Amsal 26:20-23
MEMATIKAN PERBUATAN BURUK
"Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran" (ay.20)
Pepatah lama mengatakan, "Lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri." Pepatah ini hendak menyatakan bahwa kita sangat mudah untuk mendaftarkan setiap keburukan orang lain daripada keburukan diri sendiri. Tanpa sadar kita lebih cenderung mudah mendaftarkan kebaikan diri daripada keburukan diri. Dalam kondisi ini, sulit bagi kita untuk menekan keburukan diri apalagi menghilangkan keburukan diri.
Amsal 26:20-23 menjadi catatan bagi kita yang mungkin sulit menerima setiap nasehat terkait keburukan diri. Kita pasti menolak, mengapa? Karena kita merasa apa yang kita lakukan sudah benar, dan menilai bahwa keburukan hanya milik orang lain. "Bila kayu habis, pemfitnah tidak ada, bagaikan arang untuk bara dan pecahan periuk bersalutkan kotoran perak" merupakan gambaran atas perilaku diri. Penulis Amsal memberikan gambaran yang kuat bahwa keburukan dalam diri seperti fitnah, pertengkaran, dan ucapan-ucapan menyakitkan, adalah bahan bakar dari berbagai konflik dan kerusakan relasi. Jika penyebabnya dihilangkan, maka segala keburukan itu pun akan mereda. Ketika kita mengurangi atau menghilangkan kebiasaan buruk maka kita sedang membuka jalan menuju perdamaian dan kebaikan dalam hubungan dengan sesama.
Di era digital saat ini, komunikasi berlangsung sangat cepat dan terbuka. Dalam situasi ini kita perlu waspada terhadap perbuatan buruk. Perbuatan buruk yang mungkin dapat menjadi sangat mengganggu bahkan menjadi ketersinggungan antara sesama dapat muncul melalui ucapan, tulisan, komentar, atau konten yang kita bagikan di media sosial. Oleh karena itu, penting untuk tetap berpegang pada norma-norma dan etika berkomunikasi secara digital. Hilangkan perbuatan buruk dalam bersosial-media yang mungkin menjadi hal biasa menurut pandangan kita. Bercerminlah dalam terang kasih dan hikmat Tuhan. Amin.
Doa: Tuhan, sadarkan dan ampuni jika masih ada perbuatan buruk yang kami lakukan. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow