JagoSatu.com - FCC baru saja mengumumkan larangan total terhadap router konsumen yang dibuat di luar Amerika Serikat. Langkah ini mengikuti arahan Presiden Trump untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing demi keamanan nasional. Kebijakan ini sangat radikal karena hampir semua perangkat jaringan yang kita gunakan saat ini dirakit di luar negeri.
Router yang sudah beredar masih boleh dijual dan digunakan oleh konsumen seperti biasa. Namun, FCC tidak akan menyetujui model baru yang diproduksi, dirancang, atau dirakit di luar AS tanpa izin khusus. Ini berarti siklus inovasi teknologi Wi-Fi di Amerika bisa terhambat secara drastis dalam beberapa tahun ke depan.
Berdasarkan laporan dari Ars Technica, larangan ini berlaku untuk perusahaan AS maupun asing yang melakukan proses produksi di luar wilayah Amerika Serikat. "Major stage" dalam pembuatan perangkat tersebut kini diawasi sangat ketat. Intelijen pasar pasti sedang kacau sekarang karena memindahkan pabrik bukanlah perkara mudah atau murah bagi produsen.
Pengecualian hanya diberikan jika Departemen Pertahanan atau Keamanan Dalam Negeri menyatakan perangkat tersebut tidak berisiko. Produsen harus memberikan alasan kuat mengapa mereka tidak memproduksinya di Amerika Serikat. Proses birokrasi ini dipastikan akan menjadi jalur yang sangat panjang dan melelahkan bagi para vendor router global.
FCC beralasan bahwa serangan siber sering memanfaatkan kerentanan pada router kantor kecil dan rumah tangga yang diproduksi di luar negeri. Perangkat yang terkompromi bisa menjadi alat mata-mata atau serangan botnet yang masif. Meskipun alasan keamanannya masuk akal, dampaknya terhadap harga perangkat konsumen pasti akan melonjak tinggi.
Sebagaimana dilaporkan oleh Ars Technica, daftar terlarang atau "Covered List" kini mencakup semua router asing, bukan hanya merek tertentu seperti Huawei atau ZTE. Ini adalah pendekatan menyeluruh yang menyasar seluruh industri jaringan. Langkah sapu bersih ini menunjukkan bahwa pemerintah AS tidak lagi mau berkompromi dengan rantai pasokan global.
Vendor yang ingin mendapatkan izin harus menyerahkan rencana terperinci dan terikat waktu untuk membangun manufaktur di dalam negeri. Tanpa rencana ini, produk baru mereka tidak akan bisa dipasarkan di wilayah Amerika. Ini adalah paksaan halus agar perusahaan teknologi melakukan lokalisasi industri besar-besaran di tanah Amerika.
TP-Link menyatakan bahwa kebijakan ini memengaruhi hampir semua router baru karena rantai pasokannya yang sangat global. Namun, mereka menyambut baik pengawasan industri ini dan berencana memperluas manufaktur di AS. Respon yang sangat diplomatis, meski kita tahu ini adalah tantangan logistik yang sangat berat bagi mereka.
Mengutip laporan Ars Technica, FCC membatalkan aturan era Biden yang mewajibkan penyedia telekomunikasi mengamankan jaringan mereka sendiri. Ketua FCC Brendan Carr mengklaim tindakan sebelumnya tidak efektif menangani ancaman nyata. Sepertinya ada pergeseran strategi besar dari sekadar regulasi perangkat lunak menjadi kontrol ketat pada perangkat keras.
Netgear sebagai perusahaan yang bermarkas di AS memberikan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah ini. Mereka merasa sudah lama berinvestasi dalam desain yang mengutamakan keamanan dan praktik transparan. Tentu saja mereka senang, karena kebijakan ini memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan lokal dibandingkan kompetitor asing.
Larangan ini mencakup tahap desain hingga pengembangan, yang berarti router tidak boleh dirancang di luar AS. Jika sebuah chip dirancang di luar negeri, itu bisa menjadi masalah besar bagi persetujuan FCC. Standar ini sangat ketat dan mungkin akan memaksa desainer talenta global berpindah ke Amerika.
Seperti yang dikutip oleh Ars Technica, perusahaan seperti DJI bahkan menuntut FCC atas larangan serupa pada drone. Industri router mungkin akan menempuh jalur hukum yang sama jika bisnis mereka terancam bangkrut. Pertarungan di pengadilan akan menjadi tontonan menarik antara raksasa teknologi melawan kebijakan keamanan nasional.
Pemerintah menekankan bahwa Amerika Serikat tidak boleh bergantung pada kekuatan luar untuk komponen inti yang diperlukan bagi pertahanan atau ekonomi. Visi ini disebut sebagai bagian dari Strategi Keamanan Nasional 2025. Kemandirian teknologi memang impian setiap negara, tapi eksekusinya di dunia yang terinterkoneksi sangatlah sulit.
FCC memberikan pengecualian untuk pembaruan keamanan hingga Maret 2027 bagi perangkat yang sudah ada. Ini dilakukan agar fungsi perangkat lama tetap berjalan tanpa celah keamanan yang berbahaya. Setidaknya konsumen lama tidak langsung ditinggalkan, meski masa depan perangkat mereka kini memiliki tanggal kedaluwarsa.
Ke depannya, harga router di AS diprediksi akan naik karena biaya manufaktur lokal yang jauh lebih tinggi. Konsumen harus membayar lebih untuk label "Made in USA" demi keamanan data mereka. Keamanan memang mahal harganya, dan sepertinya warga Amerika harus bersiap merogoh kocek lebih dalam. (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung