JagoSatu.com- Konflik merupakan bagian yang tidak dapat dihindari dalam sebuah hubungan, namun cara seseorang menghadapinya dapat menentukan apakah hubungan tersebut menjadi lebih kuat atau justru semakin retak, menurut artikel yang dipublikasikan situs kesehatan dan gaya hidup Lifestyle.org, yang merangkum lima langkah efektif untuk mengurangi dan menyelesaikan konflik.
Menurut artikel tersebut, karena konflik tidak dapat sepenuhnya dihindari, langkah paling mendasar yang perlu dilakukan adalah membangun batasan yang sehat serta menyeimbangkan emosi guna mengurangi stres dan kecemasan yang tidak perlu akibat pertikaian.
Kenali Sumber Konflik dan Beranikan Diri Membicarakannya
Langkah pertama yang disarankan adalah mengenali sumber konflik secara jelas, karena seseorang akan terjebak dalam siklus pertikaian yang berulang selama akar masalahnya belum teridentifikasi dan ditangani secara langsung.
Menghindari atau mengelak dari masalah justru akan memperburuk keadaan dan membuat seseorang tetap terjebak dalam siklus konflik yang tanpa akhir, sementara mengenali akar masalah memungkinkan semua pihak yang terlibat untuk bersama-sama mencari solusi agar persoalan tersebut tidak terus berulang.
Langkah kedua adalah keberanian untuk membicarakan masalah tersebut di tempat yang aman dan tenang begitu akar persoalannya teridentifikasi, karena membiarkan konflik tanpa dibicarakan hanya akan membuat persoalan terus membesar hingga akhirnya meledak.
Artikel tersebut turut menekankan bahwa cara seseorang menyampaikan sesuatu sama pentingnya dengan apa yang disampaikan, sehingga keberanian menghadapi masalah perlu dibarengi dengan cara berkomunikasi yang tepat agar penyelesaian dapat tercapai.
Dengarkan dengan Empati dan Cari Solusi Bersama
Langkah ketiga adalah mendengarkan secara aktif untuk memahami sudut pandang orang lain, karena cara seseorang mendengarkan dapat memperbaiki atau justru memperburuk suatu persoalan, sehingga penting untuk bersabar dan tidak menyela pembicaraan lawan bicara.
Sikap menyela pembicaraan dinilai sebagai bentuk pikiran tertutup, sikap defensif, dan kurangnya rasa hormat, sehingga setiap pihak perlu menghargai sudut pandang, pendapat, serta perasaan lawan bicaranya agar didengarkan secara adil ketika gilirannya tiba untuk berbicara.
Langkah keempat dilakukan setelah masing-masing pihak menyampaikan isi hatinya, yakni mencari kompromi dan solusi yang disepakati bersama, termasuk dengan mencatat berbagai kemungkinan solusi di atas kertas untuk memicu ide-ide kreatif lainnya.
Fokus yang diarahkan pada solusi, bukan pada individu yang terlibat, dinilai dapat membuat semua pihak merasa lebih aman dan menurunkan sikap defensif, sementara sikap mengkritik dan menghakimi justru tidak akan membawa penyelesaian ke arah mana pun.
Langkah kelima dan terakhir adalah menyepakati serta menerapkan solusi terbaik setelah menemukan titik temu bersama, di mana proses ini akan lebih mudah dijalankan apabila setiap pihak merasa didengarkan dan dipertimbangkan pendapatnya.
Artikel tersebut menutup dengan menekankan bahwa konflik sebaiknya dipandang sebagai peluang untuk bertumbuh, bukan sesuatu yang harus dihindari, karena penyelesaian konflik yang tepat dapat memperkuat hubungan dengan membuat seseorang lebih peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitarnya.
Editor : ALengkong