Arkeologi Bali Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Jawa Kalimantan Kesehatan Lifestyle & Hiburan Maluku Nasional Nusa Tenggara Timur Olahraga Papua Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Antrean Solar Meluas, Distribusi Barang Tersendat

Pratama Karamoy • Jumat, 26 Juni 2026 | 13:44 WIB
SUPLAI TIDAK LANCAR: Petugas SPBU di Rest Area 754 Tol Surabaya-Sidoarjo menunjukkan tulisan "Bio Solar Kosong" kepada sopir truk yang hendak masuk kemarin (25/6). Di tiap SPBU rest area sepanjang Tol Trans-Jawa, rata-rata ada pengumuman solar kosong. (Foto: ANGGER BONDAN/JAWA POS)
SUPLAI TIDAK LANCAR: Petugas SPBU di Rest Area 754 Tol Surabaya-Sidoarjo menunjukkan tulisan "Bio Solar Kosong" kepada sopir truk yang hendak masuk kemarin (25/6). Di tiap SPBU rest area sepanjang Tol Trans-Jawa, rata-rata ada pengumuman solar kosong. (Foto: ANGGER BONDAN/JAWA POS)

 SURABAYA–Antrean kendaraan untuk mendapatkan solar meluas di sejumlah daerah. Meski demikian, pemerintah menolak mengaitkan kondisi tersebut dengan rencana implementasi bahan bakar campuran biodiesel 50 persen (B50) mulai 1 Juli 2026. 

Pantauan tim Jawa Pos di berbagai daerah, antrean kendaraan tampak sejak pagi kemarin. Di Malang, misalnya. Antrean di SPBU wilayah Blimbing bahkan memicu kemacetan hingga sore. Pantauan Radar Malang Grup Jawa Pos, kepadatan terjadi di ruas Jalan Raden Panji Suroso hingga Jalan Raden Intan. Arus kendaraan menuju Terminal Arjosari maupun arah sebaliknya terdampak. Penyebabnya, banyak kendaraan mengantre di SPBU Pertamina Araya 54.651.04.

Kondisi serupa terjadi di Sidoarjo. Antrean kendaraan berbahan bakar solar terlihat di SPBU Gedangan dan SPBU Jenggolo. Puluhan truk, pikap, dan kendaraan lain mengular sejak pagi. Panjang antrean mencapai lebih dari satu kilometer. Taufik, sopir pabrik manufaktur plastik di Gedangan, mengaku menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk mendapatkan solar. Sebelumnya, dia sempat mendatangi SPBU Aloha, tetapi antrean juga panjang. "Tadi dari SPBU Aloha antre, lalu ke Gedangan juga antre. Akhirnya menunggu di sini," ujarnya.

Lamanya antrean membuat distribusi barang terganggu. Pengiriman pesanan pabrik dari Gedangan menuju Bluru molor lebih dari dua jam karena harus menunggu pengisian bahan bakar. Pengawas SPBU Gedangan Wardi menjelaskan, banyak kendaraan datang karena sejumlah SPBU lain di Sidoarjo tidak memiliki stok solar. "Yang membuat kendaraan menumpuk karena tempat lain kosong," katanya. Menurut Wardi, jumlah pembeli meningkat sekitar 50 persen dibanding hari biasa.

Antrean juga terjadi di sejumlah SPBU Surabaya. Di SPBU Jalan Raya Mastrip, Kebraon, Karangpilang, antrean kendaraan mengular hingga satu kilometer. Sopir angkutan Aris Bagio mengaku sudah menunggu selama 2,5 jam untuk mendapatkan solar. Sebelum tiba di SPBU Karangpilang, dia sempat mencari stok di beberapa SPBU dari kawasan Tambak Osowilangon. Namun, sejumlah SPBU yang didatangi mengalami kekosongan solar. Sebagian lainnya dipenuhi antrean truk. "Di Margomulyo dan Simo antreannya penuh. Ada juga yang kosong," ujar warga Jombang tersebut. Aris akhirnya mendapatkan solar setelah mengantre sejak pukul 10.00 hingga sekitar pukul 12.30. Dia berharap distribusi solar kembali normal.

Baca Juga: Mendag: Waralaba Kuliner Harus Perkuat Daya Saing dengan Inovasi

Peningkatan Konsumsi Dianggap Normal

Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga Ahad Rahedi mengatakan tidak ada anomali yang memicu antrean di sejumlah titik. Dia mengakui beberapa SPBU di Surabaya mengalami peningkatan konsumsi. Namun, kenaikannya tidak signifikan. "Status di beberapa SPBU masih menunggu pengiriman yang sudah terjadwal," ujarnya. Ahad belum mengetahui angka pasti kenaikan konsumsi solar di Jawa Timur. Pertamina masih melakukan pengecekan di lapangan. Namun, dia menegaskan kondisi tersebut tidak berkaitan dengan implementasi B50. Sebagaimana diketahui, B50 merupakan bahan bakar campuran biodiesel yang terdiri atas 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit (CPO) dan 50 persen solar konvensional.

Dari Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia akan menghentikan impor solar tahun ini setelah mandatori B50 diterapkan pada 1 Juli 2026. "Besok Juli akan kita resmikan B50. Itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar. Mulai tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar," kata Bahlil. (ful/bil/wan/oni)

Editor : Pratama Karamoy
#Headline #B50 #Solar