Studi: WFH Tingkatkan Risiko Tekanan Psikologis bagi Pekerja yang Tinggal Sendiri

ALengkong • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 10:41 WIB
Ilustrasi orang stress kerja (doc: Freepik)
Ilustrasi orang stress kerja (doc: Freepik)

JagoSatu.com - Kerja jarak jauh (remote work) berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental dalam jangka panjang, terutama pada pekerja yang tinggal sendiri, menurut hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science. Melansir laman Psychology Today, Selasa, penelitian tersebut menganalisis data lebih dari 500.000 orang dewasa di Amerika Serikat dengan membandingkan pekerja pada pekerjaan yang dapat dilakukan secara jarak jauh dan pekerjaan yang mengharuskan kehadiran langsung.

Hasil penelitian menunjukkan pekerja remote rata-rata menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih lama sendirian setiap hari dibandingkan pekerja non-remote. Kondisi tersebut diikuti peningkatan tingkat tekanan psikologis, depresi, kecemasan, dan rasa kesepian.

Namun, studi itu juga menemukan bahwa dampak negatif kerja jarak jauh tidak dialami oleh seluruh pekerja. Pekerja remote yang tinggal bersama keluarga tidak mengalami peningkatan tekanan psikologis maupun waktu menyendiri secara signifikan. Sebaliknya, pekerja yang tinggal sendiri tercatat lebih banyak menghabiskan waktu sendirian dan mengalami peningkatan tekanan psikologis.

Penelitian tersebut juga menunjukkan pekerja yang baru beralih ke sistem kerja remote belum mengalami peningkatan gangguan kesehatan mental. Temuan ini mengindikasikan bahwa dampak tersebut cenderung muncul setelah kerja jarak jauh dijalani dalam jangka waktu yang lebih panjang. Berkurangnya interaksi sosial diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap memburuknya kesehatan mental pada pekerja remote yang tinggal sendiri.

Meski demikian, kerja jarak jauh tidak selalu berdampak negatif. Mengutip laporan Neurobridge, pekerja neurodivergen, termasuk penyandang autisme dan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), justru menganggap kebijakan kembali bekerja penuh di kantor sebagai salah satu sumber stres. Sistem kerja fleksibel maupun hybrid dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai bagi sebagian pekerja neurodivergen, karena interaksi sosial secara tatap muka tidak selalu memberikan pengalaman yang positif bagi mereka.

Sementara itu, penelitian terhadap sekitar 1.600 pekerja di China menunjukkan bahwa sistem kerja fleksibel dan hybrid dapat meningkatkan kepuasan kerja, kinerja, serta kesehatan mental, terutama pada pekerja dengan waktu tempuh perjalanan yang panjang dan pekerja perempuan. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak kerja jarak jauh tidak dapat digeneralisasi, karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi tempat tinggal, karakteristik individu, hingga budaya dan sistem transportasi di masing-masing negara.

Editor : ALengkong
Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5658463/wfh-tingkatkan-tekanan-psikologis-pekerja-yang-tinggal-sendiri?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=popular_right
#WFH #tekanan kerja