Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Tradisi Grebeg Besar Solo hingga Ngejot di Bali Warnai Perayaan Idul Adha

Pratama Karamoy • Kamis, 28 Mei 2026 | 13:33 WIB
KHUSYUK: Umat Islam di Desa Jrakah, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, melaksanakan salat Idul Adha dengan latar belakang Gunung Merapi kemarin (27/5). (ALOYSIUS JAROT NUGROHO/ANTARA FOTO)
KHUSYUK: Umat Islam di Desa Jrakah, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, melaksanakan salat Idul Adha dengan latar belakang Gunung Merapi kemarin (27/5). (ALOYSIUS JAROT NUGROHO/ANTARA FOTO)

 

BOYOLALI - Kemeriahan warga menyambut Idul Adha terlihat di berbagai daerah. Momen tersebut digunakan masyarakat untuk beribadah, mengikuti proses ritual, hingga membagikan daging kurban yang sarat pesan toleransi. Di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Desa Jrakah, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, ratusan umat Islam mulai memadati lokasi tempat salat Idul Adha, kemarin (27/5). Warga menggelar ibadah dengan latar belakang Gunung Merapi. Pelaksanaan salat berjalan lancar. Kegiatan tersebut digunakan warga untuk menguatkan nilai kebersamaan, spiritual, dan rasa syukur di tengah alam pegunungan Boyolali.

Gunungan Surakarta

Bergeser ke Solo, ribuan orang tumplek blek di pelataran Masjid Agung hingga depan Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Mereka bersiap mengikuti prosesi adat tahunan yaitu Grebeg Besar Idul Adha, sebuah ritual berebut gunungan hasil bumi.

Animo pengunjung cukup tinggi. Mereka tidak hanya dari Solo, beberapa di antaranya sengaja datang dari luar kota. Salah satunya adalah Surati, warga asal Klaten. "Saya datang langsung ke Solo hanya untuk lihat dan ikut acara ini," ujarnya.

Pihak keraton menyiapkan sepasang Gunungan Kembar. Gunungan pertama berisi berbagai hasil bumi mentah, mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hingga sayuran segar. Sementara, gunungan lainnya berisi jajanan pasar siap santap seperti wajik, jadah, dan aneka kue tradisional. Sebelum diarak, gunungan didoakan terlebih dahulu.

Takmir Masjid Agung Surakarta menjelaskan, dua gunungan tersebut dikategorikan sebagai Gunungan Jaler (laki-laki) dan Gunungan Estri (perempuan). Keduanya merepresentasikan doa dan pembagian peran dalam kehidupan.

"Gunungan Jaler yang berisi hasil bumi mentah memiliki makna bahwa seorang laki-laki atau suami harus bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya. Sementara Gunungan Estri yang berisi makanan siap santap melambangkan peran seorang istri yang harus bisa mengolah bahan pangan dengan baik untuk anak dan keluarga," terangnya.

Baca Juga: Kementerian Haji dan Umrah: Larang KBIHU Kapling Tenda Wukuf di Arafah

Toleransi di Pulau Dewata

Semarak Idul Adha juga terlihat di Bali. Panitia kurban dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Bali didampingi Pecalang atau satuan pengamanan desa adat Bali berkeliling membagikan daging kurban kepada warga saat menggelar tradisi Ngejot di Denpasar, Bali, kemarin. Tradisi itu rutin dilakukan setiap Idul Adha. Itu adalah wujud mempererat kebersamaan dan menjaga toleransi. (ves/wan/idr/aph)

Editor : Pratama Karamoy
#idul adha #Nasional