Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Pertama di Indonesia, Bedah Saraf Otak Pasien Skizofrenia

Pratama Karamoy • Jumat, 24 April 2026 | 13:34 WIB
TEROBOSAN MEDIS: Dari kiri, dr Heri Subianto SpBS SubspFN(K), Dr dr Ahmad Fahmi SpBS SubspFN(K), dan dr Vega Pangariubun dalam psychosurgery di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Rabu (22/4). (DOKUMENTASI RSUD DR. SOETOMO)
TEROBOSAN MEDIS: Dari kiri, dr Heri Subianto SpBS SubspFN(K), Dr dr Ahmad Fahmi SpBS SubspFN(K), dan dr Vega Pangariubun dalam psychosurgery di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Rabu (22/4). (DOKUMENTASI RSUD DR. SOETOMO)

 SURABAYA – Rabu (22/4) lalu menjadi hari panjang sekaligus bersejarah di ruang operasi RSUD dr Soetomo, Surabaya.  Sejak pagi hingga malam, dua pasien kakak beradik asal Malang, Jawa Timur, YA dan NI, menjalani prosedur yang belum pernah dilakukan di Indonesia: psychosurgery. Psychosurgery adalah prosedur bedah saraf presisi pada otak untuk mengobati gangguan kejiwaan berat yang resisten terhadap pengobatan lain. YA, pria 30 tahun, telah hidup dengan skizofrenia sejak usia 13 tahun. Hampir 17 tahun dia bergulat dengan halusinasi dan ledakan emosi yang tak terkendali.

Tiga tahun setelahnya, sang adik, NI, perempuan 27 tahun, menyusul dengan kondisi serupa. Lebih dari satu dekade hidup dalam bayang-bayang suara-suara yang terus menghantui. Bagi dr Azimatul Karimah SpKJ(K), angka-angka itu bukan sekadar data medis. Itu penanda panjangnya terapi yang sudah pernah dijalani kedua pasien tersebut.

"Pasien ini sudah mendapatkan terapi obat dan terapi elektrokonvulsif, tetapi gejalanya masih dominan," ujar dokter penanggung jawab pasien tersebut di Surabaya kemarin (23/4).

Kondisi YA bahkan telah menggerus kemandiriannya. Aktivitas dasar seperti mandi dan makan harus dibantu, sementara kemampuan berbicara sangat terbatas. Halusinasi visual yang dialami sering memicu amarah mendadak, tak jarang berujung pada tindakan agresif. "Kemampuan verbalnya menurun dan perilaku agresif masih sering muncul," jelasnya.

Baca Juga: Ketua DPRD Magetan Menangis Masuk Penjara

NI menghadapi tekanan yang berbeda. Dia terus mendengar suara-suara yang menghina dan merendahkan, membuat emosinya naik turun tanpa kendali. Di satu sisi dia sadar dengan kondisinya, namun di sisi lain tak mampu menahan ledakan perasaan yang datang tiba-tiba.

Di rumah, kondisi itu memaksa orang tua mengambil langkah ekstrem. YA dan NI harus dipisahkan ruang hidupnya agar tidak saling melukai. Perawatan pun terbagi: ayah mendampingi YA, ibu merawat NI.

Situasi itu berlangsung bertahun-tahun tanpa perubahan berarti. Di titik itulah, opsi psychosurgery mulai dipertimbangkan.

Asesmen Mulai Februari

Namun, keputusan itu tidak datang tiba-tiba. Sejak Februari 2026, tim memulai asesmen berlapis untuk memastikan bahwa kedua pasien benar-benar masuk kategori skizofrenia resisten terapi. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi MRI (magnetic resonance imaging) otak, tes psikologis, hingga evaluasi fungsi kognitif. Hasilnya tidak langsung bermuara pada keputusan.

Diskusi dilakukan berulang kali, melibatkan psikiater, psikolog, perawat, hingga dokter bedah saraf. Setiap aspek dipertimbangkan.

"Keputusan operasi tidak diambil sendiri, tetapi melalui diskusi multidisiplin yang berulang," kata Azimatul.

Keyakinan tim juga diperkuat oleh pengalaman belajar di Tiongkok. Tim dokter mempelajari teknik psychosurgery modern dengan pendekatan stereotaktik.

Sayatan yang dilakukan hanya sekitar dua sentimeter, dengan alat kecil yang menarget area otak tertentu secara akurat. "Metode ini lebih aman karena minim sayatan dan lebih presisi," jelasnya.

Meski begitu, kehati-hatian tetap menjadi prinsip utama. Tim bahkan berkoordinasi dengan tim bedah saraf dari West China Hospital, Sichuan University, Chengdu, Tiongkok, untuk memastikan kelayakan pasien. Data pemeriksaan dikirim dan dibahas secara detail sebelum keputusan final diambil.

Memasuki pertengahan April, tepatnya sekitar 14-15 April, kedua pasien mulai menjalani rawat inap untuk persiapan. Pemeriksaan ulang dilakukan untuk memastikan kondisi tubuh benar-benar siap menjalani operasi, dari jantung, darah, hingga MRI ulang.

Pemetaan Koordinat

Hari operasi pun tiba. YA menjadi pasien pertama yang masuk ruang operasi pada pagi hari. Sekitar pukul 09.00 tindakan dimulai, diawali dengan pemasangan alat stereotaktik dan pemetaan koordinat otak berdasarkan hasil MRI dan CT scan. Proses berlangsung hingga sekitar pukul 13.30.

"Penentuan koordinat dilakukan sangat detail agar intervensi tepat sasaran," tuturnya.

Setelah jeda singkat, giliran NI menjalani prosedur serupa. Proses dimulai dengan CT scan sebelum tindakan inti dilakukan pada sore hari. Operasi berlangsung hingga menjelang malam, sekitar pukul 18.30-19.00. Dalam satu hari, dua tindakan besar dilakukan secara bergantian di ruang operasi yang sama.

"Setiap tahap membutuhkan ketelitian dan koordinasi tim," katanya.

Menurut dia, momen paling krusial justru datang setelah operasi selesai. Evaluasi dilakukan dalam hitungan jam untuk memastikan tidak ada komplikasi seperti perdarahan atau infeksi. Hasil awal menjadi indikator penting keberhasilan tindakan tersebut.

Pada YA, perubahan terlihat cepat. Dalam 24 jam, dia sudah bisa duduk, makan, dan berkomunikasi lebih baik. Halusinasi yang sebelumnya muncul setiap hari tidak lagi terlihat.

"Halusinasi tidak ada dan pasien sudah lebih kooperatif," ujarnya.

NI menunjukkan perbaikan bertahap. "Halusinasi masih ada, tetapi intensitasnya menurun dan kemampuan komunikasi mulai membaik. Itu termasuk perkembangan positif dalam fase awal pascaoperasi," katanya.

Meski hasil awal menjanjikan, Azimatul menegaskan bahwa tujuan operasi bukanlah kesembuhan instan. Psychosurgery adalah bagian dari terapi jangka panjang untuk mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

"Kami menargetkan perbaikan klinis agar pasien bisa lebih mandiri," tegasnya.

Di balik keberhasilan ini, ia menekankan pentingnya kerja tim. Perawat, psikolog, dokter bedah saraf, anestesi, dan tenaga medis lain menjadi bagian yang tak terpisahkan, termasuk perawat yang mendampingi pasien sejak awal hingga pascaoperasi. (dho/ttg)

Editor : Pratama Karamoy
#Nasional #skizofrenia