Jagosatu.com - Google baru saja merilis teknologi AI generasi terbaru bernama Veo 3 yang bikin heboh dunia kreator digital.
Veo 3 adalah model AI yang bisa bikin video dari teks secara langsung atau yang biasa disebut text-to-video.
Bedanya dari generasi sebelumnya, Veo 3 juga bisa menghasilkan audio seperti dialog, musik, dan efek suara secara otomatis.
Dilansir dari DeepMind, Veo 3 mengerti instruksi sinematik seperti “close-up”, “slow motion”, sampai “over-the-shoulder shot”.
Artinya, pengguna bisa ngatur kamera seperti main game, bahkan real-time saat proses pembuatan video.
Menurut Google, fitur ini bikin proses kreatif terasa seperti mengarahkan film di dunia virtual.
Tidak cuma itu, Veo 3 punya kualitas visual yang sinematik, lengkap dengan pencahayaan, tekstur, dan detail yang realistis.
Sistemnya bahkan bisa bikin sinkronisasi bibir karakter (lip-sync) yang sangat presisi.
Karakter dalam video juga bisa tetap konsisten di setiap adegan, jadi nggak berubah-ubah wajah atau pakaiannya.
Menurut laporan Times of India, Veo 3 bisa bikin video resolusi tinggi hingga durasi 8 detik dalam sekali proses.
Durasi ini memang masih terbatas, tapi kualitasnya sudah cukup untuk iklan, teaser, atau cuplikan film pendek.
Pengguna bisa mengakses Veo 3 lewat aplikasi Gemini, platform Flow, atau layanan Vertex AI untuk perusahaan.
Google juga merilis versi Veo 3 Fast, yang lebih cepat dan lebih murah untuk prototyping.
Harga untuk paket premium AI Ultra disebut mencapai sekitar 250 dolar AS per bulan.
Kalau dihitung, biayanya sekitar 0,75 dolar AS per detik video yang dihasilkan.
Sejak peluncurannya di Google I/O 2025, jutaan video sudah dibuat dengan Veo 3 oleh kreator di seluruh dunia.
Tentu saja, teknologi ini juga memunculkan kekhawatiran soal penyalahgunaan untuk membuat deepfake.
Google mengantisipasi hal ini dengan sistem watermark digital bernama SynthID dan moderasi konten.
Meski begitu, para kreator dan pembuat film menyambut Veo 3 dengan antusias karena bisa menghemat waktu produksi.
Banyak yang bilang, teknologi ini membuka pintu baru bagi industri kreatif masa depan.
Jika teknologi ini terus berkembang, bukan nggak mungkin kita bisa bikin film full 2 jam hanya dari mengetikkan ide.
Dengan kontrol kamera layaknya game, rasanya masa depan sinema interaktif sudah semakin dekat.
(db)
Editor : Toar Rotulung