Jagosatu.com- Sebanyak 49 persen generasi Z di seluruh dunia mengaku telah membentuk hubungan yang bermakna dengan kecerdasan buatan. Temuan ini menjadi salah satu sorotan utama dalam riset tren tahunan yang memetakan pola hidup dan perilaku masyarakat global menjelang 2026.
Data ini dihimpun melalui survei yang melibatkan 15.639 responden dewasa di 16 negara, dengan sekitar 1.000 partisipan per negara. Survei tersebut dilakukan pada periode 24 September hingga 3 November 2025, sebelum hasilnya dirangkum dan dipublikasikan pada akhir Januari 2026.
Riset ini memperkenalkan tren bertajuk "Synthetic Generation" dan "RelAItionships Evolved" yang menggambarkan bagaimana kecerdasan buatan kini tidak lagi sekadar berperan sebagai alat bantu, melainkan mulai dianggap sebagai pendamping emosional bagi sebagian penggunanya. Pergeseran ini mencerminkan cara generasi muda mulai menegosiasikan ulang makna hidup dan bekerja berdampingan dengan entitas nonmanusia.
Fenomena ini turut mencakup kemunculan konsep tenaga kerja otomatis berbasis AI, yang mulai mengubah pola interaksi manusia dengan teknologi di berbagai aspek kehidupan, baik dalam ranah personal maupun profesional. Batas antara interaksi manusia dan mesin dinilai semakin kabur dari waktu ke waktu.
Meski demikian, riset ini juga menegaskan bahwa koneksi antarmanusia yang otentik tetap menjadi kebutuhan mendasar yang tidak tergantikan. Di tengah semakin menyatunya realitas digital dan fisik dalam kehidupan generasi Z, kebutuhan akan hubungan manusiawi yang nyata dinilai tetap menjadi fondasi penting yang tidak boleh diabaikan.
Riset ini secara keseluruhan memetakan 100 tren yang mencakup sepuluh sektor, mulai dari budaya, teknologi, perjalanan dan perhotelan, pemasaran, makanan dan minuman, kecantikan, ritel, gaya hidup mewah, kesehatan, hingga inovasi. Riset ini turut melibatkan wawasan dari lebih dari 60 pakar global di berbagai industri.
Salah satu konsep besar yang diperkenalkan dalam riset ini adalah "dystoptimism", sebuah istilah yang menggambarkan suasana kolektif masyarakat yang mengakui adanya tantangan global tanpa harus menyerah pada keputusasaan. Konsep ini dinilai relevan dengan cara generasi muda memandang teknologi, termasuk kecerdasan buatan, sebagai peluang di tengah ketidakpastian.
Selain temuan mengenai hubungan dengan AI, riset ini juga mencatat bahwa sebanyak 86 persen responden secara umum mengaku mencari pengalaman yang mampu menghadirkan rasa kagum dan mengubah sudut pandang mereka terhadap kehidupan. Kebutuhan akan pengalaman semacam ini turut memengaruhi pola konsumsi dan gaya hidup generasi muda secara lebih luas.
Temuan mengenai hubungan bermakna dengan AI ini menjadi salah satu indikator penting bagi para pelaku industri dalam memahami perubahan besar cara generasi muda membangun kepercayaan, baik terhadap teknologi maupun terhadap merek yang mereka gunakan sehari-hari. Transparansi dan akuntabilitas AI disebut menjadi faktor kunci yang harus terus didorong ke depan.
Dengan hampir separuh generasi Z kini mengaku memiliki keterikatan emosional terhadap kecerdasan buatan, riset ini menegaskan bahwa hubungan manusia dengan teknologi telah memasuki fase baru yang lebih personal. Perkembangan ini diperkirakan akan terus membentuk cara generasi muda berinteraksi, bekerja, dan menjalani kehidupan sehari-hari di tahun-tahun mendatang.
Editor : ALengkong