Sabda Bina Umat, Renungan Pagi, Senin, 27 Juli 2026, 1 Yohanes 2:1-6  Mengaku Aku Mengenal

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 10:58 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: 1 Yohanes 2:1–6
Tema: Mengaku-Aku Mengenal

"Siapa yang berkata, 'Aku mengenal Dia,' tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran." (1 Yohanes 2:4)

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup pada zaman ketika informasi tentang seseorang sangat mudah diperoleh. Melalui media sosial, televisi, atau internet, kita dapat mengetahui kehidupan seorang tokoh, artis, atlet, atau pemimpin dunia.

Kita mengenal nama mereka, mengetahui kebiasaan mereka, bahkan mungkin hafal perjalanan hidup mereka. Namun, apakah semua itu berarti kita benar-benar mengenal mereka? Tentu tidak.

Ada sebuah ilustrasi tentang seorang pemuda yang sangat mengidolakan Lisa, anggota grup BLACKPINK. Ia rela mengeluarkan banyak uang untuk menghadiri konser, membeli berbagai barang yang berkaitan dengan idolanya, dan mengikuti semua berita tentang dirinya. Bahkan kepada teman-temannya ia berkata dengan penuh keyakinan, "Aku sudah seperti kenal dekat dengan Lisa. Suatu hari nanti aku akan menikah dengannya."

Pernyataan itu terdengar lucu, tetapi menggambarkan sebuah fenomena yang nyata pada zaman sekarang. Seseorang dapat merasa sangat dekat dengan tokoh yang sebenarnya tidak mengenalnya sama sekali. Pete Ward, dalam bukunya Celebrity Worship, menjelaskan bahwa media dapat menciptakan ilusi kedekatan. Kita merasa mengenal seseorang hanya karena sering melihat dan mendengar tentang dirinya, padahal hubungan itu hanya terjadi dari satu arah.

Fenomena seperti ini ternyata juga dapat terjadi dalam kehidupan rohani. Banyak orang berkata bahwa mereka mengenal Tuhan, tetapi pengenalan itu berhenti pada pengetahuan, perasaan, atau pengakuan di bibir. Mereka mengenal nama Yesus, mengetahui kisah-kisah Alkitab, bahkan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan. Namun kehidupan sehari-hari tidak menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh hidup bersama Kristus.

Karena itulah Rasul Yohanes menulis dengan sangat tegas, "Siapa yang berkata, 'Aku mengenal Dia,' tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran."

Perkataan Yohanes ini terasa keras, tetapi justru karena ia mengasihi jemaat. Ia ingin mereka memahami bahwa iman yang sejati tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang taat kepada Allah.

Pada masa itu, gereja sedang menghadapi pengaruh ajaran proto-gnostisisme. Kelompok ini menganggap bahwa keselamatan hanya bergantung pada pengetahuan rohani. Mereka merasa bahwa setelah memperoleh pengetahuan tertentu tentang Allah, kehidupan moral tidak lagi menjadi penting. Dengan kata lain, seseorang dapat mengaku mengenal Tuhan tetapi tetap hidup dalam dosa.

Yohanes menolak keras pandangan seperti itu. Dalam bahasa Yunani, kata ginosko yang diterjemahkan "mengenal" tidak sekadar berarti mengetahui informasi tentang seseorang. Kata ini menunjuk pada hubungan yang akrab, nyata, dan terus dihidupi.

Sebagai contoh, seorang anak mengenal orang tuanya bukan hanya karena mengetahui nama mereka, tetapi karena hidup bersama mereka setiap hari. Ada komunikasi, kasih, kepercayaan, dan ketaatan di dalam hubungan itu.

Demikian pula mengenal Kristus berarti hidup dalam hubungan yang nyata dengan-Nya. Hubungan itu tampak melalui kehidupan yang diubah, hati yang diperbarui, dan keinginan untuk melakukan kehendak-Nya.

Saudara-saudara, Sering kali kita mengukur iman hanya dari apa yang kita ketahui. Kita bangga karena hafal banyak ayat Alkitab, rajin mengikuti ibadah, atau aktif dalam pelayanan. Semua itu memang baik. Namun Yohanes mengingatkan bahwa semua itu belum cukup jika tidak disertai ketaatan.

Ukuran pengenalan kepada Kristus bukanlah seberapa banyak kita mengetahui tentang Dia, tetapi seberapa jauh kita hidup menurut firman-Nya.

Yesus sendiri pernah berkata, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." Kasih kepada Tuhan selalu dinyatakan melalui ketaatan. Ketaatan bukanlah usaha untuk mendapatkan kasih Allah. Sebaliknya, ketaatan adalah respons syukur atas kasih Allah yang telah lebih dahulu kita terima.

Seorang anak yang mengasihi orang tuanya akan berusaha menaati nasihat mereka, bukan karena takut dihukum semata, tetapi karena ia menghargai kasih yang telah diberikan kepadanya.

Demikian juga kehidupan orang percaya. Kita menaati firman Tuhan bukan karena ingin memperoleh keselamatan dengan usaha sendiri, melainkan karena kita telah diselamatkan oleh kasih karunia melalui Yesus Kristus.

Saudara-saudara, Di zaman sekarang muncul istilah yang cukup populer, yaitu "spiritual tetapi tidak religius." Maksudnya, seseorang mengaku percaya kepada Tuhan atau memiliki kehidupan rohani, tetapi tidak merasa perlu terlibat dalam kehidupan bergereja, beribadah, melayani, ataupun menjalankan nilai-nilai firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada yang berkata, "Yang penting saya percaya Tuhan, tidak perlu ke gereja." Ada pula yang berkata, "Saya orang baik, jadi tidak masalah kalau sesekali berbohong atau tidak jujur dalam pekerjaan."

Ada pula yang merasa cukup dengan berdoa sesekali, tetapi mengabaikan kasih kepada sesama, tidak menghormati orang tua, atau berlaku tidak adil kepada orang lain. Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa iman seperti itu belum menunjukkan pengenalan yang sejati kepada Allah.

Mengaku mengenal Tuhan tetapi hidup bertentangan dengan kehendak-Nya adalah sebuah kontradiksi. Yohanes bahkan menyebut orang seperti itu sebagai pendusta. Kata yang dipakai adalah pseustes, yaitu seseorang yang mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Ini bukan berarti Yohanes sedang menghakimi orang lain. Ia sedang mengajak setiap orang percaya untuk memeriksa dirinya sendiri. Apakah hidup kita benar-benar mencerminkan Kristus? Apakah keputusan-keputusan yang kita ambil setiap hari menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan atas hidup kita?

Saudara-saudara, Ayat 5 dan 6 memberikan gambaran yang indah tentang kehidupan orang yang sungguh mengenal Tuhan. Yohanes berkata bahwa barangsiapa menuruti firman Tuhan, di dalam dirinya kasih Allah menjadi sempurna.

Kasih Allah yang sempurna bukan berarti kita menjadi manusia yang tanpa dosa, tetapi kasih Allah terus membentuk hidup kita sehingga semakin serupa dengan Kristus.

Lalu Yohanes menambahkan, "Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." Inilah ukuran pengenalan yang sejati. Bukan sekadar berbicara tentang Kristus, tetapi hidup seperti Kristus.

Dalam tradisi gereja, hal ini dikenal dengan istilah imitatio Christi, yaitu meneladani kehidupan Kristus. Bagaimana Kristus hidup? Ia rendah hati. Ia mengasihi tanpa pilih kasih. Ia mengampuni orang yang bersalah. Ia taat kepada kehendak Bapa sampai akhir. Ia jujur, adil, penuh belas kasihan, dan rela berkorban.

Itulah kehidupan yang dipanggil untuk kita hidupi. Tentu kita tidak akan langsung sempurna. Menjadi serupa dengan Kristus adalah proses seumur hidup. Namun setiap hari Roh Kudus bekerja membentuk kita agar semakin menyerupai Dia.

Saudara-saudara yang terkasih, Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah selama ini saya hanya mengetahui tentang Yesus, atau sungguh-sungguh hidup bersama-Nya? Apakah iman saya hanya tampak pada hari Minggu, atau juga terlihat ketika saya bekerja, belajar, menjalankan usaha, dan hidup bersama keluarga?

Apakah orang lain dapat melihat karakter Kristus melalui perkataan dan tindakan saya? Tuhan tidak mencari pengikut yang hanya pandai berbicara tentang iman. Tuhan mencari murid-murid yang hidup sesuai dengan firman-Nya. Dunia saat ini membutuhkan lebih banyak teladan daripada sekadar kata-kata.

Keluarga membutuhkan ayah, ibu, dan anak yang hidup dalam kasih Kristus. Tempat kerja membutuhkan orang percaya yang jujur dan dapat dipercaya. Gereja membutuhkan pelayan yang rendah hati dan setia. Masyarakat membutuhkan orang-orang yang menjadi terang dan garam di tengah kehidupan.

Semua itu hanya mungkin terjadi jika kita sungguh-sungguh mengenal Kristus dalam hubungan yang hidup setiap hari.

Saudara-saudara, Marilah kita tidak berhenti pada pengakuan di bibir bahwa kita mengenal Tuhan. Marilah kita mengenal Dia melalui doa yang tekun, pembacaan firman yang setia, kehidupan ibadah yang sungguh-sungguh, serta ketaatan yang nyata dalam setiap aspek kehidupan.

Kiranya setiap orang yang melihat hidup kita dapat melihat pantulan kasih, kebenaran, dan kerendahan hati Kristus. Sebab pengenalan yang sejati kepada Tuhan selalu menghasilkan kehidupan yang berubah.

Dan kehidupan yang berubah itulah kesaksian yang paling kuat bagi dunia bahwa Kristus benar-benar hidup di dalam kita. Amin.

Doa : Bapa Surgawi, kami bersyukur atas firman-Mu. Mampukan kami bukan hanya mengaku mengenal Engkau, tetapi juga hidup dalam ketaatan kepada kehendak-Mu. Bentuklah karakter kami agar semakin serupa dengan Kristus, sehingga melalui perkataan dan perbuatan kami, nama-Mu dimuliakan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin

Editor : Alfianne Lumantow
GPIB Renungan Harian SABDA BINA UMAT