berisiko.

Kartini juga demikian ia berani untuk menghadapi penolakan atau oposisi dari masyarakat patriarkal pada saat itu. Tuhan yang hidup, menghidupkan keadilan bagi bagi para pejuang kaum perempuan pada masa itu juga dan pada masa kini. Amin.

 

Doa: Tuhan, sertai kami berjuang untuk kebebasan dan martabat kami sebagai kaum perempuan, kami percaya Tuhan memampukan kami. Amin.

 

 

Editor : Alfianne Lumantow
#RENUNGAN PAGI #GPIB #SABDA BINA UMAT