Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Selasa, 11 Agustus 2026, Yohanes 9:8-12  Menyaksikan Yesus Melalui

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 12:02 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

PEMBACAAN ALKITAB: Yohanes 9:8-12
TEMA: MENYAKSIKAN YESUS MELALUI PENGALAMAN HIDUP

"Jawabnya: 'Orang yang disebut Yesus itu membuat lumpur, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat.'" (Yohanes 9:11)

Shalom, Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Setiap orang memiliki cerita hidup. Ada cerita tentang sukacita, ada pula cerita tentang air mata. Ada pengalaman keberhasilan, tetapi ada juga pengalaman kegagalan, sakit, pergumulan, bahkan kehilangan.

Namun, sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan setiap pengalaman hidup terjadi tanpa tujuan. Di balik setiap pengalaman, Tuhan sedang membentuk iman kita dan memberikan kesempatan agar hidup kita menjadi kesaksian bagi orang lain.

Itulah yang kita lihat dalam kisah Yohanes 9. Seorang yang sejak lahir buta mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Pertemuan itu mengubah seluruh hidupnya. Ia yang selama ini hanya dikenal sebagai pengemis, kini dapat melihat. Perubahan itu begitu nyata sehingga para tetangga dan orang-orang yang mengenalnya menjadi heran.

Mereka bertanya-tanya, "Benarkah ini orang yang dulu buta?" Sebagian berkata, "Ya, benar." Sebagian lagi berkata, "Bukan, hanya mirip." Di tengah perdebatan itu, orang yang telah disembuhkan itu tampil dengan berani dan berkata, "Benar, akulah itu."

Saudara-saudari, perubahan yang nyata selalu mengundang perhatian. Ketika Tuhan bekerja dalam hidup seseorang, orang lain akan melihat adanya perbedaan. Mereka mungkin tidak langsung percaya, bahkan ada yang meragukan. Namun perubahan yang berasal dari Tuhan tidak dapat disembunyikan.

Hidup yang dahulu penuh kegelapan kini menjadi terang. Hati yang dahulu dipenuhi kebencian kini dipenuhi kasih. Orang yang dahulu putus asa kini memiliki pengharapan. Semua itu menjadi kesaksian yang hidup.

Menariknya, ketika orang banyak bertanya bagaimana ia bisa sembuh, orang yang tadinya buta itu tidak memberikan penjelasan yang rumit. Ia tidak berbicara tentang teori atau pengetahuan yang tinggi.

Ia hanya menceritakan apa yang benar-benar dialaminya. Ia berkata, "Orang yang disebut Yesus itu membuat lumpur, mengoleskannya pada mataku, menyuruh aku pergi ke Siloam untuk membasuh diri, lalu aku pergi, membasuh diri, dan sekarang aku dapat melihat."

Kesaksian yang paling kuat bukanlah argumentasi yang hebat, melainkan pengalaman pribadi bersama Tuhan. Tidak semua orang mampu menjelaskan ajaran Alkitab secara mendalam. Tidak semua orang pandai berkhotbah. Tetapi setiap orang percaya memiliki pengalaman tentang bagaimana Tuhan bekerja dalam hidupnya.

Ada yang disembuhkan dari sakit. Ada yang dipulihkan keluarganya. Ada yang dilepaskan dari kebiasaan buruk. Ada yang dikuatkan melewati kesulitan ekonomi. Ada yang menemukan damai sejahtera di tengah pergumulan. Semua itu adalah karya Tuhan yang layak disaksikan.

Sering kali kita berpikir bahwa bersaksi harus dilakukan oleh pendeta, penatua, atau pelayan khusus di gereja. Padahal setiap orang percaya dipanggil menjadi saksi Kristus. Bersaksi tidak selalu berarti berdiri di mimbar. Bersaksi dapat dilakukan melalui kehidupan sehari-hari.

Ketika kita tetap jujur di tempat kerja, ketika kita mengampuni orang yang menyakiti kita, ketika kita tetap setia beribadah di tengah kesibukan, ketika kita tetap bersyukur dalam keadaan sulit, sesungguhnya kita sedang memperlihatkan bahwa Yesus hidup di dalam kita.

Sayangnya, banyak orang Kristen justru malu atau enggan menceritakan pertolongan Tuhan. Ada yang merasa pengalaman hidupnya terlalu biasa. Ada pula yang takut dianggap berlebihan.

Akibatnya, kesempatan untuk memperkenalkan Yesus kepada orang lain terlewatkan. Padahal mungkin saja ada seseorang yang sedang membutuhkan pengharapan. Kesaksian sederhana dari hidup kita dapat menjadi jalan yang dipakai Tuhan untuk menguatkan iman orang lain.

Dalam kisah ini kita juga belajar bahwa orang yang disembuhkan itu taat kepada perintah Yesus. Ketika Yesus menyuruhnya pergi ke kolam Siloam dan membasuh diri, ia tidak membantah atau mempertanyakan perintah tersebut. Ia pergi dan melakukannya. Ketaatan itulah yang mengantarkannya kepada mujizat.

Pelajaran ini sangat penting bagi kita. Kadang-kadang kita ingin mengalami mujizat, tetapi kita enggan menaati firman Tuhan. Kita ingin diberkati, tetapi tidak mau hidup benar. Kita ingin damai sejahtera, tetapi masih memelihara kebencian.

Kita ingin Tuhan membuka jalan, tetapi kita tidak mau melangkah sesuai kehendak-Nya. Pengalaman orang buta ini mengingatkan kita bahwa berkat Tuhan sering kali hadir melalui ketaatan kepada firman-Nya.

Perhatikan pula bahwa setelah mengalami mujizat, hidup orang itu tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri. Ia tidak mencari popularitas. Ia tidak meninggikan dirinya. Sebaliknya, ia mengarahkan perhatian orang kepada Yesus.

Ketika ditanya, ia langsung menyebut nama Yesus sebagai Pribadi yang telah menyembuhkannya. Inilah hakikat kesaksian yang benar. Kesaksian bukan untuk memuliakan diri sendiri, melainkan untuk memuliakan Tuhan.

Di zaman sekarang, dunia sedang membutuhkan lebih banyak saksi Kristus. Orang-orang di sekitar kita mungkin tidak membaca Alkitab setiap hari, tetapi mereka membaca kehidupan kita.

Mereka memperhatikan cara kita berbicara, bersikap, bekerja, memperlakukan keluarga, dan menghadapi masalah. Dari situlah mereka menilai apakah iman yang kita miliki sungguh nyata atau hanya sekadar pengakuan di bibir.

Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah hidup kita sudah menjadi kesaksian yang baik? Apakah orang lain dapat melihat kasih Kristus melalui perkataan dan tindakan kita? Ketika mereka melihat perubahan hidup kita, apakah kita dengan rendah hati mengatakan bahwa semuanya terjadi karena kasih karunia Tuhan Yesus?

Mungkin hari ini kita merasa tidak memiliki pengalaman yang luar biasa. Namun sesungguhnya setiap napas kehidupan, setiap pertolongan Tuhan, setiap doa yang dijawab, setiap kekuatan menghadapi masalah, adalah alasan untuk bersaksi. Kesaksian tidak harus spektakuler. Kesaksian yang sederhana tetapi jujur sering kali lebih menyentuh hati orang lain.

Akhirnya, marilah kita belajar dari orang yang dahulu buta itu. Ia berani mengakui siapa dirinya, ia tidak menyangkal masa lalunya, ia taat kepada perintah Yesus, dan ia menceritakan dengan jujur apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidupnya.

Kiranya kita pun menjadi orang-orang yang tidak malu menyaksikan kasih dan kuasa Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Biarlah melalui pengalaman hidup kita, semakin banyak orang mengenal, percaya, dan datang kepada Tuhan Yesus Kristus.

Kiranya Tuhan menolong kita menjadi saksi-saksi-Nya yang setia, sehingga nama-Nya dimuliakan melalui perkataan, sikap, dan seluruh perjalanan hidup kita. Amin.

 

Doa : Ya Bapa di surga, kami bersyukur atas firman-Mu yang telah kami dengar. Mampukan kami menjadi saksi Kristus melalui perkataan, sikap, dan kehidupan kami setiap hari. Berikan keberanian untuk menceritakan kasih dan pertolongan-Mu kepada sesama, agar semakin banyak orang percaya dan memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN PAGI GPIB SABDA BINA UMAT