Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Imlek dan Ramadan Beriringan, Cerminan Keseharian Pontianak Merawat Keberagaman

Pratama Karamoy • 2026-02-16 14:31:17
ribuan lampion menghiasi ruas Jalan Sutoyo, Pontianak, Kalbar
ribuan lampion menghiasi ruas Jalan Sutoyo, Pontianak, Kalbar

BAGI Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, Imlek dan Ramadan yang beriringan tahun ini merepresentasikan wajah keseharian kota yang telah lama terbiasa merawat keberagaman dalam kehidupan sehari-hari. 

"Kami ingin menunjukkan bahwa Pontianak tetap menjadi kota toleran, di mana perayaan keagamaan dan budaya dapat berlangsung berdampingan dengan penuh rasa saling menghormati," katanya kepada Pontianak Post.

Perayaan Imlek di ibu kota Kalimantan Barat tahun ini dimeriahkan ribuan lampion yang menghiasi ruas jalan dan diselingi ornamen Ramadhan seperti ketupat. Pesta kembang api tetap dipusatkan di Jalan Gajah Mada sesuai tradisi selama ini.

"Imlek identik dengan awal musim semi dan harapan akan kesehatan, keberuntungan, serta kesejahteraan di tahun yang baru. Harapan ini untuk seluruh masyarakat Pontianak," ujar Wakil Ketua Umum Damkar Panca Bhakti Jupri Syukur.

Damkar Panca Bhakti juga menggelar Festival Lampion dengan memasang ribuan lampion di sepanjang jalan raya serta membuka photo booth di depan posko damkar tersebut. Acara juga dimeriahkan atraksi replika naga kecil yang dimainkan sejumlah remaja serta kembang api di Posko Damkar Panca Bhakti di Jalan Soeprapto, Pontianak.

 

Baca Juga: Menu MBG Selama Ramadan: Telur Asin, Dendeng Kering, Abon, hingga Kurma

 

Karnaval Dipersingkat

Sementara itu, panitia Cap Go Meh Kota Pontianak menyiapkan 49 replika naga, dengan naga terpanjang mencapai 108 meter. Semuanya akan diarak mengelilingi kota setelah prosesi pembukaan mata naga di kelenteng.

Untuk menjaga ketertiban, durasi karnaval naga tahun ini dipersingkat dan hanya menampilkan atraksi di depan panggung utama. Koordinasi dilakukan bersama Forkopimda dan aparat keamanan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa mengganggu aktivitas ibadah Ramadan.

Edi menilai bahwa perayaan Imlek dan Ramadan yang beriringan justru memperlihatkan kedewasaan sosial warga Pontianak. "Di satu sisi masyarakat Tionghoa tetap menjalankan tradisinya, sementara umat Muslim menyambut Ramadan dengan kegiatan keagamaan. Semuanya berlangsung dalam ruang kota yang sama dan saling menghormati," tuturnya.

Selain nilai kebudayaan, perayaan ini juga membawa dampak ekonomi. Warga Tionghoa dari luar Kalimantan Barat diperkirakan datang ke Pontianak dan Singkawang. Kawasan kuliner, termasuk festival kuliner di Jalan Diponegoro, diprediksi ramai dikunjungi.

 

Warga Kota Khatulistiwa juga merespons positif. Ibrahim, warga Pontianak Timur, menyebut bahwa meskipun bulan puasa bertepatan dengan perayaan Imlek, suasana kota tetap kondusif dan nyaman bagi umat masing-masing yang merayakan.

"Kami tetap bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang. Justru dengan adanya perayaan Imlek, kami semakin belajar saling menghormati dan menjaga toleransi," tuturnya.

Hal senada disampaikan Tjhang Sau Khiu, warga keturunan Tionghoa yang merayakan Imlek bersama keluarga. Ia mengaku senang karena perayaan Imlek tetap berlangsung khidmat tanpa mengurangi rasa hormat kepada umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.

"Kami merasa dihargai karena tradisi Imlek tetap bisa dirayakan. Di sisi lain, kami juga ikut menjaga agar perayaan tidak mengganggu ibadah Ramadan," imbuhnya. (*/iza/ttg/jawa pos)

Editor : Pratama Karamoy
#Nasional #Imlek