Bacaan Alkitab: Kejadian 41:50-52
Tema: Dari Penderitaan Menuju Kelimpahan
"Allah telah membuat aku lupa sama sekali akan kesukaranku dan rumah ayahku." (Kejadian 41:51)
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang bahagia, damai, sehat, dan penuh berkat. Tidak ada seorang pun yang bangun pada pagi hari lalu berdoa agar mengalami penderitaan.
Sebaliknya, kita semua berharap dijauhkan dari kesulitan, kegagalan, kehilangan, maupun air mata. Hal itu sangat manusiawi, sebab penderitaan sering kali membuat kita merasa lemah, putus asa, bahkan mempertanyakan kasih Tuhan.
Namun kenyataannya, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan kita. Ada saat ketika kita harus menghadapi penyakit, kehilangan orang yang kita kasihi, kegagalan dalam pekerjaan, persoalan ekonomi, konflik dalam keluarga, atau berbagai pergumulan lainnya. Pada saat-saat seperti itu muncul pertanyaan, "Tuhan, mengapa semua ini terjadi?" atau "Apakah Tuhan masih menyertai hidupku?"
Firman Tuhan hari ini mengajak kita belajar dari kehidupan Yusuf, seorang tokoh yang mengalami perjalanan hidup yang penuh penderitaan, tetapi akhirnya menikmati kelimpahan yang berasal dari Tuhan.
Jika kita melihat perjalanan hidup Yusuf, kita akan menemukan bahwa ia bukanlah orang yang hidup tanpa masalah. Bahkan sejak muda ia mengalami begitu banyak penderitaan. Ia dibenci oleh saudara-saudaranya karena kasih khusus ayahnya dan karena mimpi yang Tuhan berikan kepadanya.
Kebencian itu berkembang menjadi pengkhianatan. Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya sendiri. Bayangkan betapa hancur hati seorang anak muda ketika dikhianati oleh keluarganya sendiri.
Penderitaannya tidak berhenti di situ. Di Mesir, ketika ia bekerja dengan jujur di rumah Potifar, ia justru difitnah oleh istri Potifar dan akhirnya dipenjara. Padahal Yusuf tidak melakukan kesalahan. Bahkan di dalam penjara pun, setelah membantu juru minuman Firaun menafsirkan mimpi, Yusuf dilupakan begitu saja.
Dari sudut pandang manusia, hidup Yusuf tampak penuh kegagalan dan ketidakadilan. Namun sesungguhnya Tuhan tidak pernah meninggalkan Yusuf. Di balik setiap penderitaan, Tuhan sedang membentuk karakter, iman, kesabaran, dan integritas Yusuf untuk mempersiapkannya menjadi pemimpin besar di Mesir.
Saudara-saudara, Sering kali kita hanya melihat penderitaan sebagai hukuman atau tanda bahwa Tuhan tidak lagi mengasihi kita. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan dapat memakai penderitaan sebagai proses pembentukan. Seperti emas yang harus dimurnikan melalui api, demikian pula iman kita sering kali dimurnikan melalui berbagai ujian kehidupan.
Puncak perubahan hidup Yusuf terjadi ketika Tuhan memberi hikmat kepadanya untuk menafsirkan mimpi Firaun. Dalam waktu yang singkat, Yusuf diangkat menjadi penguasa kedua setelah Firaun. Dari seorang budak dan narapidana, ia menjadi pemimpin yang menyelamatkan Mesir dan banyak bangsa dari bencana kelaparan.
Tetapi menariknya, keberhasilan Yusuf tidak membuatnya sombong ataupun dipenuhi keinginan membalas dendam. Sebaliknya, ia mengakui bahwa semua yang terjadi adalah karya Allah. Hal itu tampak ketika dua anaknya lahir.
Anak pertama diberi nama Manasye, yang berarti, "Allah telah membuat aku lupa akan segala kesukaranku dan rumah ayahku."
Kata "lupa" di sini bukan berarti Yusuf kehilangan ingatan tentang masa lalunya. Yusuf tentu masih mengingat apa yang dilakukan saudara-saudaranya. Namun Allah telah menyembuhkan luka hatinya sehingga kenangan pahit itu tidak lagi menguasai hidupnya. Luka itu tidak lagi menjadi sumber kepahitan ataupun kebencian.
Inilah salah satu mujizat terbesar dalam kehidupan orang percaya. Tuhan bukan hanya sanggup mengubah keadaan, tetapi juga sanggup menyembuhkan hati yang terluka. Ada orang yang hidup berkecukupan tetapi masih menyimpan dendam selama puluhan tahun. Ada pula yang secara ekonomi telah berhasil, tetapi tetap hidup dalam kepahitan karena tidak pernah berdamai dengan masa lalunya.
Firman Tuhan mengajarkan bahwa kesembuhan sejati terjadi ketika kita menyerahkan luka-luka itu kepada Tuhan dan mengizinkan kasih-Nya memulihkan hati kita.
Kemudian anak kedua diberi nama Efraim, yang berarti, "Allah membuat aku berbuah di tanah kesengsaraanku."
Nama ini sangat indah. Yusuf tidak berkata bahwa ia berbuah setelah keluar dari Mesir atau setelah meninggalkan tempat penderitaannya. Ia berkata bahwa Tuhan membuatnya berbuah justru di negeri kesengsaraan.
Ini adalah pelajaran iman yang sangat penting. Sering kali kita berpikir bahwa kita baru dapat bersukacita jika semua masalah selesai. Kita berpikir bahwa kita baru bisa berhasil kalau keadaan sudah sempurna. Namun Tuhan menunjukkan melalui Yusuf bahwa Ia mampu menghadirkan kelimpahan di tengah situasi yang sulit.
Bukankah banyak orang percaya yang mengalami hal seperti ini? Ada yang justru semakin mengenal Tuhan ketika sedang sakit. Ada yang menjadi lebih dewasa setelah mengalami kegagalan. Ada keluarga yang semakin erat karena melewati masa-masa sulit bersama. Bahkan banyak kesaksian menunjukkan bahwa usaha, pelayanan, atau panggilan hidup seseorang justru bertumbuh setelah melewati masa penderitaan.
Artinya, Tuhan tidak selalu mengangkat kita keluar dari kesulitan seketika, tetapi sering kali Tuhan menumbuhkan kita di dalam kesulitan itu hingga kita menghasilkan buah yang memuliakan nama-Nya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kehidupan Yusuf mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah gagal menggenapi rancangan-Nya. Apa yang tampak sebagai kemalangan di mata manusia ternyata menjadi jalan menuju penggenapan janji Allah.
Seandainya Yusuf tidak dijual ke Mesir, mungkin ia tidak pernah menjadi penguasa. Seandainya ia tidak dipenjara, mungkin ia tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang akhirnya membawanya ke hadapan Firaun. Apa yang tampaknya merupakan jalan buntu ternyata menjadi bagian dari rencana Allah yang jauh lebih besar.
Demikian pula dalam kehidupan kita. Bisa jadi hari ini kita sedang berada dalam "penjara" persoalan, "sumur" kekecewaan, atau "tanah asing" yang tidak pernah kita inginkan. Kita mungkin belum memahami alasan Tuhan mengizinkan semuanya terjadi. Namun iman mengajarkan kita bahwa Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita belum melihat hasilnya.
Karena itu jangan biarkan penderitaan membuat kita menjauh dari Tuhan. Sebaliknya, jadikan setiap pergumulan sebagai kesempatan untuk semakin percaya kepada-Nya. Jangan pelihara kepahitan, sebab kepahitan hanya akan mengikat hati kita. Belajarlah mengampuni seperti Yusuf mengampuni saudara-saudaranya. Belajarlah percaya bahwa waktu Tuhan selalu yang terbaik.
Pada akhirnya, kisah Yusuf mengajarkan bahwa tujuan Allah bukan sekadar membuat kita berhasil secara materi. Kelimpahan yang Tuhan berikan mencakup hati yang dipulihkan, iman yang semakin dewasa, damai sejahtera yang melampaui segala akal, serta hidup yang menjadi berkat bagi banyak orang. Yusuf tidak hanya menikmati kelimpahan, tetapi melalui hidupnya banyak orang diselamatkan dari kelaparan. Itulah buah dari kehidupan yang dipimpin oleh Tuhan.
Saudara-saudara, Apakah hari ini kita sedang menghadapi penderitaan? Jangan kehilangan pengharapan. Allah yang menyertai Yusuf adalah Allah yang sama yang menyertai kita hari ini. Ia sanggup mengubah air mata menjadi sukacita, mengubah luka menjadi kesaksian, mengubah kegagalan menjadi kemenangan, dan mengubah penderitaan menjadi jalan menuju kelimpahan.
Mari memandang setiap peristiwa hidup—baik yang manis maupun yang pahit—dalam terang kasih dan pemeliharaan Allah. Percayalah, tidak ada satu pun pengalaman hidup yang sia-sia di tangan Tuhan. Selama kita tetap setia berjalan bersama-Nya, Tuhan akan membawa kita dari penderitaan menuju pemulihan, dari pemulihan menuju kelimpahan, dan dari kelimpahan menjadi berkat bagi sesama.
Kiranya kita semua memiliki iman seperti Yusuf, yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan dan mampu berkata, "Allah telah membuat aku lupa akan kesukaranku," serta "Allah telah membuat aku berbuah di negeri kesengsaraanku." Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang menguatkan kami. Tolonglah kami tetap percaya kepada-Mu di tengah penderitaan, sebab Engkau sanggup mengubah setiap air mata menjadi sukacita dan setiap pergumulan menjadi berkat. Tuntun langkah kami agar hidup setia dan berbuah bagi kemuliaan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow