Pembacaan Alkitab: Filipi 2:12-16
Tema: JANGAN BERSUNGUT-SUNGUT
“Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan...” (ayat 14)
Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, Pernahkah kita berada di sekitar orang yang hampir setiap hari bersungut-sungut? Sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit mengkritik, bahkan hal kecil pun bisa menjadi bahan keluhan.
“Kerjanya lambat, tidak beres, bikin kesal.” Kalimat-kalimat seperti ini mungkin tidak asing di telinga kita. Bahkan, kalau kita jujur, mungkin kita sendiri pernah mengucapkannya.
Sikap bersungut-sungut sering kali muncul begitu saja, seolah-olah menjadi kebiasaan yang tidak kita sadari. Ketika pekerjaan tidak berjalan sesuai harapan, ketika orang lain tidak memenuhi standar kita, atau ketika hidup terasa berat, keluhan menjadi respons pertama kita.
Namun, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa hidup sebagai orang percaya tidak boleh dipenuhi dengan sungut-sungut.
Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi dalam kondisi yang tidak mudah. Ia sedang berada di penjara. Secara manusiawi, Paulus punya banyak alasan untuk mengeluh: kehilangan kebebasan, menderita, bahkan terancam nyawanya.
Namun yang menarik, dalam situasi seperti itu, Paulus justru tidak bersungut-sungut. Sebaliknya, ia mendorong jemaat untuk hidup dengan sikap yang benar di hadapan Tuhan.
Paulus berkata, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Artinya, keselamatan yang sudah kita terima bukanlah sesuatu yang pasif. Kita dipanggil untuk menghidupinya setiap hari.
Dan salah satu tanda bahwa kita sungguh-sungguh menghidupi keselamatan itu adalah dengan menjaga sikap hati, termasuk tidak bersungut-sungut.
Mengapa bersungut-sungut menjadi hal yang serius di hadapan Tuhan? Pertama, bersungut-sungut menunjukkan hati yang tidak bersyukur. Ketika kita terus mengeluh, kita sedang fokus pada kekurangan, bukan pada berkat Tuhan.
Padahal, setiap hari Tuhan sudah memberikan begitu banyak hal baik dalam hidup kita: kesehatan, pekerjaan, keluarga, bahkan nafas kehidupan. Namun sikap mengeluh membuat kita lupa melihat semua itu.
Kedua, bersungut-sungut merusak hubungan dengan sesama. Keluhan yang terus-menerus dapat menular. Orang yang awalnya semangat bisa menjadi lemah karena mendengar keluhan orang lain.
Lingkungan kerja, pelayanan, bahkan keluarga bisa menjadi tidak sehat karena kebiasaan ini. Tidak heran Paulus menambahkan, “tanpa berbantah-bantahan,” karena sungut-sungut sering kali berujung pada konflik.
Ketiga, bersungut-sungut merusak kesaksian kita sebagai anak-anak Tuhan. Paulus mengatakan supaya kita “tidak beraib dan tidak bercela” serta “bersinar di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.
” Dunia sedang memperhatikan kita. Ketika kita hidup sama seperti orang lain —mudah mengeluh, mudah marah— maka terang Kristus tidak terlihat dalam diri kita.
Saudara-saudari, Hidup tanpa bersungut-sungut bukan berarti hidup tanpa masalah. Paulus tidak pernah mengatakan bahwa hidup orang percaya akan bebas dari kesulitan.
Justru sebaliknya, ia tahu bahwa kehidupan penuh tantangan. Tetapi yang membedakan kita adalah cara kita merespons.
Ada tiga sikap yang bisa kita pelajari dari firman Tuhan hari ini.
Pertama, belajar mengubah keluhan menjadi doa. Ketika kita merasa ingin mengeluh, berhentilah sejenak dan bawalah itu dalam doa.
Katakan kepada Tuhan apa yang kita rasakan. Tuhan tidak pernah menolak doa yang jujur. Daripada mengeluh kepada manusia, lebih baik kita berseru kepada Tuhan.
Kedua, belajar mengubah keluhan menjadi ucapan syukur. Ini memang tidak mudah, tetapi sangat mungkin. Dalam setiap situasi, selalu ada hal yang bisa disyukuri.
Bahkan dalam kesulitan, kita masih bisa bersyukur karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Syukur adalah kunci yang mengubah cara pandang kita terhadap hidup.
Ketiga, belajar melihat segala sesuatu sebagai bagian dari karya Tuhan. Paulus mengingatkan bahwa “Allah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
” Artinya, Tuhan sedang bekerja dalam hidup kita, bahkan melalui situasi yang tidak kita sukai. Ketika kita menyadari hal ini, kita akan lebih mudah menerima keadaan tanpa bersungut-sungut.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Hari ini kita diajak untuk mengevaluasi diri. Apakah kita termasuk orang yang mudah bersungut-sungut? Apakah kata-kata kita lebih banyak membangun atau justru meruntuhkan? Apakah kehadiran kita membawa sukacita atau malah menambah beban bagi orang lain?
Mari kita ingat bahwa kita adalah anak-anak Tuhan. Kita dipanggil untuk hidup berbeda. Kita dipanggil untuk menjadi terang. Dan terang itu terlihat bukan hanya dalam hal-hal besar, tetapi juga dalam sikap sederhana seperti tidak bersungut-sungut.
Memulai hari ini, mari kita ambil komitmen baru. Dalam pekerjaan, dalam pelayanan, dalam keluarga, bahkan dalam pergumulan hidup, kita memilih untuk tidak mengeluh. Kita memilih untuk bersyukur. Kita memilih untuk tetap bersukacita.
Mungkin keadaan tidak berubah seketika. Masalah tetap ada. Tantangan tetap datang. Tetapi hati kita berbeda. Sikap kita berbeda. Karena kita tahu bahwa Tuhan setia. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Ia selalu memberikan yang terbaik pada waktunya.
Akhirnya, marilah kita hidup sebagai orang-orang yang memancarkan terang Kristus. Jangan biarkan sungut-sungut menguasai hidup kita. Sebaliknya, biarlah ucapan syukur, sukacita, dan iman yang memenuhi hati kita.
Kiranya melalui hidup kita, orang lain dapat melihat kebaikan Tuhan. Kiranya melalui sikap kita, nama Tuhan dipermuliakan. Bersukacitalah dan bersyukurlah, karena Ia setia menolong kita. Amin.
Doa : Ya Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami hidup tanpa bersungut-sungut, penuh syukur dan sukacita. Kuatkan kami menghadapi setiap tantangan, agar kami tetap setia dan menjadi terang bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow