Pembacaan Alkitab: 1 Yohanes 2:7–14
Tema: Lama Tetapi Baru
"Barangsiapa berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya." (1 Yohanes 2:9–11)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Salah satu hal yang sering kita saksikan dalam kehidupan saat ini adalah mudahnya manusia menunjukkan sikap membela sesuatu yang dianggap benar, tetapi pada saat yang sama kehilangan kasih kepada sesama. Hal ini semakin terlihat melalui perkembangan media sosial.
Ketika terjadi konflik, perbedaan pandangan, atau ketegangan antar kelompok, banyak orang dengan cepat memberikan komentar, pendapat, bahkan pembelaan. Namun yang menyedihkan, tidak jarang pembelaan tersebut disertai dengan kata-kata kasar, penghinaan, dan kebencian.
Ada sebuah ironi yang perlu kita renungkan: seseorang dapat berbicara tentang iman, tetapi perkataannya melukai orang lain. Seseorang dapat mengaku membela kebenaran, tetapi cara yang digunakan justru bertentangan dengan kasih Kristus.
Keadaan ini dapat digambarkan seperti seseorang yang memiliki senter yang terang, tetapi baterainya bocor. Senter itu mungkin terlihat bagus, tetapi tidak mampu memberikan cahaya karena sumber dayanya rusak. Demikian juga kehidupan iman. Kita mungkin memiliki banyak pengetahuan tentang Tuhan, aktif dalam kegiatan gereja, bahkan mampu berbicara tentang kebenaran, tetapi jika hati kita dipenuhi kebencian, maka terang Kristus tidak lagi terpancar melalui hidup kita.
Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 2:7–14 berbicara dengan sangat jelas tentang hubungan antara terang, kasih, dan kehidupan orang percaya. Rasul Yohanes mengingatkan jemaat bahwa iman kepada Kristus tidak dapat dipisahkan dari cara seseorang memperlakukan sesamanya.
Pada bagian sebelumnya, Yohanes berbicara tentang pentingnya ketaatan kepada Allah. Dalam bagian ini, ia menunjukkan salah satu bentuk nyata dari ketaatan tersebut, yaitu hidup dalam kasih.
Yohanes memulai dengan berkata, "Saudara-saudaraku yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya."
Perintah yang dimaksud adalah perintah untuk saling mengasihi. Mengapa Yohanes menyebutnya sebagai perintah lama? Karena kasih bukan sesuatu yang baru muncul dalam kehidupan orang percaya. Sejak awal Allah telah menyatakan kehendak-Nya agar manusia hidup dalam kasih.
Namun Yohanes juga berkata bahwa perintah ini adalah perintah baru. Mengapa? Karena di dalam Kristus, kasih itu mendapatkan makna yang baru. Kasih bukan lagi sekadar prinsip moral atau aturan kehidupan bersama. Kasih telah dinyatakan secara nyata melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus.
Yesus tidak hanya mengajarkan kasih, tetapi Ia sendiri menjadi teladan kasih yang sempurna. Ia mengasihi orang yang tidak layak dikasihi. Ia mengampuni orang yang menyakiti-Nya. Bahkan ketika berada di kayu salib, Ia masih berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya.
Karena itu, kasih yang diperintahkan kepada orang percaya bukanlah kasih yang berdasarkan perasaan semata. Kasih Kristen adalah kasih yang berakar pada tindakan Allah kepada manusia.
Saudara-saudara, Pada zaman Yohanes, jemaat juga mengalami persoalan yang berkaitan dengan perpecahan. Ada kelompok tertentu yang memisahkan diri dari jemaat karena merasa memiliki pengetahuan rohani yang lebih tinggi. Mereka menganggap diri lebih memahami Allah dibandingkan orang lain.
Kelompok ini dikenal sebagai kelompok yang dipengaruhi oleh pemikiran gnostik. Mereka menekankan pengetahuan khusus tentang Allah, tetapi kehidupan mereka tidak menunjukkan kasih yang nyata.
Yohanes melihat bahwa masalah terbesar mereka bukan hanya perbedaan pemahaman, tetapi hilangnya kasih. Ketika seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain, ia mulai kehilangan kemampuan untuk melihat sesamanya sebagai saudara.
Superioritas rohani dapat menjadi pintu masuk bagi kesombongan dan perpecahan. Seseorang dapat merasa dirinya paling benar, paling suci, atau paling memahami kehendak Tuhan, tetapi jika semua itu membuatnya membenci dan merendahkan orang lain, maka ia sedang berjalan dalam kegelapan.
Itulah sebabnya Yohanes berkata, "Barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya."
Kegelapan yang dimaksud Yohanes bukan sekadar keadaan tanpa cahaya secara fisik. Ini adalah kondisi rohani ketika seseorang kehilangan arah hidup karena tidak lagi melihat segala sesuatu berdasarkan kasih Allah.
Teolog Rudolf Bultmann pernah menjelaskan tentang kebutaan eksistensial, yaitu keadaan ketika manusia kehilangan pemahaman tentang siapa dirinya dan ke mana arah hidupnya. Seseorang dapat memiliki banyak pengetahuan, tetapi tanpa hubungan yang benar dengan Allah, ia tetap kehilangan arah.
Demikian juga dengan kebencian. Kebencian seperti katarak rohani yang perlahan-lahan menghalangi seseorang melihat kehendak Allah. Orang yang dikuasai kebencian mulai melihat orang lain bukan sebagai sesama ciptaan Tuhan, tetapi sebagai musuh yang harus dikalahkan. Akibatnya, ia kehilangan kemampuan untuk mengasihi.
Saudara-saudara yang terkasih, Yohanes menyampaikan pesan ini kepada seluruh jemaat. Ia menyapa anak-anak, bapak-bapak, dan orang-orang muda. Ini menunjukkan bahwa panggilan untuk hidup dalam kasih berlaku bagi semua orang percaya, tanpa memandang usia atau tingkat kedewasaan iman.
Anak-anak dipanggil belajar mengasihi. Orang muda dipanggil menunjukkan kasih dalam semangat dan tindakan mereka. Bapak-bapak dan orang dewasa dipanggil menjadi teladan kasih bagi keluarga dan komunitas.
Tidak ada seorang pun yang terlalu muda atau terlalu tua untuk belajar mengasihi. Kasih adalah perjalanan iman seumur hidup.
Saudara-saudara, Hidup dalam terang berarti bersedia mengevaluasi hubungan kita dengan sesama. Kita tidak hanya bertanya, "Apakah saya sudah percaya kepada Tuhan?" tetapi juga, "Apakah kehidupan saya mencerminkan kasih Tuhan?"
Sebab iman tidak hanya terlihat dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbeda pendapat dengan kita? Bagaimana sikap kita kepada orang yang pernah menyakiti kita? Bagaimana cara kita berbicara tentang orang lain ketika mereka tidak ada bersama kita? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi cermin bagi kehidupan iman kita.
Kasih bukan berarti kita membenarkan semua tindakan orang lain. Kasih juga bukan berarti kita tidak boleh memiliki pendirian terhadap kebenaran. Namun kasih berarti kita tetap melihat orang lain sebagai pribadi yang dikasihi Allah.
Bahkan terhadap orang yang memusuhi kita, Kristus mengajarkan agar kita tidak membalas dengan kebencian, melainkan menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan tetap menunjukkan kasih.
Saudara-saudara, Tema hari ini adalah "Lama Tetapi Baru." Perintah kasih adalah perintah lama karena sejak dahulu Allah menghendaki umat-Nya hidup dalam kasih. Tetapi perintah itu menjadi baru karena Kristus telah menunjukkan bentuk kasih yang sempurna melalui hidup-Nya.
Kasih adalah inti iman Kristen yang tidak pernah kehilangan relevansinya. Dalam situasi apa pun, di tengah perubahan zaman, konflik, perbedaan, dan tantangan kehidupan, kasih tetap menjadi tanda bahwa kita hidup dalam terang Kristus.
Kiranya kita tidak menjadi orang yang hanya berbicara tentang terang, tetapi berjalan dalam terang. Kiranya kita tidak hanya mengaku mengenal Tuhan, tetapi menunjukkan pengenalan itu melalui kasih kepada sesama.
Sebab orang yang hidup dalam terang Kristus tidak akan membiarkan kebencian menguasai hatinya. Ia memilih mengampuni, membangun, dan menghadirkan damai. Biarlah dunia melihat Kristus melalui kehidupan kita. Karena kasih yang kita lakukan hari ini adalah kesaksian bahwa terang Allah masih bersinar di tengah dunia. Amin.
Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami untuk hidup dalam terang dan kasih. Mampukan kami meninggalkan kebencian, mengampuni sesama, dan menjadi teladan kasih Kristus. Bentuk hati kami agar selalu membawa damai di mana pun kami berada. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow