Pembacaan Alkitab: 1 Yohanes 1:5–7
TEMA : TERANG BERCAHAYA DALAM HIDUP KITA
"Jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, kita mempunyai persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa." (1 Yohanes 1:7)
Salam sejahtera bagi kita semua. Saudara-saudara pemuda yang dikasihi Tuhan, pernahkah kita berada di dalam sebuah ruangan yang benar-benar gelap? Lampu mati, tidak ada cahaya sedikit pun.
Dalam keadaan seperti itu, kita akan kesulitan melihat jalan. Kita tidak tahu apa yang ada di depan kita. Bisa saja kita menabrak kursi, tersandung, atau bahkan merasa takut karena tidak tahu apa yang sedang berada di sekitar kita.
Namun, bayangkan jika tiba-tiba ada sebuah lampu yang menyala. Seketika ruangan yang tadinya gelap menjadi terang. Semua benda terlihat jelas. Kita tahu ke mana harus melangkah dan rasa takut pun perlahan hilang. Terang mengubah suasana. Terang memberikan arah. Terang membuat kita dapat melihat dengan benar.
Gambaran sederhana ini dipakai oleh Rasul Yohanes untuk menjelaskan siapa Allah. Dalam ayat 5 dikatakan, "Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan."
Artinya, Allah adalah Pribadi yang kudus, benar, suci, dan penuh kasih. Tidak ada dosa, tipu daya, maupun kejahatan di dalam diri-Nya. Terang Allah menyingkapkan segala sesuatu. Tidak ada satu pun yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Pikiran kita, perkataan kita, bahkan hal-hal yang tidak diketahui oleh orang lain, semuanya diketahui oleh Tuhan.
Pertanyaannya bagi kita sebagai pemuda Kristen adalah: Apakah kita sudah hidup di dalam terang Allah?
Di zaman sekarang, menjadi pemuda Kristen bukanlah sesuatu yang mudah. Kita hidup di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak hal. Melalui media sosial, internet, dan lingkungan pergaulan, kita bisa dengan mudah menemukan hal-hal yang membangun, tetapi juga hal-hal yang dapat menjauhkan kita dari Tuhan.
Sering kali pencobaan itu datang dalam bentuk yang sederhana. Misalnya, kita tergoda untuk berbohong kepada orang tua supaya diizinkan pergi bersama teman. Kita menyontek saat ujian karena takut mendapat nilai jelek. Kita ikut bergosip atau membully teman agar dianggap keren. Kita mengakses konten-konten yang tidak membangun kehidupan rohani karena rasa penasaran. Bahkan terkadang kita lebih banyak menghabiskan waktu bermain game atau media sosial daripada membaca firman Tuhan atau berdoa.
Semua itu adalah contoh bagaimana seseorang perlahan-lahan memilih hidup dalam kegelapan. Kegelapan sering kali terlihat menyenangkan pada awalnya, tetapi akhirnya membawa penyesalan.
Sebaliknya, hidup di dalam terang berarti berani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Hidup dalam terang bukan berarti kita sudah sempurna dan tidak pernah berbuat salah. Tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi hidup dalam terang berarti kita mau mengakui kesalahan, bertobat, dan terus membiarkan Tuhan membentuk hidup kita menjadi lebih baik setiap hari.
Ayat 7 mengatakan, "Jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang..." Perhatikan bahwa firman Tuhan menggunakan kata "hidup". Artinya, hidup dalam terang bukan hanya dilakukan saat berada di gereja atau ketika mengikuti ibadah pemuda. Hidup dalam terang adalah gaya hidup setiap hari.
Ketika berada di rumah, kita tetap menghormati orang tua. Di sekolah atau kampus, kita berlaku jujur. Dalam pergaulan, kita memilih teman yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan. Di media sosial, kita berhati-hati dengan apa yang kita lihat, apa yang kita bagikan, dan apa yang kita komentari.
Hari ini banyak orang ingin terlihat baik di media sosial, tetapi kehidupan nyata mereka berbeda. Foto bisa diedit, status bisa dibuat seolah-olah bahagia, tetapi Tuhan melihat isi hati kita yang sebenarnya. Tuhan tidak melihat pencitraan. Tuhan melihat kehidupan yang nyata.
Karena itu, pemuda Kristen dipanggil bukan hanya untuk tampak baik di depan orang lain, tetapi sungguh-sungguh hidup dalam terang Tuhan.
Lalu, bagaimana caranya agar kita tetap hidup dalam terang?
Pertama, tetap membangun hubungan dengan Tuhan.
Hubungan dengan Tuhan tidak cukup hanya pada hari Minggu atau saat ibadah pemuda. Kita perlu menyediakan waktu setiap hari untuk berdoa, membaca Alkitab, dan merenungkan firman-Nya.
Sama seperti telepon genggam yang harus diisi dayanya setiap hari, demikian juga kehidupan rohani kita harus terus "diisi" melalui persekutuan dengan Tuhan. Tanpa hubungan yang dekat dengan Tuhan, kita akan mudah dikalahkan oleh godaan dunia.
Kedua, pilihlah lingkungan pergaulan yang baik.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Teman memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan kita. Jika kita terus berada dalam lingkungan yang mengajak kepada dosa, lama-kelamaan kita akan ikut terbawa. Sebaliknya, jika kita memiliki teman-teman yang saling menguatkan dalam iman, kita akan semakin bertumbuh.
Karena itu, jangan malas mengikuti ibadah Gerakan Pemuda, kelompok pemahaman Alkitab, atau kegiatan pelayanan di gereja. Di sanalah kita belajar bertumbuh bersama, saling mengingatkan, dan saling mendoakan.
Ketiga, bijaksana menggunakan media sosial.
Media sosial adalah alat. Alat itu bisa dipakai untuk hal yang baik maupun yang buruk. Pertanyaannya adalah, apakah media sosial mengendalikan kita, atau kita yang mengendalikannya?
Sebelum membuka sebuah konten, bertanyalah kepada diri sendiri: "Apakah ini membangun iman saya? Apakah ini menyenangkan hati Tuhan?" Jika jawabannya tidak, maka kita harus berani menolaknya. Tidak semua yang viral layak untuk ditonton. Tidak semua yang populer sesuai dengan kehendak Tuhan.
Keempat, mintalah hikmat Tuhan melalui Roh Kudus.
Kadang-kadang kita menghadapi situasi yang sulit. Kita bingung menentukan pilihan. Kita takut berbeda dari teman-teman kita. Dalam keadaan seperti itu, jangan mengandalkan kekuatan sendiri.
Mintalah hikmat kepada Tuhan. Roh Kudus akan menolong kita membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Roh Kudus juga memberikan keberanian untuk tetap berdiri di pihak yang benar meskipun tidak populer.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus sendiri berkata bahwa kita adalah terang dunia. Artinya, kehidupan kita seharusnya membawa pengaruh yang baik bagi orang lain. Di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di rumah, bahkan di media sosial, orang lain seharusnya dapat melihat kasih Kristus melalui sikap dan perkataan kita.
Terang tidak perlu berteriak untuk mengusir gelap. Terang cukup hadir, maka kegelapan akan pergi. Demikian pula hidup kita. Ketika kita hidup jujur, rendah hati, penuh kasih, suka menolong, dan menjaga kekudusan, kita sedang memancarkan terang Kristus kepada dunia.
Mungkin kita pernah jatuh dalam dosa. Mungkin kita pernah kecewa terhadap diri sendiri. Namun kabar baik dari ayat 7 adalah bahwa darah Yesus Kristus menyucikan kita dari segala dosa. Tuhan tidak menolak orang yang datang kepada-Nya dengan hati yang bertobat. Kasih karunia Tuhan selalu tersedia bagi setiap orang yang mau kembali kepada-Nya.
Karena itu, marilah kita sebagai generasi muda Kristen terus berjuang hidup dalam terang Allah. Jadilah pemuda yang berani berkata benar, berani menolak dosa, bijaksana menggunakan teknologi, setia beribadah, rajin membaca firman Tuhan, dan terus mengandalkan Roh Kudus dalam setiap langkah kehidupan.
Kiranya melalui kehidupan kita, banyak orang dapat melihat terang Kristus dan memuliakan nama Tuhan. Tuhan memberkati kita semua. Soli Deo Gloria. Amin.
Doa : Bapa di surga, terima kasih atas firman-Mu yang telah kami dengar. Tolong kami agar hidup di dalam terang-Mu, menjauhi dosa, dan setia mengikuti kehendak-Mu. Pimpin setiap langkah pemuda-pemudi-Mu dengan hikmat Roh Kudus, sehingga hidup kami memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow