Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Google Ungkap Serangan Siber AI Berskala Industri

Pratama Karamoy • Rabu, 13 Mei 2026 | 17:34 WIB
ANTISIPATIF: Perangkat untuk menangkal serangan siber berbasis AI ditampilkan dalam forum "InCyber" di Grand Palais, Lille (Prancis bagian utara), awal bulan lalu (2/4). (AFP)
ANTISIPATIF: Perangkat untuk menangkal serangan siber berbasis AI ditampilkan dalam forum "InCyber" di Grand Palais, Lille (Prancis bagian utara), awal bulan lalu (2/4). (AFP)

 

LONDON – Laporan terbaru dari Google mengungkap perubahan drastis dalam situasi keamanan siber global. Dalam waktu hanya tiga bulan, praktik peretasan berbasis akal imitasi (AI) berkembang dari ancaman awal menjadi serangan berskala industri.

Google melalui tim intelijen ancaman siber menyebut bahwa model AI komersial kini dimanfaatkan untuk mempercepat dan meningkatkan kompleksitas serangan digital. Laporan tersebut menyoroti bagaimana kemampuan AI dalam menulis kode secara otomatis membuat eksploitasi celah sistem perangkat lunak menjadi lebih cepat, luas, dan sulit dideteksi dibandingkan metode konvensional.

"Pelaku ancaman kini memanfaatkan AI untuk mempercepat, memperluas, dan menyempurnakan serangan, termasuk dalam pengembangan malware yang lebih kompleks," kata kepala analis intelijen ancaman Google, John Hultquist, seperti dilansir The Guardian.

Laporan itu juga mengidentifikasi keterlibatan aktor kriminal serta kelompok yang didukung negara dari Tiongkok, Korea Utara, dan Rusia. Mereka dilaporkan memanfaatkan model komersial seperti Gemini, Claude, serta OpenAI untuk menyempurnakan dan memperluas skala serangan siber yang dilakukan secara sistematis terhadap berbagai target global.

Baca Juga: Singapura Terapkan Hukum Cambuk bagi Siswa Pelaku Bullying

Di sisi lain, kekhawatiran juga muncul dari industri AI itu sendiri. Perusahaan Anthropic diketahui sempat menunda peluncuran model terbarunya, Mythos, setelah menilai bahwa kemampuan model tersebut terlalu kuat dan berpotensi disalahgunakan.

Anthropic menyebut Mythos mampu menemukan kerentanan zero-day—yakni celah keamanan pada sistem atau perangkat lunak yang belum diketahui dan belum sempat diperbaiki oleh pengembang—di semua sistem operasi utama dan semua peramban web utama. Laporan Google juga menemukan bahwa sebuah kelompok kriminal hampir memanfaatkan kerentanan zero-day untuk kampanye eksploitasi massal dengan bantuan model bahasa besar (LLM) lain, bukan Mythos. (din/dns)

Editor : Pratama Karamoy
#Google #AI #Teknologi