PEMBACAAN ALKITAB: 2 Yohanes 1:1-3
TEMA: MENETAP DAN MELAKUKAN KEBENARAN
"Oleh karena kebenaran yang tinggal di dalam kita dan yang akan menyertai kita sampai selama-lamanya."
(2 Yohanes 1:2)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam perjalanan pelayanan di Dipasena, ada sebuah pengalaman sederhana yang menarik. Penulis pernah diminta untuk mendoakan seseorang yang sedang sakit.
Ketika mendengar bahwa seorang pendeta akan datang berdoa, orang tersebut berkata sambil bercanda, "Doanya Pak Pendeta kan menembus langit."
Ungkapan tersebut mungkin terdengar lucu dan merupakan bentuk penghormatan kepada seorang pelayan Tuhan. Namun, jika dipahami lebih dalam, ada sebuah pemahaman yang perlu diluruskan.
Seolah-olah doa seseorang menjadi lebih kuat hanya karena ia memiliki jabatan tertentu dalam gereja. Seolah-olah Tuhan hanya mendengar doa orang-orang dengan gelar atau kedudukan tertentu.
Padahal, dalam kehidupan iman, kita percaya bahwa Tuhan tidak membatasi diri-Nya hanya melalui orang-orang tertentu. Setiap orang percaya memiliki akses kepada Allah melalui Yesus Kristus. Bahkan, doa seorang diaken, penatua, pelayan gereja, maupun jemaat biasa sama-sama dapat didengar oleh Tuhan ketika disampaikan dengan iman dan ketulusan hati.
Karena itu, penulis menjawab, "Doanya diaken dan penatua justru sampai langsung ke telinga Tuhan."
Jawaban tersebut mengingatkan bahwa dalam Kerajaan Allah, yang terutama bukanlah gelar atau jabatan, melainkan kehidupan yang tinggal dalam kebenaran Allah.
Hal inilah yang menjadi pesan utama dalam surat 2 Yohanes. Surat ini dibuka dengan kalimat: "Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi dalam kebenaran."
Menariknya, penulis surat memperkenalkan dirinya sebagai "penatua". Sampai saat ini para ahli masih memperdebatkan siapa penulis sebenarnya. Ada yang berpendapat bahwa penulisnya adalah Rasul Yohanes, murid Yesus yang dikenal sebagai rasul kasih. Ada juga yang berpendapat bahwa penulisnya adalah seorang penatua Yohanes yang hidup dan melayani dalam tradisi Yohanes.
Namun, terlepas dari perdebatan tersebut, para ahli sepakat bahwa penulis surat ini berasal dari komunitas murid Yesus dan memiliki otoritas dalam menyampaikan ajaran Injil.
Sebutan "penatua" bukan sekadar jabatan administratif. Dalam gereja perdana, penatua memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kehidupan jemaat, mengajar kebenaran, dan melindungi umat dari ajaran yang menyesatkan.
Pada masa itu, gereja belum memiliki sarana komunikasi seperti sekarang. Tidak ada internet, media sosial, atau alat komunikasi cepat yang dapat digunakan untuk memeriksa setiap pengajaran yang beredar. Karena itu, peran para pemimpin jemaat sangat penting dalam menjaga kemurnian iman.
Ketika Yohanes menyebut "Ibu yang terpilih", ia tidak sedang berbicara tentang seorang perempuan tertentu, melainkan sebuah gambaran tentang gereja. Gereja sering digambarkan sebagai mempelai perempuan Kristus. Anak-anaknya adalah orang-orang percaya yang dilahirkan kembali melalui Injil.
Dengan gambaran ini, Yohanes ingin mengingatkan bahwa gereja bukan hanya sebuah organisasi atau tempat berkumpul. Gereja adalah keluarga Allah yang dipanggil untuk hidup dalam kebenaran.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam ayat 2, Yohanes memberikan dasar mengapa ia mengasihi jemaat: "Oleh karena kebenaran yang tinggal di dalam kita dan yang akan menyertai kita sampai selama-lamanya."
Kebenaran menjadi pusat kehidupan umat Allah. Bagi Yohanes, kebenaran bukan sekadar kumpulan informasi atau ajaran yang benar secara intelektual. Kebenaran adalah realitas Allah yang telah dinyatakan melalui Yesus Kristus dan kemudian tinggal dalam kehidupan orang percaya.
Yohanes menggunakan gagasan "tinggal" atau meno. Kata ini memiliki makna yang sangat dalam. Tinggal bukan hanya berarti berada di suatu tempat untuk sementara waktu, tetapi menetap, berdiam, dan memiliki hubungan yang terus berlangsung.
Dalam Injil Yohanes, kata yang sama digunakan ketika Yesus menggambarkan hubungan antara pokok anggur dan ranting-rantingnya.
Ranting tidak dapat hidup dengan kekuatannya sendiri. Ranting hanya dapat bertumbuh dan menghasilkan buah apabila tetap melekat pada pokok anggur. Jika ranting terpisah dari sumber kehidupannya, maka ia akan kering dan mati.
Demikian pula kehidupan orang percaya. Kita tidak dapat menghasilkan buah kehidupan rohani dengan kekuatan sendiri. Kita hanya dapat hidup dalam kebenaran apabila kita terus melekat kepada Kristus, Sang Kebenaran.
Inilah yang dimaksud dengan menetap dalam kebenaran. Menetap dalam kebenaran bukan berarti hanya mengetahui ajaran Kristen. Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang Alkitab, tetapi belum tentu hidup sesuai dengan Firman Tuhan.
Menetap dalam kebenaran berarti membiarkan kebenaran Allah membentuk pikiran, sikap, keputusan, dan seluruh kehidupan kita.
Kebenaran harus tinggal di dalam kita sehingga menghasilkan perubahan nyata. Karena itu, tema kita bukan hanya "menetap dalam kebenaran", tetapi juga melakukan kebenaran.
Kebenaran yang hanya disimpan sebagai pengetahuan tidak akan menghasilkan kehidupan yang berbeda. Firman Tuhan harus diwujudkan dalam tindakan.
Orang yang tinggal dalam kebenaran akan belajar hidup jujur ketika ada kesempatan untuk berbohong. Ia akan memilih mengampuni ketika memiliki alasan untuk membenci. Ia akan melayani ketika lebih mudah untuk mementingkan diri sendiri. Ia akan menunjukkan kasih karena Kristus telah terlebih dahulu mengasihinya.
Saudara-saudari, Kebenaran yang tinggal dalam diri kita juga menjadi kekuatan ketika menghadapi perubahan dan krisis.
Dunia terus berubah. Nilai-nilai manusia berubah. Pendapat masyarakat berubah. Banyak hal yang dahulu dianggap penting kini mulai ditinggalkan. Namun kebenaran Allah tetap berdiri.
Yohanes berkata bahwa kebenaran itu akan menyertai kita sampai selama-lamanya. Artinya, Injil memiliki daya tahan melampaui zaman.
Apa yang berasal dari Allah tidak akan kehilangan kuasanya sekalipun menghadapi tantangan.
Karena itu, gereja dipanggil bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi mempertahankan kebenaran Injil. Kita tidak dipanggil untuk hidup dalam ketakutan terhadap perubahan, tetapi untuk tetap berakar dalam Kristus di tengah perubahan.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Hari ini Firman Tuhan mengajak kita bertanya: Apakah kebenaran Allah benar-benar tinggal dalam hidup kita?
Apakah Firman Tuhan hanya kita dengarkan setiap minggu, atau sungguh-sungguh membentuk kehidupan kita? Apakah iman kita hanya terlihat dalam ibadah, atau juga terlihat dalam cara kita memperlakukan keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan sesama?
Jangan hanya menjadi orang yang mengenal kebenaran, tetapi jadilah orang yang tinggal dan hidup dalam kebenaran. Sebab ketika kita menetap dalam Kristus, hidup kita akan menghasilkan buah. Kasih akan terlihat. Kesetiaan akan nyata. Kebaikan akan terpancar.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk terus melekat kepada-Nya seperti ranting kepada pokok anggur. Biarlah kebenaran Kristus tinggal dalam hati kita, memimpin langkah kita, dan menyertai kita sampai selama-lamanya. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas kebenaran Firman-Mu yang menuntun hidup kami. Tolong kami agar tetap tinggal di dalam Kristus, berpegang pada kebenaran, dan mewujudkannya melalui tindakan kasih setiap hari. Pimpin kami dengan Roh Kudus supaya hidup kami menghasilkan buah yang memuliakan nama-Mu. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow