JAKARTA – Hanya sehari setelah dicopot dari jabatannya, tiga mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan Kejaksaan Agung (Kejagung). Mereka diduga memanfaatkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meraup keuntungan pribadi. Tiga orang tersebut adalah mantan Kepala BGN Dadan Hindayana serta dua mantan wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.
Penahanan diawali serangkaian penggeledahan sejak Rabu (3/6) dini hari. Tim Kejagung yang dikawal sejumlah personel TNI mendatangi kantor BGN di Jakarta Pusat. Secara terpisah, tim lain menggeledah rumah Dadan, Sony, dan Lodewyk. Sekitar pukul 04.00, ketiganya dijemput di lokasi berbeda untuk menjalani pemeriksaan di Kejagung. Dalam video yang diterima Jawa Pos, tampak momen saat para mantan petinggi BGN itu dibawa menuju kantor Kejagung. Pemeriksaan berlangsung maraton sepanjang hari.
Pantauan Jawa Pos, sekitar pukul 17.30, Dadan, Sony, dan Lodewyk keluar dari Gedung Kejagung secara bergantian dengan mengenakan rompi tahanan merah muda dan tangan terborgol. Ketiganya memilih bungkam saat dicecar pertanyaan wartawan. "Para tersangka ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung dan Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan," ujar Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi. Menurut Syarief, penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik mengantongi sedikitnya dua alat bukti terkait dugaan korupsi tata kelola Program MBG tahun anggaran 2025–2026. "Berdasarkan hasil penyidikan, yayasan-yayasan yang ditunjuk sebagai mitra SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) ternyata dijadikan sarana kejahatan dan terafiliasi dengan para pejabat BGN itu sendiri," katanya.
Pada 2025, Program MBG memperoleh alokasi APBN sebesar Rp 85,27 triliun. Anggaran tersebut melonjak menjadi Rp 268 triliun pada 2026. Syarief menjelaskan, para tersangka diduga mengintervensi sistem verifikasi mitra pada portal BGN. Akibatnya, sejumlah yayasan yang tidak memenuhi syarat tetap dinyatakan lolos karena memiliki keterkaitan dengan ketiga pejabat tersebut. SPPG abal-abal itu bahkan bisa mendapat insentif miliaran rupiah per hari. Penyidik juga menemukan dugaan penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa. Ketiga tersangka diduga mengintervensi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK), sehingga membuka ruang bagi pengadaan yang tidak relevan dengan kebutuhan program.
Alih-alih digunakan untuk memperkuat operasional dapur MBG dan pelayanan gizi di lapangan, anggaran negara diduga diarahkan ke sejumlah pengadaan bermasalah yang terindikasi mengalami penggelembungan harga. Syarief juga membenarkan adanya penggeledahan yang dilakukan penyidik. Dari penggeledahan itu, penyidik menyita sejumlah barang bukti. "Ada berkas dokumen dan barang bukti elektronik seperti laptop dan handphone yang diamankan," katanya.
Dia menegaskan, penanganan perkara tersebut tidak dilakukan secara mendadak. Tim penyidik telah memantau sejumlah kejanggalan dalam Program MBG sejak beberapa waktu lalu. "Namun, proses lidik kami mulai sekitar seminggu lalu," ujarnya. Kejagung tidak menutup kemungkinan menetapkan tersangka baru dalam kasus tersebut. "Selama ada bukti baru, tentu akan kami kembangkan lagi," tegasnya.
Baca Juga: Kemendag Take Down 2.639 Iklan Elektronik
Presiden Temui Ribuan Petugas MBG
Saat kejagung menahan tiga mantan pimpinan BGN, Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan ribuan petugas MBG di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat. Dalam kesempatan itu, Prabowo menyampaikan apresiasi kepada para petugas MBG yang selama ini bertugas hingga ke daerah terpencil. Menurut dia, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari dedikasi para pelaksana di lapangan.
Kegiatan bertema 500 Billion Meals Challenge: Building Indonesia's Future Generations Through Nutrition – An Inspiring Session tersebut dihadiri kepala SPPG, ahli gizi, pengawas, relawan, juru masak, pengemudi, hingga mitra MBG. Di hadapan peserta, Prabowo secara khusus menyampaikan terima kasih kepada para petugas yang menjalankan tugas di wilayah dengan akses dan kondisi geografis yang menantang. Menurut Prabowo, para pelaksana MBG merupakan ujung tombak program pemenuhan gizi nasional. Mereka setiap hari memastikan makanan bergizi dapat diterima anak-anak Indonesia, termasuk di wilayah pelosok. (idr/oni)
Editor : Pratama Karamoy