Pembacaan Alkitab: Filipi 3:17-19
Tema: SIAPA YANG KAMU FOLLOW?
“Kita adalah apa/siapa yang kita ikuti dan teladani.”
Saudara-saudara muda yang dikasihi Tuhan, kita hidup di zaman yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Hari-hari ini, hidup kita tidak pernah lepas dari yang namanya “follow” dan “follower.”
Dalam satu sentuhan jari, kita bisa mengikuti kehidupan seseorang—apa yang mereka makan, pakai, katakan, bahkan bagaimana mereka berpikir.
Dunia digital telah menciptakan begitu banyak figur yang memengaruhi hidup kita, yang kita kenal sebagai influencer atau content creator.
Tanpa kita sadari, apa yang kita lihat setiap hari perlahan membentuk cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak. Kita mulai meniru gaya berpakaian, cara berbicara, bahkan nilai hidup dari orang-orang yang kita follow.
Inilah kenyataan yang tidak bisa kita hindari: apa yang kita konsumsi secara terus-menerus akan membentuk siapa kita.
Karena itu, pertanyaan penting yang harus kita jawab dengan jujur adalah: siapa yang kamu follow?
Dalam Filipi 3:17, Rasul Paulus berkata, “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladan bagimu.” Pernyataan ini mungkin terdengar berani, bahkan bisa disalahpahami sebagai kesombongan. Tetapi sebenarnya, Paulus tidak sedang meninggikan dirinya sendiri. Ia sedang menunjukkan bahwa hidupnya berpusat pada Kristus, dan karena itu ia berani berkata: jika kamu mengikuti aku, kamu sedang berjalan menuju Kristus.
Keteladanan yang dimaksud Paulus bukanlah kesempurnaan manusia, melainkan kesetiaan kepada Kristus. Paulus ingin jemaat Filipi memiliki arah yang jelas dalam hidup mereka, yaitu mengikuti orang-orang yang hidupnya mencerminkan Kristus.
Namun Paulus juga memberikan peringatan keras dalam ayat 18-19. Ia berkata bahwa banyak orang hidup sebagai “seteru salib Kristus.” Mereka bukan hanya orang di luar iman, tetapi bisa juga orang yang tampak dekat dengan Tuhan, tetapi hidupnya tidak mencerminkan Kristus.
Ciri-ciri mereka sangat jelas:
- “Tuhan mereka ialah perut mereka” — hidup mereka dikendalikan oleh hawa nafsu dan keinginan diri.
- “Kemuliaan mereka ialah aib mereka” — mereka bangga akan hal-hal yang sebenarnya memalukan di hadapan Tuhan.
- “Pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” — hidup mereka hanya fokus pada hal-hal sementara.
Bukankah ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini?
Banyak konten yang kita konsumsi justru mendorong kita untuk:
- Mengejar popularitas daripada karakter
- Mengejar validasi daripada kebenaran
- Mengejar kesenangan daripada kekudusan
Tanpa kita sadari, kita bisa terjebak dalam pola hidup yang sama. Kita mulai hidup untuk “likes,” komentar, dan pengakuan. Kita merasa gelisah ketika tidak mengikuti tren terbaru. Kita takut ketinggalan—itulah yang disebut FOMO (fear of missing out).
GPers yang dikasihi Tuhan, FOMO bukan sekadar istilah modern, tetapi bisa menjadi pintu masuk bagi kita untuk menjauh dari Tuhan. Ketika kita lebih takut ketinggalan tren daripada ketinggalan hadirat Tuhan, ada sesuatu yang perlu kita perbaiki.
Pertanyaannya sekarang: apakah yang kita follow membawa kita semakin dekat kepada Kristus, atau justru menjauhkan kita dari-Nya?
Tidak semua yang populer itu benar. Tidak semua yang viral itu bernilai. Tidak semua yang menarik itu membangun.
Sebagai anak muda Kristen, kita dipanggil untuk memiliki discerning spirit—kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang tidak, mana yang membangun dan mana yang merusak.
Mengikuti seseorang bukan hanya soal menekan tombol “follow,” tetapi soal memberi ruang dalam hidup kita untuk dipengaruhi oleh orang tersebut.
Karena itu, kita harus bijak memilih siapa yang kita izinkan memengaruhi hidup kita.
Lalu, siapa yang seharusnya kita follow?
Pertama, follow Kristus.
Yesus adalah teladan utama kita. Hidup-Nya penuh kasih, kebenaran, kerendahan hati, dan ketaatan kepada Bapa. Jika kita ingin hidup yang benar, maka arah kita harus jelas: menjadi serupa dengan Kristus.
Kedua, follow orang-orang yang hidupnya mencerminkan Kristus.
Seperti yang Paulus katakan, perhatikanlah mereka yang hidup benar. Cari mentor rohani, pembina, atau teman yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, bukan menjauh.
Ketiga, follow nilai Kerajaan Allah.
Nilai seperti kasih, kesetiaan, integritas, kerendahan hati, dan kekudusan harus menjadi dasar hidup kita. Jangan biarkan nilai dunia menggantikan nilai Tuhan.
GPers, kita tidak bisa menghindari dunia digital, tetapi kita bisa menentukan bagaimana kita hidup di dalamnya. Kita bisa tetap aktif, kreatif, bahkan menjadi influencer, tetapi dengan satu tujuan: memuliakan Tuhan.
Jika kamu seorang content creator, tanyakan ini:
Apakah kontenmu membawa orang lebih dekat kepada Tuhan, atau justru menjauh?
Jika kamu seorang penikmat konten, tanyakan ini:
Apakah yang aku tonton membangun imanku, atau merusaknya?
Ingatlah bahwa hidup kita bukan sekadar tentang apa yang kita lihat, tetapi tentang siapa yang kita ikuti.
Dunia mungkin menawarkan banyak hal yang menarik, tetapi semuanya bersifat sementara. Paulus dengan tegas berkata bahwa akhir dari hidup yang berpusat pada dunia adalah kebinasaan. Sebaliknya, hidup yang berpusat pada Kristus membawa kita kepada kehidupan yang kekal.
Hari ini, Tuhan mengajak kita untuk mengevaluasi hidup kita.
- Siapa yang selama ini kamu follow?
- Siapa yang paling memengaruhi cara berpikirmu?
- Apa yang paling kamu kejar dalam hidup ini?
Jika jawabannya bukan Kristus, maka hari ini adalah waktu yang tepat untuk mengubah arah.
Jangan takut untuk unfollow hal-hal yang tidak membangun. Jangan ragu untuk meninggalkan kebiasaan yang menjauhkanmu dari Tuhan. Mungkin itu tidak mudah, tetapi itu perlu.
Karena pada akhirnya, hidup kita akan mencerminkan siapa yang kita ikuti.
Kiranya setiap kita boleh berkata seperti Paulus:
“Hidupku berpusat pada Kristus.”
Dan ketika orang lain melihat hidup kita, mereka tidak hanya melihat siapa yang kita follow, tetapi mereka melihat Kristus di dalam kita.
Siapa yang kamu follow? Biarlah jawabannya hari ini dan seterusnya adalah: Yesus Kristus. Amin.
Doa : Tuhan Yesus, terima kasih untuk firman-Mu hari ini. Tolong kami memilih teladan yang benar dan mengikuti Engkau dengan setia. Jauhkan kami dari pengaruh yang menjauhkan dari-Mu. Bentuk hati kami agar serupa dengan Kristus. Pakailah hidup kami menjadi berkat bagi sesama. Dalam nama Yesus kami berdoa, Amin.
Editor : Alfianne Lumantow