JagoSatu.com- Stres kerja merupakan respons yang muncul ketika seseorang dihadapkan pada tuntutan dan tekanan pekerjaan yang tidak sebanding dengan pengetahuan dan kemampuannya, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi kemampuan pekerja untuk mengatasinya.
Tekanan di tempat kerja pada dasarnya sulit dihindari karena tuntutan lingkungan kerja modern, dan stres tersebut terkadang justru dapat membuat pekerja tetap waspada dan termotivasi, meski di sisi lain juga bisa terasa membebani.
Kondisi ini menurut dr. Budiyanto, MARS, dapat menjadi lebih buruk ketika seorang pekerja tidak mendapat dukungan dari atasan maupun rekan kerja, serta memiliki sedikit kendali atas proses kerjanya sendiri.
Jenis pertama adalah stres akut, yang bersifat situasional dan hanya berlangsung sebentar, terkadang bahkan menimbulkan sensasi menyenangkan atau motivasi saat menghadapi tantangan baru yang menarik.
Meski begitu, perasaan yang menyertai stres akut tetap perlu mendapat perhatian, terutama jika seseorang merasa waktu 24 jam terasa kurang untuk pekerjaannya, sehingga penting untuk tetap menjaga waktu istirahat, pola makan, dan olahraga di tengah kesibukan.
Jenis kedua adalah exhaustion atau burnout, yakni kondisi kelelahan secara fisik, emosional, maupun intelektual yang berdampak besar pada pekerjaan dan memerlukan penanganan segera.
Gejala burnout yang perlu diwaspadai antara lain suasana hati negatif, kurangnya motivasi, dan tanda-tanda depresi, dengan cara mengatasinya melalui istirahat sejenak serta mengatur pola hidup menjadi lebih sehat agar pikiran dan tubuh punya kesempatan pulih.
Jenis ketiga adalah stres yang disebabkan rasa takut, yang biasanya muncul ketika pekerja ditugaskan mengambil keputusan penting dengan konsekuensi besar, memicu ketakutan terselubung yang berujung pada stres.
Untuk mengatasi jenis stres ini, berdiskusi dengan rekan kerja yang dipercaya atau atasan guna mendapatkan dukungan atas keputusan yang diambil dapat membantu meringankan beban yang dirasakan.
Secara fisiologis, stres memicu alarm di otak yang mempersiapkan tubuh untuk tindakan defensif, ditandai pelepasan hormon yang mempertajam indra, mempercepat denyut nadi, memperdalam pernapasan, dan menegangkan otot sebagai respons alami untuk bertahan dari situasi yang mengancam.
Episode stres biasanya berlangsung singkat dan jarang menimbulkan risiko serius, namun jika situasi stres tidak terselesaikan, tubuh akan menyimpan stres tersebut hingga berujung pada kelelahan atau masalah kesehatan lain.
Selama dua dekade terakhir, berbagai penelitian menemukan kaitan antara stres kerja dengan sejumlah gangguan kesehatan, seperti gangguan suasana hati, gangguan tidur, sakit perut, dan sakit kepala.
Stres kronis yang tersimpan dalam waktu lama bahkan dapat berdampak pada penyakit yang lebih serius, termasuk penyakit kardiovaskular, gangguan muskuloskeletal, dan gangguan psikologis, sehingga penanganan sejak dini terhadap stres kerja menjadi hal yang penting untuk dilakukan.
Editor : ALengkong