Fenomena anak-anak usia delapan hingga 13 tahun yang mengincar produk perawatan kulit berharga mahal kini memicu perhatian publik setelah merek Drunk Elephant viral di kalangan Generasi Alpha. Tren perawatan wajah anak-anak ini didorong oleh pengaruh media sosial yang membuat produk kecantikan dewasa menjadi daftar hadiah paling dicari.
Popularitas merek yang didirikan oleh Tiffany Masterson pada 2013 ini melonjak pesat di platform digital seperti TikTok dan YouTube Shorts. Tagar khusus anak-anak di toko kecantikan bahkan telah ditonton lebih dari lima juta kali, memperlihatkan antusiasme tinggi anak-anak dalam memburu produk perawatan kulit bernilai di atas 50 dolar AS.
Lonjakan minat anak-anak ini menciptakan tantangan tersendiri bagi para orang tua yang dikejutkan oleh permintaan lini produk spesifik. Anak-anak Sekolah Dasar kini secara khusus meminta pembersih, serum pencerah B-Goldi, hingga pelembap Protini Polypeptide yang harganya mencapai puluhan dolar AS per kemasan.
Pertumbuhan bisnis merek ini memang tergolong luar biasa sejak awal kemunculannya di industri kecantikan global. Pada tahun 2018, perusahaan mencatatkan penjualan bersih mendekati 100 juta dolar AS sebelum akhirnya diakuisisi oleh raksasa kecantikan Shiseido pada tahun 2019 dengan nilai fantastis mencapai 845 juta dolar AS.
Pengaruh Media Sosial dan Psikologi Anak
Pengaruh media sosial dan pergeseran perilaku psikologis anak menjadi faktor utama yang mendorong obsesi Generasi Alpha terhadap produk perawatan kulit dewasa. Pakar psikologi media Don Grant menjelaskan bahwa anak-anak usia muda secara alami memiliki kecenderungan untuk meniru perilaku orang dewasa melalui aktivitas bermain dan berdandan.
Fenomena ini kian menguat seiring hadirnya efek parasosial media, di mana anak-anak mulai menjadikan kreator konten dan pemengaruh digital sebagai panutan kelompok sebaya mereka. Video bertema tata rias pemula dan rutinitas perawatan wajah untuk anak usia sepuluh tahun bertebaran di platform Shorts, memicu persaingan tren di lingkungan sekolah.
Pendiri merek perawatan remaja Rile, Kelly Atterton, menilai bahwa rutinitas perawatan kulit memberikan rasa kendali dan kepemilikan diri bagi anak-anak yang sedang tumbuh. Memilih produk kecantikan sendiri menjadi salah satu bentuk penegasan identitas bagi anak-anak di tengah keterbatasan otonomi harian yang mereka miliki.
Risiko Kandungan Aktif pada Kulit Usia Muda
Penggunaan bahan aktif berpotensi tinggi pada kulit anak-anak membawa risiko gangguan kesehatan kulit seperti iritasi hingga peradangan kemerahan. Dokter spesialis kulit dari Rumah Sakit Mount Sinai, Joshua Zeichner, memperingatkan bahwa anak-anak di bawah usia 13 tahun tidak membutuhkan kandungan keras seperti retinol, asam hidroksi, dan vitamin C.
Penggunaan produk pelembap yang berlebihan atau formulasi pelembap yang terlalu pekat juga berisiko memicu kondisi dermatitis perioral pada wajah anak. Bahan aktif kuat yang digunakan tanpa pengawasan medis tepat hanya akan merusak lapisan pelindung kulit anak yang secara alami masih sangat sensitif.
Kendati risikonya tidak selalu berdampak pada penuaan dini jangka panjang, peradangan ringan yang terjadi secara terus-menerus dapat mengganggu proses penyembuhan alami luka kulit. Oleh karena itu, keterlibatan dokter spesialis kulit sangat diperlukan apabila anak membutuhkan penanganan khusus untuk masalah kulit seperti jerawat.
Sikap Produsen dan Tanggung Jawab Orang Tua
Pihak produsen menegaskan tidak pernah secara sengaja mengarahkan strategi pemasaran maupun desain kemasan warna-warni mereka untuk menargetkan konsumen anak-anak. Pendiri Drunk Elephant, Tiffany Masterson, menyatakan bahwa seluruh pilihan warna dan estetika kemasan murni didasarkan pada selera pribadinya sejak merek tersebut pertama kali didirikan.
Masterson menambahkan bahwa sebagian besar produk pelembap dan perawatan dasar aman digunakan untuk semua usia berdasarkan data klinis, namun secara tegas melarang anak di bawah 13 tahun menggunakan produk berbahan retinol atau asam. Pihak perusahaan juga merilis panduan khusus di media sosial guna mengedukasi masyarakat mengenai produk yang aman untuk kulit pra-remaja.
Pendiri merek perawatan anak TBH Kids, Risa Barash, menekankan pentingnya transparansi dan respons cepat dari produsen saat produk mereka mulai digandrungi anak-anak. Produsen dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara lebih lantang dan mengingatkan publik agar anak-anak tidak sembarangan mengaplikasikan bahan kimia aktif pada wajah mereka.
Pada akhirnya, keputusan untuk membatasi atau mengizinkan penggunaan produk kecantikan berada sepenuhnya di tangan para orang tua melalui komunikasi yang terbuka. Orang tua dianjurkan untuk berdiskusi secara bijak dengan anak mengenai alasan di balik ketertarikan mereka, sekaligus menetapkan batasan wajar terkait anggaran belanja dan keamanan kesehatan kulit.
Editor : ALengkong