Pembacaan Alkitab: Filipi 2:19-24
Tema: BERBUAT DEMI KEPENTINGAN KRISTUS
“Semuanya mencari kepentingan sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus.” (ayat 21)
Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, Kita hidup di dunia yang sangat menekankan kepentingan diri. Sejak kecil, kita sering diajarkan untuk berjuang demi diri sendiri: mencapai keberhasilan, mendapatkan pengakuan, dan memenuhi keinginan pribadi.
Dalam banyak hal, ini dianggap wajar. Bahkan, pemikir seperti Thomas Hobbes mengatakan bahwa manusia pada dasarnya digerakkan oleh kepentingan diri—mencari kenikmatan dan menghindari penderitaan.
Namun firman Tuhan hari ini menghadirkan perspektif yang berbeda. Rasul Paulus dengan jujur mengatakan bahwa banyak orang hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, bukan untuk kepentingan Kristus. Pernyataan ini sangat relevan, bukan hanya pada zaman Paulus, tetapi juga pada zaman kita sekarang.
Saudara-saudari, Ketika kepentingan diri tidak dikendalikan, ia dapat membawa kita pada sikap egois. Kita menjadi fokus pada apa yang kita inginkan, tanpa mempedulikan orang lain. Kita ingin dihargai, tetapi sulit menghargai.
Kita ingin diperhatikan, tetapi enggan memperhatikan. Inilah yang sering menjadi akar dari konflik dalam keluarga, persekutuan, bahkan dalam masyarakat.
Di tengah realitas seperti itu, Paulus memberikan contoh yang nyata melalui dua tokoh: Timotius dan Epafroditus.
Tentang Timotius, Paulus berkata bahwa tidak ada orang lain yang sehati dan sepikir dengan dia, yang sungguh-sungguh memperhatikan kepentingan jemaat. Timotius bukan hanya seorang rekan pelayanan, tetapi seorang yang memiliki hati seorang hamba. Ia tidak melayani demi dirinya sendiri, tetapi demi Kristus dan jemaat-Nya.
Kesetiaan Timotius sudah teruji. Ia melayani bersama Paulus seperti seorang anak kepada bapanya. Ini menunjukkan hubungan yang dekat, penuh kepercayaan, dan komitmen yang tinggi. Timotius tidak mencari keuntungan pribadi, tetapi memberi diri sepenuhnya untuk pelayanan Injil.
Demikian pula dengan Epafroditus. Ia adalah utusan jemaat Filipi yang membawa bantuan kepada Paulus yang sedang dipenjarakan. Perjalanan ini bukan tanpa risiko. Bahkan Paulus mengatakan bahwa Epafroditus hampir mati karena pekerjaannya bagi Kristus. Ia mempertaruhkan nyawanya demi melayani.
Saudara-saudari, Dua tokoh ini menjadi teladan bagi kita tentang apa artinya hidup bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk kepentingan Kristus. Mereka menunjukkan bahwa pelayanan sejati menuntut pengorbanan, kesetiaan, dan ketulusan hati.
Lalu, apa artinya bagi kita hari ini untuk berbuat demi kepentingan Kristus?
Pertama, berarti kita belajar menyangkal diri.
Mengikut Kristus tidak bisa berjalan seiring dengan egoisme. Kita dipanggil untuk menempatkan kehendak Tuhan di atas keinginan kita. Ini tidak mudah, karena sering kali kita ingin yang nyaman dan menguntungkan. Tetapi ketika kita memilih Tuhan, kita sedang melangkah dalam kebenaran.
Kedua, berarti kita peduli terhadap sesama.
Kepentingan Kristus selalu berkaitan dengan kasih kepada sesama. Ketika kita memperhatikan kebutuhan orang lain, menolong mereka, dan hadir bagi mereka, kita sedang melakukan kehendak Kristus. Kepedulian adalah wujud nyata dari iman kita.
Ketiga, berarti kita hidup dalam kerendahan hati.
Yesus sendiri telah memberikan teladan dengan merendahkan diri-Nya. Ia tidak mempertahankan hak-Nya sebagai Allah, tetapi rela menjadi manusia dan bahkan mati di kayu salib. Jika Kristus saja rendah hati, maka kita pun dipanggil untuk hidup dalam kerendahan hati.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Salah satu tantangan terbesar dalam hidup bersama adalah ego. Ketika setiap orang mempertahankan kepentingannya sendiri, maka pertikaian tidak dapat dihindari
Dalam keluarga, hal ini bisa memicu konflik. Dalam persekutuan, bisa memecah kesatuan. Dalam masyarakat, bisa menimbulkan perpecahan.
Namun ketika kita belajar menekan kepentingan diri dan mengutamakan kepentingan Kristus, maka damai sejahtera akan hadir. Kita menjadi lebih sabar, lebih pengertian, dan lebih mampu mengasihi.
Hari ini, mari kita refleksikan hidup kita. Apakah kita masih hidup untuk diri sendiri, atau sudah mulai hidup untuk Kristus? Apakah keputusan-keputusan kita didasarkan pada keinginan pribadi, atau pada kehendak Tuhan?
Mungkin kita tidak dipanggil untuk mempertaruhkan nyawa seperti Epafroditus. Mungkin kita tidak memiliki peran besar seperti Timotius. Tetapi setiap kita memiliki kesempatan untuk hidup bagi Kristus dalam hal-hal sederhana.
Seorang ibu yang dengan tulus merawat keluarganya, seorang ayah yang bekerja dengan jujur, seorang pemuda yang menolong temannya, seorang jemaat yang setia melayani—semua itu adalah bentuk hidup bagi Kristus.
Tidak ada yang terlalu kecil di hadapan Tuhan. Yang Tuhan lihat adalah hati kita.
Akhirnya, saudara-saudari, Marilah kita belajar dari teladan Timotius dan Epafroditus. Mari kita tinggalkan hidup yang egois dan mulai hidup yang berpusat pada Kristus. Mari kita menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia.
Ketika kita hidup demi kepentingan Kristus, hidup kita akan menjadi berkat bagi banyak orang. Kesatuan akan terpelihara, kasih akan bertumbuh, dan damai sejahtera akan nyata. Kiranya Tuhan menolong kita untuk setia dalam panggilan ini. Amin.
Doa : Ya Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami tidak hidup untuk diri sendiri, melainkan bagi kepentingan Kristus. Beri kami hati yang rendah, peduli, dan setia melayani sesama. Pakailah hidup kami menjadi berkat. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow