Jagosatu.com - Tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) baru saja mengumumkan terobosan besar di bidang kesehatan.
Mereka berhasil menemukan dua jenis antibiotik baru yang mampu melawan bakteri berbahaya yang selama ini sulit ditaklukkan.
Antibiotik ini dikembangkan menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang bekerja jauh lebih cepat daripada metode biasa.
Menurut laporan MIT, AI mereka mampu menyaring jutaan senyawa kimia dalam waktu hanya beberapa hari untuk mencari kandidat antibiotik.
Baca Juga: Elon Musk Kejutkan Dunia Teknologi, Proyek AI Rp Triliunan Dihentikan!
Proses ini jauh berbeda dengan metode tradisional yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun untuk menemukan obat baru.
Salah satu bakteri yang berhasil dikalahkan oleh antibiotik baru ini adalah Methicillin-resistant Staphylococcus aureus atau MRSA.
MRSA dikenal sebagai salah satu superbug, yaitu bakteri yang kebal terhadap banyak jenis antibiotik yang sudah ada.
Selain MRSA, antibiotik ini juga efektif melawan bakteri penyebab gonore yang mulai kebal terhadap obat generasi lama.
Menurut The Times, penemuan ini disebut sebagai awal dari “masa keemasan kedua” penemuan antibiotik.
Disebut begitu karena dunia sempat mengalami penurunan besar dalam penemuan antibiotik baru sejak akhir abad ke-20.
AI yang digunakan MIT bekerja dengan prinsip machine learning, di mana sistem belajar dari data untuk memprediksi molekul yang berpotensi jadi obat.
Dilansir dari MIT News, algoritma ini tidak hanya memilih senyawa yang paling ampuh, tetapi juga memprediksi risiko efek sampingnya.
Tim peneliti bahkan sudah melakukan uji laboratorium terhadap bakteri berbahaya dengan hasil yang sangat positif.
Hasil awal menunjukkan bahwa bakteri sulit mengembangkan resistansi terhadap antibiotik baru ini dalam waktu singkat.
Jika ini terbukti di uji klinis, berarti antibiotik tersebut bisa bertahan lebih lama digunakan sebelum bakteri menjadi kebal.
Kecepatan AI dalam menemukan obat ini sangat membantu karena krisis resistansi antibiotik terus meningkat di seluruh dunia.
Banyak pakar kesehatan khawatir jika tidak ada antibiotik baru, infeksi ringan pun bisa kembali mematikan seperti di zaman dulu.
Proyek ini diharapkan menjadi model baru dalam riset obat, memadukan teknologi canggih dengan ilmu kedokteran.
Para peneliti optimis bahwa dalam beberapa tahun ke depan, AI akan menjadi alat utama dalam melawan penyakit infeksi.
Meski begitu, uji klinis tetap perlu dilakukan agar obat benar-benar aman digunakan manusia.
Penemuan ini memberi harapan baru di tengah kekhawatiran global akan ancaman superbug yang terus berkembang.
(J)
Editor : ALengkong