Pembacaan Alkitab: 1 Yohanes 2:22–27
Tema: Kasih dan Kebenaran
"Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak." (1 Yohanes 2:22)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab: bagaimana kita menyatakan kasih tanpa kehilangan kebenaran? Apakah mengasihi berarti kita harus selalu setuju dengan semua hal? Apakah demi menjaga perasaan orang lain kita boleh membiarkan sesuatu yang salah?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting dalam kehidupan masa kini. Banyak orang memahami kasih hanya sebagai sikap menerima, menyenangkan, dan tidak menyinggung siapa pun. Tentu sikap menghargai dan menjaga perasaan orang lain adalah hal yang baik. Namun, kasih yang sejati tidak sama dengan membiarkan seseorang berjalan menuju kesalahan tanpa peringatan.
Ada sebuah ilustrasi tentang sebuah diskusi mengenai hubungan antara kasih dan kebenaran. Dalam diskusi tersebut, seseorang mengatakan bahwa kebohongan kecil dapat dibenarkan demi menjaga perasaan orang lain. Misalnya, ketika seseorang melihat saudaranya memakai pakaian yang kurang pantas, apakah lebih baik berkata jujur atau diam saja agar tidak menyakiti hatinya?
Jawaban yang diberikan adalah bahwa kasih yang sejati tidak dibangun di atas kebohongan. Kebenaran tetap harus disampaikan, tetapi dengan cara yang penuh kasih dan bijaksana. Kita tidak dipanggil untuk menghina atau merendahkan orang lain, tetapi kita juga tidak dipanggil untuk membiarkan kesalahan hanya karena takut menimbulkan ketidaknyamanan.
Inilah ketegangan yang juga kita temukan dalam surat Rasul Yohanes. Yohanes dikenal sebagai rasul kasih. Ia sering berbicara tentang kasih Allah dan panggilan orang percaya untuk saling mengasihi. Namun dalam pembacaan hari ini, kita menemukan perkataan Yohanes yang sangat tegas. Ia menyebut orang yang menyangkal Kristus sebagai pendusta dan antikristus.
Mengapa seorang rasul kasih menggunakan bahasa yang begitu keras? Apakah Yohanes sedang mengajarkan jemaat untuk membenci orang yang berbeda pandangan? Tentu tidak.
Yohanes bukan sedang mengajarkan kebencian terhadap pribadi seseorang. Ia sedang memberikan peringatan pastoral terhadap ajaran yang dapat menghancurkan iman jemaat. Kasih kepada manusia tidak berarti kita harus diam terhadap sesuatu yang merusak hubungan manusia dengan Allah. Kasih yang sejati selalu peduli terhadap kebenaran.
Saudara-saudara, Pada masa Yohanes, jemaat sedang menghadapi persoalan serius. Ada kelompok yang sebelumnya menjadi bagian dari persekutuan orang percaya, tetapi kemudian memisahkan diri karena memiliki pemahaman yang berbeda tentang Yesus Kristus.
Kelompok ini dipengaruhi oleh pemikiran proto-gnostisisme dan doketisme yang menyangkal bahwa Yesus benar-benar datang sebagai manusia. Mereka memisahkan antara yang rohani dan yang jasmani, sehingga menganggap bahwa kemanusiaan Yesus, penderitaan-Nya, dan kematian-Nya di kayu salib bukan sesuatu yang benar-benar terjadi.
Bagi Yohanes, persoalan ini bukan sekadar perbedaan pendapat biasa. Ini menyentuh inti iman Kristen.
Jika Yesus bukan benar-benar manusia, maka karya penebusan Allah melalui salib menjadi kehilangan maknanya. Jika Yesus bukan Kristus yang datang dari Allah, maka manusia kehilangan dasar keselamatan.
Karena itu Yohanes berkata, "Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus?"
Bagi Yohanes, pengakuan tentang siapa Yesus adalah hal yang mendasar. Iman Kristen tidak hanya berbicara tentang percaya kepada keberadaan Allah secara umum. Iman Kristen berpusat pada pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah, Sang Juruselamat.
Saudara-saudara, Dari sini kita belajar bahwa kasih dan kebenaran tidak dapat dipisahkan. Kasih tanpa kebenaran dapat berubah menjadi sikap membiarkan. Kita mungkin terlihat baik karena tidak pernah menegur, tetapi sebenarnya kita tidak peduli terhadap dampak yang terjadi.
Sebaliknya, kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kekerasan. Kita mungkin menyampaikan sesuatu yang benar, tetapi dengan cara yang melukai, merendahkan, dan membuat orang menjauh.
Kristus menunjukkan keseimbangan yang sempurna. Ia penuh kasih kepada orang berdosa, tetapi Ia juga tidak pernah berkompromi dengan dosa. Ia menerima orang yang tersesat, tetapi Ia juga memanggil mereka untuk bertobat.
Ketika perempuan yang kedapatan berzina dibawa kepada Yesus, Ia tidak menghukum dengan kebencian. Tetapi Ia juga tidak berkata bahwa perbuatannya tidak masalah. Yesus mengampuni dan sekaligus memanggilnya untuk meninggalkan dosa.
Itulah kasih yang sejati. Kasih berkata, "Engkau berharga di mata Allah," tetapi kasih juga berkata, "Ada jalan hidup yang perlu diperbaiki sesuai kehendak Allah."
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Yohanes kemudian mengingatkan jemaat bahwa mereka memiliki pengurapan dari Yang Kudus. Pengurapan ini menunjuk kepada karya Roh Kudus yang menolong orang percaya memahami kebenaran Allah.
Artinya, dalam menghadapi berbagai ajaran, pendapat, dan pengaruh dunia, kita tidak berjalan tanpa tuntunan. Roh Kudus menolong kita memiliki kepekaan untuk membedakan mana yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan mana yang menyesatkan.
Namun kepekaan rohani juga membutuhkan tanggung jawab. Kita dipanggil untuk terus belajar firman Tuhan, berdoa, dan hidup dalam persekutuan yang benar. Sebab kebenaran bukan sekadar informasi yang kita miliki, tetapi kehidupan yang kita hidupi.
Saudara-saudara, Dalam kehidupan gereja dan pelayanan, tema ini menjadi sangat penting. Kadang-kadang kita takut menyampaikan kebenaran karena khawatir dianggap tidak mengasihi. Kita memilih diam terhadap ketidakadilan, kebohongan, atau penyimpangan karena ingin menjaga kenyamanan.
Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa menyampaikan kebenaran dengan kasih adalah bagian dari panggilan iman.
Para nabi dalam Perjanjian Lama sering kali harus menyampaikan teguran kepada umat Allah. Mereka tidak melakukannya karena membenci umat, tetapi karena mengasihi dan ingin umat kembali kepada jalan Tuhan.
Demikian pula gereja dipanggil untuk menghadirkan suara kenabian di tengah dunia. Gereja tidak hanya dipanggil berbicara tentang hal-hal besar seperti konflik antarbangsa, peperangan, dan ketidakadilan global. Gereja juga dipanggil peka terhadap persoalan nyata di sekitar kita: kekerasan, penindasan, ketidakjujuran, dan tindakan yang merendahkan martabat manusia.
Keberanian menyuarakan kebenaran memang memiliki harga. Kadang kita akan mengalami penolakan. Kadang kita dianggap menghakimi. Namun salib Kristus mengajarkan bahwa kesetiaan kepada kebenaran membutuhkan keberanian dan pengorbanan.
Tentu keberanian itu harus selalu disertai kasih dan kerendahan hati. Tujuan kita bukan memenangkan perdebatan, tetapi membawa pemulihan.
Saudara-saudara yang terkasih, Pembacaan hari ini mengajak kita memeriksa kembali cara kita memahami kasih. Apakah kasih kita hanya berarti membuat orang nyaman? Ataukah kasih kita sungguh-sungguh menginginkan kebaikan dan keselamatan orang lain?
Kasih yang berasal dari Allah tidak takut kepada kebenaran. Sebaliknya, kasih Allah membawa manusia kepada kebenaran yang membebaskan. Marilah kita menjadi umat yang mampu memegang keduanya: kasih dan kebenaran.
Kasih tanpa kehilangan prinsip. Kebenaran tanpa kehilangan kelembutan. Ketegasan tanpa kehilangan belas kasih. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Melalui perkataan yang bijaksana dan tindakan yang penuh kasih, kiranya orang lain dapat melihat bahwa kebenaran Allah bukanlah sesuatu yang menghancurkan, melainkan sesuatu yang menyelamatkan.
Sebab kasih yang sejati selalu membawa manusia semakin dekat kepada Kristus, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Amin.
Doa : Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajarkan kami hidup dalam kasih dan kebenaran. Berikan kami hikmat untuk menyampaikan kebenaran dengan rendah hati, keberanian untuk membela yang benar, dan hati yang tetap mengasihi sesama. Tuntun kami menjadi saksi Kristus setiap hari. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow