Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Amerika Serang Fasilitas Radar-Drone, Iran Tembakkan Misil ke Pangkalan Militer

Pratama Karamoy • Selasa, 2 Juni 2026 | 14:21 WIB
SEMAKIN BRUTAL: Serangan Israel ke Tyre, Lebanon bagian selatan, memunculkan asap yang membubung kemarin (1/6). Berbagai negara mengecam agresi Israel ke negara tetangga tersebut. (Foto: KAWNAT HAJU / AFP
SEMAKIN BRUTAL: Serangan Israel ke Tyre, Lebanon bagian selatan, memunculkan asap yang membubung kemarin (1/6). Berbagai negara mengecam agresi Israel ke negara tetangga tersebut. (Foto: KAWNAT HAJU / AFP

 TEHERAN – Serangan ke menara komunikasi di Pulau Sirik, Iran, adalah bukti kesekian bahwa Amerika Serikat (AS) tak mematuhi gencatan senjata. Bahkan, dalam pengakuan Negeri Paman Sam itu sendiri, sepanjang akhir pekan lalu mereka juga menyerang fasilitas radar serta drone Iran di Goruk dan Pulau Qeshm. "Serangan kami lakukan untuk melindungi diri," kata Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), seperti dikutip dari Middle East Eye kemarin (1/6).

Jadi, tak mengherankan jika Iran merespons dengan keras. Dalam video yang diunggah Kantor Berita Fars kemarin (1/6), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan serangan misil serta pesawat nirawak ke pangkalan militer yang menjadi basis serangan ke Pulau Sirik. IRGC tak menyebut pangkalan mana persisnya yang mereka serang kemarin. Namun, Kuwait mengumumkan bahwa mereka berhasil mencegat serangan misil dan drone.

Jadi, hampir bisa dipastikan ke negara tetangga Iraq itulah serangan Iran diarahkan. Dan, IRGC mengklaim bahwa serangan mereka berhasil mencapai sasaran. "Blokade laut dan eskalasi kejahatan perang di Lebanon yang dilakukan rezim genosida Zionis adalah bukti bahwa AS tak mematuhi gencatan senjata. Setiap pilihan mengandung konsekuensi dan mereka harus menanggung konsekuensi itu," tulis Mohammad Bagher Ghalibaf ketua delegasi Iran dalam perundingan dengan AS, di akun X-nya.

Ketegangan itu yang membuat perundingan Iran-AS tak kunjung mencapai kesepakatan. Iran bersikeras menuntut kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan serangan AS dan Israel mulai 28 Februari sampai gencatan Iran-AS berlaku per 8 April. Juga, pencairan aset di luar negeri yang dibekukan Washington DC dan kendali penuh Selat Hormuz. Di sisi lain, AS, seperti disuarakan Presiden Donald Trump, menuntut penyerahan stok uranium Iran. Juga, mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kondisi di Lebanon

Kebrutalan tiada henti Israel di Lebanon juga menjadi kendala tercapainya kesepakatan Iran-AS. Terbaru, Israel merebut Kastil Beaufort, legasi abad pertengahan, di sebelah utara Sungai Litani di sisi selatan Lebanon. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memang memerintahkan militernya untuk merangsek sampai ke Dahiyeh, wilayah di sisi selatan Lebanon, yang diklaim sebagai basis Hizbullah.

Kecaman datang bertubi-tubi. Kuwait, salah satu sekutu AS, meminta dihentikannya serangan Israel sesegera mungkin. "Kuwait mendukung penuh kedaulatan, kesatuan, dan integritas teritorial Lebanon," kata Kementerian Luar Negeri Kuwait dalam rilis resmi mereka. Seorang pejabat AS kepada Al Jazeera mengatakan, AS tengah menyusun peta jalan untuk deeskalasi serangan Israel. Dalam rancangan tersebut, Hizbullah diminta menghentikan serangan ke wilayah utara Israel dan Israel juga diminta menyetop serbuan ke sisi selatan Lebanon. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga sudah melakukan kontak telepon dengan Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun.

Baca Juga: Lawatan Presiden Kontras dengan Kebijakan Efisiensi

Menurut Imad Salamey, guru besar hubungan internasional di Universitas Amerika Lebanon, yang dilakukan Israel itu menunjukkan bahwa mereka tak lagi mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701. Berdasarkan resolusi tersebut, Sungai Litani merupakan zona penyangga keamanan antara Israel dan Hizbullah. "Dengan menyeberangi Sungai Litani dan terus mengarah ke utara, Israel mengirim pesan bahwa mereka hendak berusaha menghancurkan infrastruktur militer Hizbullah sekaligus populasi yang mendukungnya," kata Salamey kepada Al Jazeera. (ttg)

Editor : Pratama Karamoy
#global