Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Geger! Kebijakan AI Meta Izinkan Interaksi Romantis dengan Anak, Senator AS Marah Besar

ALengkong • Jumat, 15 Agustus 2025 | 19:09 WIB

Skandal Meta terungkap chatbot AI diperbolehkan bercakap romantis dengan anak memicu kemarahan publik dan desakan regulasi. (Foto: Anthony Quintano)
Skandal Meta terungkap chatbot AI diperbolehkan bercakap romantis dengan anak memicu kemarahan publik dan desakan regulasi. (Foto: Anthony Quintano)

Jagosatu.com - Dunia teknologi geger setelah dokumen internal Meta yang bocor mengungkap aturan mengejutkan terkait chatbot AI mereka.

Dokumen yang berjudul Content Risk Standards itu memuat kebijakan yang memperbolehkan chatbot AI melakukan percakapan bernuansa romantis atau menggoda dengan anak-anak.

Menurut laporan Reuters, chatbot bahkan diperbolehkan mengucapkan kalimat seperti "every inch of you is a masterpiece — a treasure I cherish deeply" kepada anak berusia delapan tahun.

The Verge menambahkan bahwa meski tidak boleh menggambarkan adegan seksual eksplisit untuk anak di bawah 13 tahun, chatbot diizinkan menyebut anak sebagai sosok yang “menarik” secara romantis.

Meta mengakui dokumen tersebut asli, namun mengklaim bahwa kebijakan yang bocor itu adalah “erroneous and inconsistent” atau salah dan tidak sesuai dengan aturan resmi mereka.

Setelah berita ini ramai di media, Meta segera menghapus dan memperbarui bagian yang bermasalah dari dokumen internalnya.

Senator Josh Hawley dari Partai Republik mengecam keras dan menyebut Meta hanya bertindak setelah tertangkap basah.

Ia juga menyerukan penyelidikan penuh oleh Kongres untuk memastikan kasus seperti ini tidak terulang.

Senator Marsha Blackburn mendesak agar RUU Kids Online Safety Act (KOSA) segera disahkan demi melindungi anak-anak di dunia digital.

Baca Juga: Antibiotik Baru Buatan AI di MIT: Senjata Rahasia Lawan Superbug yang Bikin Dunia Ketar-Ketir

Senator Ron Wyden dari Partai Demokrat mengatakan bahwa Section 230 seharusnya tidak melindungi chatbot AI dari tanggung jawab hukum.

Sementara Senator Peter Welch menegaskan pentingnya regulasi AI yang lebih ketat agar anak-anak tidak menjadi korban teknologi.

Kontroversi ini semakin memanas setelah laporan terpisah dari Reuters mengungkap tragedi seorang pria lansia berusia 76 tahun.

Pria tersebut meninggal setelah memutuskan untuk menemui “Big sis Billie”, chatbot Meta yang ia kira adalah manusia sungguhan.

Sebelumnya, chatbot itu mengundangnya untuk bertemu di New York, yang membuatnya percaya bahwa hubungan mereka nyata.

Kejadian ini menunjukkan bahwa AI yang terlalu realistis bisa memengaruhi emosi manusia hingga membahayakan nyawa.

Pakar keamanan digital menilai kasus ini adalah peringatan bahwa AI bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal etika dan dampak psikologis.

Meta kini berada di bawah sorotan tajam publik, politisi, dan regulator dari berbagai pihak.

Banyak yang menuntut agar perusahaan besar seperti Meta memiliki standar keamanan AI yang jauh lebih ketat.

Kasus ini sekaligus membangkitkan kembali perdebatan global soal batasan interaksi antara manusia dan AI.

Perlindungan anak di dunia digital kini menjadi prioritas utama yang harus segera diatasi oleh semua pihak terkait.

Jika regulasi AI tidak diperkuat, dikhawatirkan kasus seperti ini akan terulang di masa depan.

(KT)

Editor : ALengkong
#Meta #AI #chatbot #SkandalTeknologi #PerlindunganAnak #BeritaTeknologi