Pembacaan Alkitab: Kejadian 45:1–7
Tema: Pengampunan Membuka Pintu Masa Depan
"Sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri karena kamu telah menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu." (Kejadian 45:5)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Tidak ada manusia yang tidak pernah terluka. Luka bisa datang dari orang yang tidak kita kenal, tetapi sering kali luka yang paling dalam justru datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita.
Luka karena pengkhianatan sahabat, perkataan pasangan hidup, sikap anak kepada orang tua, pertengkaran antarsaudara, bahkan konflik di dalam persekutuan dan pelayanan. Luka-luka seperti itu tidak mudah dilupakan. Tidak sedikit orang yang memilih menyimpan dendam selama bertahun-tahun karena merasa tidak sanggup mengampuni.
Namun firman Tuhan hari ini memperlihatkan kepada kita sebuah kisah yang sangat indah tentang kuasa pengampunan. Kisah Yusuf adalah kisah tentang seorang yang mengalami penderitaan yang panjang, tetapi tidak membiarkan kepahitan menguasai hidupnya.
Ketika Yusuf masih muda, ia dibenci oleh saudara-saudaranya. Kebencian itu semakin besar hingga mereka menjual Yusuf sebagai budak ke Mesir. Bukan hanya kehilangan keluarga, Yusuf juga mengalami fitnah, dipenjara tanpa kesalahan, dan menjalani hidup yang penuh penderitaan. Jika dipikir secara manusiawi, Yusuf memiliki banyak alasan untuk membalas dendam ketika akhirnya ia menjadi penguasa di Mesir.
Tetapi saat saudara-saudaranya berdiri di hadapannya, sesuatu yang luar biasa terjadi. Yusuf tidak mampu lagi menahan emosinya. Ia menangis dengan suara yang begitu keras sehingga terdengar sampai ke istana Firaun. Tangisan Yusuf bukanlah tangisan kelemahan. Itu adalah tangisan seorang yang selama bertahun-tahun membawa luka, tetapi akhirnya memilih melepaskannya di hadapan Tuhan. Air mata itu menjadi tanda bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian.
Yang lebih mengagumkan lagi adalah perkataan Yusuf kepada saudara-saudaranya, "Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri." Kalimat ini menunjukkan bahwa Yusuf bukan hanya mengampuni, tetapi juga berusaha memulihkan hati saudara-saudaranya yang dipenuhi rasa bersalah.
Yusuf tidak berkata, "Sekarang giliran kalian merasakan penderitaan." Ia juga tidak mengungkit semua kejahatan yang pernah dilakukan terhadap dirinya. Sebaliknya, ia menghibur mereka. Inilah hati yang telah dipulihkan oleh Tuhan.
Saudara-saudara, Mengampuni bukan berarti menyatakan bahwa kesalahan itu tidak pernah terjadi. Yusuf tidak pernah berkata bahwa tindakan saudara-saudaranya adalah benar. Menjual seseorang sebagai budak tetaplah sebuah kejahatan. Namun Yusuf memilih melihat sesuatu yang lebih besar daripada kejahatan manusia. Ia melihat tangan Allah yang bekerja di balik seluruh peristiwa hidupnya.
Yusuf berkata, "Allah menyuruh aku mendahului kamu untuk memelihara kehidupan."
Inilah iman yang dewasa. Orang yang dewasa secara rohani tidak hanya melihat apa yang dilakukan manusia, tetapi juga melihat apa yang sedang Allah kerjakan melalui setiap peristiwa kehidupan.
Sering kali kita bertanya, "Mengapa Tuhan mengizinkan saya mengalami penderitaan?" Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang langsung kita mengerti. Namun kisah Yusuf mengajarkan bahwa Allah sanggup mengubah pengalaman yang paling menyakitkan menjadi jalan menuju berkat yang lebih besar.
Apa yang dimaksudkan manusia untuk menghancurkan Yusuf, justru dipakai Allah untuk menyelamatkan banyak orang dari kelaparan. Allah tidak menciptakan kejahatan, tetapi Ia sanggup memakai bahkan peristiwa yang buruk untuk menggenapi rencana-Nya yang baik.
Karena itu, pengampunan bukan hanya membebaskan orang yang bersalah. Pengampunan juga membebaskan hati kita sendiri. Selama seseorang menyimpan dendam, sesungguhnya ia sedang menjadi tawanan masa lalunya. Setiap kali mengingat peristiwa itu, luka kembali terbuka. Sukacita hilang. Damai sejahtera lenyap.
Sebaliknya, ketika seseorang memilih mengampuni, ia sedang membuka pintu menuju masa depan yang baru. Pengampunan memutus rantai kebencian yang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tema renungan hari ini mengatakan, "Pengampunan Membuka Pintu Masa Depan." Kalimat ini sangat benar.
Bayangkan jika Yusuf memilih balas dendam. Saudara-saudaranya mungkin akan dihukum mati. Keluarga Yakub akan hancur. Bangsa Israel mungkin tidak akan bertahan menghadapi masa kelaparan. Tetapi karena Yusuf memilih mengampuni, keluarga itu dipulihkan dan masa depan bangsa Allah tetap terpelihara.
Hal yang sama berlaku dalam kehidupan kita. Berapa banyak keluarga yang kehilangan sukacita karena tidak ada yang mau meminta maaf dan tidak ada yang mau mengampuni? Berapa banyak suami dan istri hidup serumah tetapi saling menyimpan luka?
Berapa banyak hubungan antara orang tua dan anak menjadi renggang karena ego yang dipelihara? Bahkan di dalam pelayanan gereja, terkadang ada pelayan Tuhan yang tidak lagi saling menyapa karena konflik yang tidak pernah diselesaikan.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk belajar dari Yusuf. Allah sanggup memulihkan hubungan yang telah rusak. Memang prosesnya tidak selalu cepat. Kadang diperlukan waktu yang panjang. Kadang melalui penderitaan, air mata, dan pergumulan yang berat. Tetapi Tuhan tidak pernah berhenti bekerja untuk mendamaikan anak-anak-Nya.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan menjadi pembalas kejahatan, melainkan menjadi pembawa damai. Pengampunan memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kita mampu mengampuni karena terlebih dahulu kita telah menerima pengampunan dari Allah melalui kasih-Nya yang begitu besar kepada kita.
Ketika kita mengingat betapa besar pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita, hati kita akan dikuatkan untuk mengampuni sesama. Pengampunan bukan berarti melupakan semuanya dalam sekejap, tetapi memilih untuk tidak lagi dikuasai oleh kebencian. Pengampunan adalah keputusan iman untuk menyerahkan hak membalas kepada Tuhan dan memberi ruang bagi Allah bekerja memulihkan segala sesuatu.
Saudara-saudara yang terkasih, Mungkin hari ini Tuhan sedang mengingatkan kita kepada seseorang yang selama ini sulit kita ampuni. Bisa jadi itu pasangan hidup, orang tua, anak, saudara kandung, rekan kerja, tetangga, atau bahkan sesama pelayan di gereja. Firman Tuhan mengundang kita untuk mengambil langkah pertama menuju pemulihan.
Kita tidak dapat mengubah masa lalu. Luka yang pernah terjadi memang tidak bisa dihapus. Tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita menjalani masa depan. Apakah kita akan terus membawa beban kepahitan, ataukah kita memilih membuka pintu masa depan melalui pengampunan?
Yusuf telah memberikan teladan yang luar biasa. Ia tidak membiarkan masa lalu menentukan masa depannya. Ia memilih percaya kepada penyelenggaraan Allah, mengampuni orang yang telah menyakitinya, dan menjadi alat Tuhan untuk menyelamatkan banyak kehidupan.
Kiranya kita pun memiliki hati seperti Yusuf. Hati yang percaya bahwa Allah tetap bekerja di tengah penderitaan. Hati yang rela mengampuni meskipun pernah disakiti. Dan hati yang bersedia menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan damai sejahtera di dalam keluarga, gereja, tempat kerja, dan masyarakat.
Sebab ketika pengampunan hadir, hubungan dipulihkan. Ketika hubungan dipulihkan, kasih kembali bertumbuh. Dan ketika kasih bertumbuh, Allah membuka jalan menuju masa depan yang penuh pengharapan. Amin.
Doa : Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami memiliki hati yang rela mengampuni seperti Yusuf, agar kami tidak dikuasai kepahitan, tetapi hidup dalam kasih dan damai sejahtera. Pulihkan setiap hubungan yang retak, tuntun langkah kami menjalani masa depan sesuai kehendak-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow